#50. The Result

1.1K 140 1
                                        

▪︎▪︎▪︎

Penghujung hari dari jadwal itu akhirnya benar-benar tiba. Hari kamis dari tanggal 31 Januari, pukul 10 setelah mereka mengemasi barang-barang pribadi dan milik bersama, mereka dikumpulkan dalam ruang tengah dimana Jennie sudah menghimbau dengan nada tegas sekaligus dinginnya. Tidak ada yang berani membantah lagi selain menaruh sekejap kepentingannya. Contohnya anak-anak yang tengah berdandan alhasil harus berhenti sekejap ketimbang kena semprot.

Joy dengan alis separuh. Jihyo bibir pucat. Dahyun dengan bulu mata badai sepotong. Rosè yang baru memasukan sebelah tangannya pada pdh himpunan-nya, termasuk Hyunsuk, Ningning, dan Somi yang buru-buru meninggalkan dunia game-nya. (Pagi-pagi udah mabar aja heran).

"Ada yang mau gue koreksi."

Tap!

Jennie menjatuhkan satu rangkap berkas yang dikliping biru. Dengan halaman depan yang amat jelas "GPMM Rekap Keuangan Sementara" yang amat khas tulisan rapi Dahyun.

Orang-orang yang berdatangan ke lingkaran itu praktis terhenyak. Bahkan Lisa yang baru saja keluar kamar harus ternganga di ambang pintu dan berakhir memandangi berkas itu bergilir dengan wajah Jennie.

"Maksudnya sampai minus 3juta tuh apa?" Jennie mengangkat sudut mulutnya lengkap bersama kilatan mata penuh marah.

Lehernya sampai berkelit-kelit hanya untuk memandangi satu per satu orang yang hadir di situ. Dua menit dia menatap Rosè tajam, kemudian bergilir pada Joy dan Dahyun.

"Nggak ada keterangan sama sekali akun bebannya apaan lagi, lo pikir kita ini darimana? Dari akuntansi woy! Lo pikir gue bakal diem dan pura-pura bego? 3juta uang siapa dan apa yang kalian keluarkan! Jawab gue!"

Disaat semua orang menunduk, Lisa kini melangkah sembari menghela napasnya. Baru saja akan meraih tangan Jennie, oknumnya itu sudah menghempas lebih dulu.

"Lo diem! Ini urusan gue!"

"Ini juga urusan gue! Wakahim lo siapa?!" Lisa menyamakan nada bentakan itu.

Sekeliling atmosfer itu refleks menjadi hening dan mencekam. Padahal suasana pagi di luar berkilau begitu biru dan cerah. Tapi nyaris di dalam rumah ini seperti malam hari. Hanya ada tatap padam dari kedua pemimpin himpunan itu.

"Kenapa? Lo keberatan sama wakahim lo ini yang ikut campur?" Lisa menambahkan.

Karena tak ada urusannya dengan Lisa, juga terlalu malas jika memperpanjangnya, Jennie kembali mengalihkan pandangnya pada yang lain. Amarah itu ia tujukan pada ketua pelaksana acara serta keuangan yang melingkup ini.

"Joy, Dahyun, jelasin sama gue!"

"Jen---"

"Jelasin!"

"Bisa santai nggak? Gausah marah-marah kayak gini." Lisa menghela napasnya di hadapan Jennie.

"Kalau emosi lo lagi nggak baik yaudah pergi, biar gue aja yang urus ini. Ketimbang lo marah-marah, bikin anggota lain takut, dan akhirnya malah nggak terpecahkan. Mereka butuh suasana yang tenang, bukan panas kayak gini!" Lisa masih tetap menatap tekun pada Jennie. Usaha untuk mengadukan ketajaman netranya biar Jennie yang mengalah.

Kini, Lisa yang mengambil alih perintah untuk membuat mereka terduduk rapi. Dia juga yang meraih laporan tersebut dan melihat tulisan tangan yang berantakan di dalam sana.

"Minus 3juta?" Lisa mendongak hanya untuk menemukan wajah panik mereka semua. Termasuk para adik tingkatnya. "Minus darimana, pakai uang siapa, dan kapan. Coba, pihak keuangan silahkan bicara."

Sekejap, sembari menunggu Joy dan Dahyun angkat suara, Lisa melirik Jennie yang akhirnya mau mengalah; ikut duduk di sisinya, menghadap ke arah pengurus inti.

Himpunan | Jenlisa✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang