#82. Seutas Kata Selamat

1.9K 189 101
                                        

"Bila, yang tertulis untukku,
Adalah yang terbaik untukmu,
Kan ku jadikan kau kenangan,
Yang terindah dalam hidupku."

▪︎▪︎▪︎

Pukul 11 malam lebih 15 menit, Seulgi beranjak dari tidurnya dengan langkah sempoyongan. Dengan sengaja ia mengambil satu gelas air untuk menegaknya sebab tiba-tiba sedari pagi dia merasa tubuhnya makin tak karuan, padahal kemarin-kemarin rasanya demam itu sudah menghilang.

Seluruh lampu ruangannya padam. Tidak ada lampu tidur maupun senter yang ia nyalakan. Mungkin, hanya seutas sinar rembulan yang muncul dari gorden yang sengaja Seulgi buka sedikit tadi pagi. Membiarkan cahaya dari teras dan keramaian di luar mengisi senyapnya yang mencekik ini.

Setelah menegak satu air dari hadapan dispenser, Seulgi kembali berbalik berniat mendudukan diri untuk merenung. Tapi, belum sempat duduk dia teralihkan dengan lembar kalender di dekat polaroid yang menggantung di sudut ruangan. Seulgi terpanah dengan coretan merah di salah satu tanggal. Dan baru ia sadari bahwa hari ini adalah tanggal 31 Desember. Pantas saja banyak suara petasan dan kembang api di luar sana.

Seolah ditabrakan ingatan, tapi Seulgi merasa--mengapa ia harus merindukan seseorang? Mengapa ia harus sebodoh ini untuk terus mengingatnya? Mengapa harus dia yang mengingat sendirian? Mengapa tidak bersama dengan pemeran sandingannya? Seulgi praktis bergeleng-geleng sembari memukul kepalanya sendiri.

Lupain Gi, lupain! Lu bukan siapa-siapanya lagi! Lu cuman mantan nya!

Berulang kali Seulgi mengatakan itu berharap dirinya bisa lebih baik, tapi kenyataan tak pernah sampai. Apalagi saat melihat polaroid itu, Seulgi langsung mencabutnya dan melemparnya ke sembarang arah.

Dia kembali ke kasur dan membanting dirinya dengan napas lelah. Sudah hampir 2 minggu dia mencoba pergi dan berlari dari kenyataan itu. Dia bahkan bukan satu-satunya yang terluka di antara para sahabatnya. Dia pikir, dia tidak perlu takut sebab akan ditemani. Nyatanya tidak, selalu ada ruang kosong yang akan datang dan bayang-bayang senyum manis Irene menghancurkannya.

"Lo pernah bilang sama gua, kalau lo pengen ditemenin kan? Gua temenin di hari itu." Rasanya, hati kecilnya seperti diiris perlahan untuk mengingat ucapan Lisa tempo hari.

Kenapa gua nggak bisa bilang, kalau gua yang akan nikahin dia, Lis? Kenapa? Bukannya, memang harusnya gua kan yang ada di sana?

"Gua temenin lo, Gi. Gua yang temenin lo. Nggak perlu gugup, ya?"

Seulgi memejamkan matanya kuat-kuat. Menutup kesadaran dan berharap ia kembali tertidur. Tapi, suatan air mata yang merembes dari sudut matanya malah berceceran tak menentu. Kuat-kuat ia meremas seprai kasur, berusaha menyalurkan segala gundah di sana.

Suara-suara kembang api semakin menit semakin ramai. Wilayah Bandung bila dilihat dari atas mungkin akan terlihat indah saat ini. Ledakan dan harum bakaran yang menyengat. Tetapi, yang dilakukan Seulgi adalah mengurung dirinya sendiri. Menangis dan terulang lagi dari sakit mencintai.

》》》》》▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎《《《《《

Mau sekuat apapun Seulgi menolak dan bermimpi bahwa esok hari akan tiada, dia juga harus melalui permasalahannya sendiri. Menghadapi dan melawannya bahwa hal itu adalah pola pendewasaan diri yang mungkin sedang semesta turunkan padanya.

Himpunan | Jenlisa✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang