“Tunggu dulu!” Alaric mencoba menahan Bella saat gadis itu hendak kembali ke kediaman Ben.
“Apa lagi?” tanya Bella, ia memutar tubuhnya menghadap Alaric.
“Kau terlalu menyepelekan ucapanku Bella. Mau sampai kapan kau begini? Kembalilah ke kastil, mereka yang ada di sana membutuhkanmu juga.”
Bella tertawa mengejek, “oh really? Sejak kapan mereka semua peduli denganku? Aku lebih cocok tinggal di sini!”
“Bersama dengan keluarga vampir itu? Kau pikir kau layak tinggal dengan mereka? Apa kau lupa siapa dirimu huh? Kau seorang-”
“Im not princess anymore! Jangan katakan apapun tentang siapa aku! Dan jika kau membicarakan kelayakan hidupku, hanya aku yang berhak menentukan itu.” Ucap Bella dengan penuh penekanan. “Satu lagi, jangan samakan keluarga Ainsley dengan kawanan vampir pemberontak itu!” peringatnya, setelahnya Bella pun keluar dari rumah Jeanna.
Bella mengemudikan mobilnya dengan perasaan kesal, mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Yah, sepertinya Alaric tak akan pernah bisa akur dengan keluarga Ainsley, karena hubungan antara vampir dan werewolf saat ini sedang memanas, tapi setidaknya pria itu bisa membedakan mana kawan dan mana lawan!
“Oke tenangkan dirimu Bella! Seharusnya kau tahu jika mulut Alaric memang seperti itu.”
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Bella sampai di depan rumah Ben. Bella yang hendak memarkirkan mobilnya di halaman rumah ia urungkan saat menyadari sesuatu yang aneh.
Bella menghirup napasnya dalam. “Aroma vampir lain?” ia segera keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah Ben.
____________
“Good to see you, Ben.” Lucius tersenyum miring saat Ben menatapnya dengan tatapan tak suka. “Ada apa dengan tatapan itu? Seharusnya kau menyambut kami dengan baik, bukan begitu Vi?” kini ia beralih menatap Victoria.
“Mau apa kalian kemari?” tanya Ben tanpa basa-basi.
Lucius bergumam, ia berjalan ke arah sofa dan duduk di sofa tersebut. “Aku hanya ingin menemui kerabatku,” ucapnya seraya menyenderkan kepalanya. “Tapi, sepertinya kata kerabat tak cocok lagi untuk kita, saat aku melihat Alpha sialan itu datang kemari sesaat sebelum kita datang.”
“Jika sudah tahu kenapa kau masih di sini? Sampai mati pun aku tak akan mau bekerja sama denganmu lagi, Lucius.”
“Aku tak mengajakmu untuk bekerja sama, Ben.” Lucius berdiri dan berjalan ke arah Ben. “Tapi aku memaksamu untuk ikut denganku!” setelahnya ia mencengkram kerah baju Ben dan mendorongnya ke arah dinding.
“Lucius!” Victoria yang hendak menolong Ben, tiba-tiba tubuhnya terpental ke arah sofa. Tentunya itu ulah Eliz!
“Apa yang kau lakukan sampai membuat Ben berubah seperti ini huh?!”
“Seharusnya kau tahu jika Ben tak pantas bersama kalian!” Eliz semakin geram, ia bersiap mencekik leher Victoria dengan kukunya yang mulai menajam. Namun Bella lebih dulu datang dan mendorong tubuh Eliz agar menjauh dari Victoria.
“No! kau tak seharusnya berada di sini sekarang.” Lirih Ben. Lucius pun mengalihkan pandangannya ke arah Bella.
“Siapa gadis itu?” tanyanya dengan penuh penekanan. Melihat Ben yang tak kujung membuka suara membuat Lucius geram dan berakhir meninju wajah Ben dengan sangat keras.
“BEN!” teriak Bella saat melihat Ben tersungkur. Ia sampai tak sadar jika Eliz yang tengah ia cekik ini tiba-tiba mendorong tubuh Bella hingga gadis itu terlempar ke arah meja.
“Don’t move!” ucap Lucius seraya menatap mata Ben, seketika tubuh pria itu kaku tak dapat digerakkan.
Detik berikutnya, Lucius beralih melesat ke arah Bella dan mencengkram kerah baju gadis itu. Tatapannya tertuju pada dahi Bella yang mengeluarkan darah akibat benturan tadi. Bella melihat sepasang netra merah itu menatap tajam ke arahnya.
Bella mencoba memukul wajah pria di hadapannya ini, namun dengan cekatan Lucius menangkap kepalan tangannya. Tatapan tajamnya itu beralih pada tangan Bella, Lucius menarik tangan Bella mendekat ke arah bibirnya.
“She's not human Lucius!” teriak Victoria
Eliz yang tengah menahan pergerakan Victoria pun ikut berteriak saat melihat Lucius yang sepertinya hendak menggigit pergelangan tangan Bella. “What are you doing?!”
Saat bibir Lucius hampir mengenai kulit tangannya, Bella dikejutkan oleh kedatangan sosok lain yang langsung menarik Lucius dan membawanya keluar dari rumah. Tubuh Lucius terhempas ke arah pohon besar yang berada di halaman rumah Ben, Eliz yang melihat itu langsung menghampiri Lucius.
Bella pun segera keluar untuk melihat lebih jelas sosok pria yang kini tengah berhadapan dengan Lucius. “Alaric?” ucap Bella tak percaya. Yah, rupanya itu adalah Alaric dan juga−Olivia?
“You oke?” tanya Alaric tanpa menatap ke arah Bella.
“Hanya luka kecil.” Jawab Bella. Ia sedikit meringis saat merasakan nyeri dan pusing akibat benturan di kepalanya.
“Alpha Alaric?” ujar Lucius dengan senyum mengejek. “Akhirnya kita bisa berhadapan langsung. Dan sepertinya aku mendapatkan sesuatu yang tak terduga,”
Ia beralih menatap ke arah Bella searaya berdecih. “Pantas saja…,” lirihnya. Ia pun tersenyum miring ke arah Bella. “Senang bisa melihatmu lagi, princess darker pack.” setelah mengatakan itu Lucius melesat pergi bersama dengan Eliz.
Bella menatap Alaric yang berjalan mendekat ke arahnya. “Kau pikir aku tak tahu soal keberadaan Lucius di sini? Kau terlalu meremehkanku, Bella.” Sarkas Alaric. Setelahnya pria itu masuk ke dalam rumah Ben.
____________
Di lain tempat, tepatnya di sebuah ruangan yang hampa dan minim akan cahaya, Eliz tampak terdiam memikirkan sesuatu. “Putri King Arthur…” lirihnya, “apa gadis itu anak Arthur yang hampir terbunuh saat masih berada di dalam kandungan? Jika benar dia anak Arthur, kenapa tak ada aroma serigala di tubuhnya?”
Di tengah kebingungannya, Eliz melihat Lucius yang tengah berdiri menyender pada dinding, pria itu sepertinya tengah melamun. Eliz pun mencoba mendekat ke arahnya. “Apa sebelumnya kau pernah bertemu dengan gadis itu?”
“Kenapa memangnya?” tanya Lucius dengan nada tak suka.
“Ucapanmu sebelumnya, tentu saja itu membuatku penasaran Lucius.”
Lucius menghela napasnya dengan malas. “Aku memang pernah bertemu dengannya, namun dengan versi yang berbeda.”
“Apa maksudmu?” Lucius tak menjawab, ia terdiam dengan pandangan yang kosong. “Dan juga apa yang kau lakukan sewaktu di rumah Ben itu—kau ingin menghisap darahnya huh?”
“Bisakah kau berhenti bertanya? Lebih baik kau carikan aku darah langka itu sekarang!”
Eliz menatap kesal pria itu, namun setelahnya ia mengingat sesuatu. “Aku melupakan satu hal. Pasangan Alpha itu, dia pemilik darah yang kau cari-cari.”
Lucius tersentak kaget, ia langsung menatap tajam ke arah Eliz. “Seorang manusia? Kenapa kau tak memberitahuku sejak awal?!” detik berikutnya Lucius tertawa mengejek. “Bagimana bisa sosok Alpha itu memiliki pasangan manusia, makhluk yang lemah!”
Lucius tersenyum miring. “Ini akan sedikit memudahkanku, kita cari manusia yang seumuran dengannya!”
Dilanjut ga nih???
»Jangan lupa Vote & Komennya ya guys, thx u 💙
{ 03-04-23 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasy»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
