Bag 38. His true past

723 80 42
                                        


Cahaya bulan memantul terang pada permukaan air danau. Di permukaan air yang nyaris tak bergelombang, pantulan bulan itu terhampar seperti lukisan di atas kaca. Angin malam berembus pelan, menerbangkan helaian rambut panjang itu hingga menari lembut di udara.

Bella duduk termenung di sebuah batu besar yang ada di pinggir danau-di belakang kastilnya.

"Bodoh!" ucapnya tiba-tiba. "Kenapa baru sadar sekarang huh? Harusnya kau sadar jika dia hanya memanfaatkanmu!" Bella berbicara dengan dirinya sendiri.

Gadis itu tersenyum pilu. "Bukan cuma lemah. Tapi juga bodoh!" gadis itu tertawa, namun terdengar memilukan. "Pantas saja kau selalu dikucilkan, Arabella!"

Bella telah melakukan kesalahan besar. Kembalinya Lucius adalah ancaman besar untuk keluarganya-dan ia sendirilah yang membawa ancaman itu. Jika suatu saat keluarganya terluka, Bella takkan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri!

Seharusnya Bella tak menyerahkan dirinya pada vampir itu!

Lucius tetaplah Lucius. Dia itu licik! Dan bodohnya, Bella masuk ke dalam perangkapnya!

"Sial!" gadis itu tak henti-henti memaki dirinya sendiri.

Bella menengadah ke atas sambil menjambak rambutnya frustasi. "Sial. Sial. Sial. Apa yang harus kulakukan?!" ia mengerang kesal, juga penuh penyesalan.

Lemparan batu ke arah danau membuat Bella beranjak dari duduknya, gadis itu menoleh sigap.

"Aku tak bermaksud mengganggumu," ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Raut wajahnya terlihat seperti meminta maaf.

Bella berdecak malas lalu memalingkan muka. Ia berjalan mendekat ke arah danau lalu duduk di tepinya. Gadis itu tak lagi membuka suaranya setelah kedatangan Nich.

Nich mendekat padanya, lalu ikut duduk di samping Bella. Ia memerhatikan raut wajah Bella yang terlihat kesal, Nich penasaran ada apa dengan gadis itu.

"Diam saja, atau pergi dari sini!" Bella lebih dulu memberi peringatan sebelum Nich bersuara. Nada bicaranya sangat ketus.

Namun hal itu justru membuat Nich menahan senyumnya. Pria itu mengulum bibirnya rapat-rapat. Rupanya Bella dapat melihat itu dari ekor matanya.

"Kenapa? Apa ucapanku terdengar menggelikan?" Bella mendengus kesal. "Pergi saja sana!" usirnya.

"Bukan begitu Bella. Saat melihatmu sedang marah, aku jadi membayangkan wajah kakakmu."

Bella mengerutkan dahinya samar. Ia menolehkan mukanya ke arah Nich. "Apa maksudnya?" tanya Bella dengan nada tak suka.

"Kalian sangat mirip, apalagi saat marah." Bella memicing tajam. "M-maksudku ... kau dan Alpha Alaric, kalian benar-benar cocok sebagai saudara." Nich buru-buru memperbaiki ucapannya.

"Kehadiranmu di keluarga ini pasti punya tujuan, Bella. Terlepas dari keadaanmu, kau pun sama di butuhkannya di tempat ini."

Bella menyipitkan matanya, sepertinya Nich mendengar ucapannya barusan. Tapi, sejauh mana?

"... jangan membenci dirimu lagi, berhentilah berkata seperti itu Bella!"

Sepertinya Nich hanya mendengar baris terakhirnya saja.

"Moon goddess takkan pernah salah menuliskan takdir hidup kita. Semua pasti ada maksud dan alasan tersendiri."

Bella masih diam tak mau bersuara.

Nich tersenyum getir, ia kembali melempar batu ke arah danau. "Aku sudah bertemu dengan mateku!"

Napas Bella tercekat, meski perasaannya pada pria itu sudah lama memudar, tapi tetap saja ada sedikit kekecewaan. Apalagi dulu Nich pernah berjanji akan membuat Bella menjadi miliknya, dengan cara apapun!

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang