Bag 39. Trying to escape

913 92 52
                                        

Eliz mempercepat langkahnya mencari keberadaan Lazarus. Wajahnya terlihat gusar dengan kerutan yang kentara di dahinya.

"King Lazarus," Lazarus membalik badan ke arahnya. "... your son!" Eliz terlihat ragu untuk mengatakannya.

"Aku tak berani mengatakan ini—tapi, bagaimana jika kejadian itu kembali terulang!"

Seakan paham apa maksud ucapan Eliz, Lazarus menghela napas berat. "Aku yakin dia bisa mengontrolnya, biarkan saja."

"Tapi—"

"Jangan halangi keinginannya!" tegas Lazarus. "Senjataku ada pada anak itu, Eliz! Dan kemenangan kita sudah di depan mata."

"Bagaimana jika terjadi sesuatu yang lebih buruk?" wajah Eliz mengeras antara cemas dan geram. "Bagaimana jika Lucius melakukan kesalahan yang sama ... seperti yang pernah Lylia lakukan dulu!"

"Hanya ada setengah darah Lylia di tubuh anak itu. Lucius tak mungkin bisa menyamai ibunya!" ujar Lazarus mencoba yakin.

Suara ringkihan kuda yang cukup nyaring membuat keduanya saling melempar tatap. Lazarus dan Eliz berjalan ke luar kastil. Mereka menghampiri Lucius yang berdiri di samping kuda. Lebih tepatnya mayat seekor kuda!

Lucius mencabut pedang yang menusuk tepat pada perut kuda itu-darah segar mengalir deras. Dengan wajah teramat tenang, tangan dinginnya bergerak menyentuh luka tusuk dan goresan pada tubuh kuda itu. Ajaibnya, luka-luka itu berhasil menutup sempurna. Dan kuda itu ... kembali hidup!

Hawa dingin mendadak datang, menyelimuti udara di sekitar mereka. Eliz tampak membeku di tempatnya, inilah yang ia takutkan! Sama seperti ketakutannya dulu, saat Lylia menggunakan sihir hitamnya untuk mencampuri kehidupan semesta-mengambil jiwa murni seseorang lalu menggantinya dengan jiwa yang ia buat dengan sihirnya.

Sihir yang bukan hanya membangkitkan... tapi juga mengutuk!

Hal itu sangat bertentangan dengan hukum alam! Moon goddess akan sangat murka. Dan kemungkinan terburuknya adalah-sihir hitam itu bisa membangkitkan jiwa yang kelam, sang penguasa dunia bawah!

"Hentikan Lucius!" Eliz mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya.

Lucius menoleh santai ke arah wanita itu-dan juga ayahnya. "Mengesankan bukan?" ucap Lucius, matanya penuh binar yang mengerikan.

"Kau tidak boleh melakukan itu!" ucap Eliz lagi

Lucius mengerutkan dahinya samar. "Benarkah? Bukannya kau sangat menginginkan ini ... ayah?" ia terkekeh dengan nada mengejek.

Lazarus hanya diam, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.

"Tidak!" Eliz tampak geram. "Jangan gunakan kekuatan itu lagi Lucius! "Itu menyalahi aturan semesta!"

Lucius menyunggingkan senyum miring-dingin dan tak bisa ditebak. Dengan langkah santai namun pasti, ia maju mendekati mereka. Tak ada ancaman dalam gesturnya, tak ada nada marah dalam tatapannya. Tapi Eliz dan Lazarus bisa merasakan aura lain pada tubuh pria itu. Gelap dan dingin! Menyelimuti udara di sekitarnya seperti kabut yang menyesakkan dada.

"Apa yang kau takutkan Eliz?" nada bicaranya terdengar menantang. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan." ucapnya lagi, dengan percaya diri.

"Bagaimana jika yang kau lakukan—"

"Mengusik raja kegelapan?" Lucius mendengus sinis, senyum miring kembali menghiasi wajah tampannya. “Kekuatanku tak sebesar itu Eliz. Benar begitu ayah?”

Lazarus masih diam, antara heran dan bingung. "Lakukanlah. Selagi itu bisa menghancurkan Arthur, aku tak akan menghentikanmu." Setelah mengatakan itu Lazarus pergi begitu saja.

_____________

"... aku titip kucing putih itu ya. Tolong beri makan, kalau dia tak mau makan—kurung saja di kandang! Dan juga—”

Nich mengangguk cepat. "Mereka memanggilmu Bella.”

Bella menoleh sekilas ke arah dua perempuan itu.

“Jangan ada yang terluka sampai aku kembali lagi! Ingat Nich, kau harus menjaga semuanya! Jangan ada yang terluka—"

"Bella kau sudah mengatakannya berkali-kali." Raut wajah gadis itu tetap tak berubah—tatapannya masih menyimpan kecemasan yang menggantung. "Percayalah, takkan kubiarkan satu pun terluka. Aku bersumpah atas nyawaku sendiri!"

Bella menghela napas panjang, mencoba menghilangkan kegundahannya. Gadis itu mengangguk yakin. "Aku percayakan semuanya padamu!"

Nich tersenyum tipis, lalu ikut mengantar Bella menuju area lobi. Bella kembali menoleh ke belakang sebelum melakukan check-in. Nich bersama Noah mengantar kepergiannya.

"Kali ini tolong turuti ucapan kakakmu. Jangan membahayakan dirimu. Apalagi Luna kita sedang hamil besar." Nich kembali mengingatkan. "Kalian harus tetap bersama!"

"Ya aku tau!"

"Kau juga—" ucapan Bella yang terpotong membuat Nich mengerutkan dahi penasaran. "... jangan sampai terluka!" Ia rela membuang gengsinya untuk mengatakan kalimat itu.

"Pokoknya jangan ada yang terluka!" Ucap Bella lagi sebelum ia berlalu meninggalkan Nich dan yang lain.

Langkah Bella baru saja menjauh beberapa meter, ketika tiba-tiba sebuah tarikan lembut namun tegas menghentikannya. Tubuhnya terlonjak, berputar paksa—dan tanpa sempat bersiap, ia bertabrakan dengan dada seseorang.

Nich merengkuhnya! Mendekap erat tubuhnya.

"Kuharap ini bukan yang terakhir kalinya..."

Bisikannya begitu lirih. Dan kata-kata itu—membuka kembali ruang resah di hatinya. Ketakutan menyelusup cepat. Kemungkinan terburuk yang tak pernah ia siap hadapi membayangi pikirannya. Hingga tanpa sadar membuat Bella ikut membalas pelukan itu.

________________

Langit malam menghampar luas di balik jendela oval. Di kabin kelas bisnis yang temaram, cahaya lampu baca menyinari wajah-wajah yang tertidur tenang—tapi tidak untuk Bella. Ia duduk bersandar, tubuhnya terbungkus selimut abu-abu lembut, namun pikirannya tak setenang ruang di sekitarnya.

Kursi kulit yang bisa direbahkan sepenuhnya telah membentuk ranjang nyaman, namun matanya tak mau terpejam. Bella mengatur napasnya, memejamkan matanya sesaat—mencoba menghilangkan rasa mual akibat kegelisahannya.

Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin aneh disekitar tubuhnya. Sebuah bisikan, nyaris seperti angin malam, berdesir pelan di telinganya.

"Kau tidak bisa lari dariku, Bella."

Tubuh Bella menegang. Ia tau jelas siapa pemilik suara itu! Bella mencoba membuka mata—namun kelopak itu seolah tertutup paksa. Napasnya tercekat. Tubuhnya membeku. Jangankan untuk bergerak, sekedar berteriak pun ia tak mampu!

"Bukankah sudah kukatakan, takdirmu berada di sisiku, Bella. Menemaniku ... selamanya!" Tangan dinginnya menyentuh leher Bella, mencengkram di sana—namun tak sampai mencekiknya.

"Oh ma Belle ... ini membuatku kesal!" Ibu jarinya menyapu pelan garis rahang Bella. "Aku tak segan menghancurkan siapa pun yang berani merusak rencanaku,"

"Termasuk memilikimu!"

Bella mengerang. Mencoba melawan, namun setiap sarafnya terasa terikat oleh kekuatan tak kasat mata.

"Bella ..."

Alunan serak itu semakin terdengar dekat, menyusup masuk ke telinganya seperti bisikan kematian. Ia bahkan bisa merasakan hembusan napas dingin menyapu kulit lehernya—lembut tapi menusuk.

"Kembali padaku, sayang!"


























Takut bgtt sama Lucius😭😭
Ngumpet aja Bell, jauh-jauh dari tu cowok!!!

SEPERTI BIASA JANGAN LUPA RAMAIKAN VOTE & KOMENNYA GUYSSS

{20-06-25}

Red ColdCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang