Entah apa rencana moon goddess kali ini, untuk membuat dunia kembali damai seperti sebelumnya. Dua sosok yang hampir bertemu dengan kematiannya ... menjadi penyebab pertikaian antara vampire dan werewolf. Antara putri Arthur, dan vampir keturunan penyihir itu, haruskah moon goddess mengambil salah satu di antara keduanya? Untuk membuat dunia ini kembali tentram.
Setelah hampir setengah tahun berjuang melawan racun yang menggerogoti tubuhnya, Bella akhirnya terbangun dari koma panjangnya. Dan sejak saat itu, hidupnya terasa seperti sebuah lembaran baru.
Di depan mesin pembuat kopi, Bella dengan cekatan menuang busa susu, membiarkan tangannya menari hingga tercipta gambar hati di permukaan cangkir. Selesai dengan kopi, ia meraih sepiring cheese cake, lalu berjalan ke arah meja pelanggan.
"Your order, sir. As always ..." Ucap Bella.
Nich tersenyum lebar. Lalu ia mempersilakan Bella duduk di hadapannya dan mendorong piring cheese cake ke arah gadis itu.
Bella tak menolak, karena percuma saja Nich akan tetap memaksanya. Pria itu hampir melakukan ini setiap ia datang kemari. Bella pun meraih garpu dan memakannya tanpa sungkan.
"Kapan kau akan kembali ke kastil?"
Cangkir yang hampir mendarat di bibirnya kembali ia jauhkan. Nich sedikit terganggu oleh ucapannya.
"Kau harus kembali Nich. Tugasmu adalah melindungi pack! Bukan aku."
"Perintah Alaric juga menjadi tugas dan tanggung jawabku Bella."
"Aku sudah pulih, lihat! Aku bisa menjaga diriku sendiri, aku-"
"Kau terlalu lemah untuk sendirian. Jadi biarkan aku terus di sisimu."
Bella kembali menaruh garpu di sisi piring. Ia membiarkan setengah cheese cake tersisa di atas sana.
Mungkin Nich benar. Ia telah berubah. Jika dulu Bella hanya tak bisa merubah diri dan merasakan sisi wolfnya, kali ini semua kemampuannya sebagai sosok werewolf hilang tak tersisa.
Seharusnya Bella sudah mati karena racun yang menyebar hampir ke seluruh tubuhnya. Namun keajaiban datang, mengantarkan kehidupan baru untuknya. Tapi tak sampai di situ. Ada harga yang harus dibayar. Bella menjadi lemah ... jauh lebih lemah dari sebelumnya.
Gadis itu terdiam, wajahnya berubah muram.
"I didn't mean to hurt you. I'm sorry ..."
Bella menggeleng pelan. "Tidak masalah. Lagi pula sebelumnya aku pernah hidup seperti manusia." Ucapnya diselingi senyum tipis.
"Kau akan selalu menjadi bagian dari kami Bella. Selamanya!" Ujar Nich penuh penekanan.
Bella hanya mendengus, dan terkekeh pelan.
Waktu berjalan cepat, tak terasa langit sudah gelap. Cafe pun semakin sepi. Aubrey, teman satu shift Bella, terlihat sibuk mengunci pintu ketika jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam.
"Aku ingin mampir ke toko buku dulu. Mau pulang bersama?"
Bella menggeleng pelan. "Aku pulang sendiri saja."
Setelah berpamitan, Bella berjalan sendirian menyusuri trotoar kota yang mulai lengang. Lampu jalan berpendar samar, menambah kesan sepi. Langkah kakinya tanpa sadar membawanya ke sebuah gang, lalu ke sebuah rumah kecil dengan halaman cukup luas.
Bella berhenti sejenak di depan pagar, tangannya sibuk membuka kunci besi. Namun, suara derap langkah yang semakin mendekat membuatnya refleks menoleh cepat.
Tak ada orang. Hanya semilir angin yang terasa semakin dingin menyentuh kulit.
Tangan gadis itu bergerak cepat mengotak-atik pagar. Raut wajahnya terlihat sedikit cemas dan panik. Saat ia berhasil membuka pagar, sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundaknya. Bella memutar tubuhnya dengan cepat dan bersiap melakukan perlawanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasía»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
