Haii semua!!!
Akhirnya bisa up lagiii😭😭😭
Kalian kangen siapa btw,
Lucius or ...
Bella?
Atau akuu, hehe
.
.
Silahkan lanjut membaca, bantu tandain yaa kalo ada typo :)
Tubuh kecil Bella menggeliat tak nyaman saat Lucius menelusuri garis lehernya. Napasnya tercekat saat bibir dingin pria itu menyentuh daun telinganya. Napas hangat Lucius berhembus pelan, menggelitik setiap inci kulit Bella, turun perlahan menuju leher—membuat tubuhnya merinding hebat.
Lucius mendaratkan bibirnya cukup lama di tempat yang akan ia tandai. Membuat Bella kembali berteriak dengan suara bergetar menahan tangis. Namun sepertinya pria itu tak juga peduli, keinginan untuk merasakan kembali darah Bella membuatnya hilang kendali.
Saat taring tajam itu akhirnya menembus kulit Bella, tubuhnya menegang. Bella mengerang, menggigit bibir untuk menahan sakit. Terlebih saat Lucius semakin memperdalam taringnya, menghisap darahnya dengan sangat rakus.
Satu tangannya tetap menahan tangan Bella, sementara tangan lainnya turun perlahan ke pinggang gadis itu. Mencengkeram kuat—seolah melampiaskan hasratnya dan menegaskan jika Bella tak akan bisa lepas lagi dari genggamannya.
Bella terus memohon agar Lucius menyudahi aksinya. Hingga suaranya melemah, bahkan nyaris hilang.
"Kumohon berhenti,"
"Lucius ... itu menyakitkan."
Suara lirih itu menyentak kesadaran Lucius. Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya perlahan menjauh. Sorot matanya menuruni jejak luka yang baru ia ciptakan di leher Bella, lalu ia kembali mendekat untuk membersihkan sisa darah di sana—kali ini jauh lebih pelan dan hati-hati.
Bella tampak frustrasi, napasnya memberat saat merasakan lidah Lucius menyapu lembut kulit lehernya, menghapus sisa luka yang masih basah, diikuti kecupan pelan dari bibir dinginnya, berulang kali.
Ia sampai tak sadar kapan Lucius melepas cekalan di kedua tangannya, hingga kini tangan Bella berganti mencengkeram erat baju di bagian dada pria itu. Napas Bella memburu, tak beraturan, dengan mata yang terpejam kuat. Dan ketika sentuhan itu mendadak hilang, Bella membuka mata. Wajahnya sedikit memerah, menatap Lucius dengan mata sayunya.
Bella tak sempat mengeluarkan suaranya karena Lucius lebih dulu menarik tengkuknya, membuat bibir mereka bertemu dalam satu ciuman yang panas namun lembut. Bella memejamkan mata, ia terlihat pasrah—membiarkan Lucius mendominasi tubuhnya, hingga membuatnya ikut larut dalam ciuman itu. Bahkan Bella tak sadar, kini tangannya sudah melingkar di leher pria itu. s
Sentuhan Lucius seolah menghipnotis tubuhnya dan menghilangkan kewarasan Bella dalam sekejap.
Tak sampai disitu, Bella pun merasakan tubuhnya terangkat. Kakinya reflek melingkar pada pinggang pria itu, Lucius menahan tubuh Bella di gendongannya. Lalu ia berjalan ke arah sofa, tanpa melepas ciumannya. Dalam satu gerakan ringan, ia menjatuhkan diri ke sofa. Tubuh gadis itu terhempas lembut di pangkuannya, jarak mereka nyaris tak bersisa.
Bella menarik napas rakus saat Lucius melepas ciumannya. Matanya menatap manik Lucius yang terlihat berbeda, bukan lagi merah darah, tapi hitam pekat—segelap malam. Masih dengan napas memburu, Bella mengerutkan dahinya, sebelah tangannya terangkat menyentuh sisi wajah pria itu.
Detik berikutnya Bella tersadar dengan posisi tubuhnya yang terlalu intim. Ia pun mendorong tubuhnya menjauh, namun tangan Lucius yang berada di punggungnya kembali menarik Bella.
Bella menyadari sesuatu yang aneh pada pria itu.
Ya!
Lucius terlihat berbeda!
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasy»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
