Bag 28. Please save me..

1K 109 31
                                        

Lucius merebahkan tubuhnya pada ranjang. Ia terdiam cukup lama sambil menatap langit-langit kamar tersebut, kamar yang baru saja ditempati oleh Bella. Gadis itu sudah pergi siang tadi.

Derasnya hujan diiringi suara petir menemani kesunyiannya. Lucius bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah jendela yang tertutup gorden. Ia buka gorden tersebut, dari apartemen yang cukup tinggi ini ia bisa melihat jelas cahaya kota dan juga kilatan petir menghiasi langit malam.

Lucius mengerutkan dahinya saat mendengar derap langkah kian mendekat ke arahnya.

Tok tok..

Lucius membalik badan, Eliz sudah berdiri di samping pintu kamar yang sejak tadi memang tak tertutup.

“Kau terlihat tak senang saat aku kembali,” perlahan ia mendekat. “Padahal aku membawa kabar baik, kau pasti menyukainya!”

“Tell me!”

“Ayahmu sudah menyiapkan semuanya. Dan dia juga sudah tau kau telah pulih.”

Eliz tersenyum miring. “Sudah waktunya Lucius. Kita harus kembali esok pagi.”

____________

Bella masih terdiam sambil memerhatikan Sera yang sejak tadi mengoceh. Gadis itu terus berusaha membuat Kevin menyahuti ucapannya. Sudah tiga hari Bella rutin menemani Sera ke rumah sakit untuk menjenguk Kevin selepas pulang kuliah. Memastikan keadaan temannya itu kian membaik. Namun sampai saat ini lelaki itu tak kunjung membuka matanya.

“...kita bertiga udah janji bakal liburan bareng ke tempat tinggal Jeanna sekarang. Gue sama Riko udah nabung sedikit-sedikit. Lo pernah janji mau bayarin setengah ongkos kendaraannya kan!”

“Lo gak bosen apa merem mulu!” Suara Sera sedikit bergetar.

“Itu mi yamien depan rumah sakit enak juga ternyata Vin. Lo harus nyobain, pasti bakal suka!” itu makanan favorit Kevin!

“Lo harus nyobain ya Vin!” ucapnya lagi. “Lo harus bangun.”

Bella mendekat, merangkul pundak temannya itu sambil mengusap pelan. Setelah cukup lama mereka pun keluar dari ruangan tersebut.

“Riko masih belum tau soal ini?”

Sera menggeleng. “Dia lagi sibuk sama kuliahnya, gue ga mau ganggu.”

Si upin & ipin, itulah julukan untuk Riko dan Kevin. Karena sejak satu sekolah mereka selalu bersama, entah kemana pun itu. Sayangnya mereka harus terpisah karena Riko memilih kuliah di kota lain yang cukup jauh.

Bella mengangguk mengerti.

“Jeanna beneran ga tau kan soal ini?” giliran Sera yang bertanya.

Bella mengangguk. “Aman Sera.”

Sera mendesah pelan, “gue juga ga mau bikin bumil satu ini jadi stress karena kepikiran si Kevin.” lagi-lagi Bella hanya mengangguk.

"Yu pulang!" ajak Sera. Keduanya pun berjalan meninggalkan rumah sakit.

“Bella!”

Bella menghentikan langkahnya saat seseorang berteriak keras memanggil namanya. Ia menoleh ke arah sumber suara.

“Aku mencarimu di rumah Ben tapi tidak ada,”

Bella menghela napas panjang. “Apa lagi sekarang?”

“Waktuku di sini tidak banyak. Ikutlah pulang bersamaku Bella.” ucap lelaki itu setengah memohon.

“Apa aku harus mengulang ucapanku?”

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang