Bag 42. Shadow attack

721 78 68
                                        

Salju turun deras tanpa jeda sejak pagi tadi, hingga sore ini. Langit tampak kusam, seperti menyimpan amarah dingin yang tak bisa diurai. Di balik balkon tinggi kastil gelap yang berdiri kokoh di ujung pegunungan, Lucius berdiri membisu, memandangi butir-butir salju jatuh perlahan di atas permukaan tanah yang telah diselimuti putih sepenuhnya.

Langkah berat mendekat dari belakang.

“Peperangan tidak bisa dilanjutkan dalam kondisi seperti ini,” ucap Lazarus, suaranya berat dan sedikit tergesa, “badai salju bisa datang kapan saja." Lanjutnya.

Lucius tidak menoleh. Hanya rahangnya yang mengeras, satu-satunya respon atas ucapan sang ayah.

"Terpaksa kita harus menundanya." Dahi Lazarus berkerut dalam. "Tapi kita harus tetap menyerang secara diam-diam. Kau bisa menghilangkan setengah kekuatan pack darker dengan melenyapkan para warior itu Lucius!"

Lucius mendengus sinis. Ia membalik badan, menatap ayahnya dengan tatapan muak. "Jika itu yang kau mau, lakukan sendiri. Semua rencanamu tidak berguna! Percuma saja jika pada akhirnya aku yang harus menyelesaikan semuanya."

Lazarus hanya terdiam membisu, berpikir keras kalimat apa kiranya yang akan ia keluarkan lagi. Namun sebelum itu terjadi, Lazarus menyadari sesuatu yang aneh pada putranya itu. Raut wajah Lucius terlihat gusar, dengan napas yang memberat.

"Aku punya kesibukan lain, jadi ... untuk saat ini urus rencanamu sendiri." Ketusnya.

Lucius menggeram rendah, ia menelan ludah keras-keras, menahan sensasi panas yang membakar kerongkongannya.

Sial!

Padahal pagi tadi ia baru saja memangsa rusa berukuran besar. Tapi kenapa rasa hausnya masih melekat juga.

"Kau mau ke mana lagi?" Tanya Lazarus saat anak itu berlalu begitu saja.

"Mencari kesenangan."

Lucius menampilkan smirknya. Langkahnya terus membawanya menghilang di balik bayangan kastil, dan beberapa detik kemudian, suara gemuruh angin dan jeritan makhluk liar menyambut kepergiannya ke dalam kegelapan hutan yang tertutup salju.

_______________

Dinginnya udara malam semakin menusuk kulit, bercampur dengan serpihan es tipis yang mulai turun dari langit. Bella merapatkan jaketnya saat langkahnya terhenti di depan sebuah rumah makan tua. Bangunannya terbuat dari kayu tua dengan papan nama yang nyaris copot tertiup angin.

Ia masuk perlahan, suara lonceng pintu tua berdenting. Hangat dari tungku perapian menyambutnya, Bella semakin melangkah masuk.

“Selamat malam. Mau makan apa, nona?” tanya pria paruh baya di balik meja kasir, wajahnya penuh kerutan namun senyumnya ramah.

“Daging panggang. Yang paling hangat,” jawab Bella sambil menarik kursi dan duduk.

Pria itu menghela napas berat, “Ah, maaf... dagingnya habis. Sapi-sapi kami banyak yang menghilang. Beberapa mati dalam keadaan aneh. Sepertinya ada binatang buas yang berkeliaran dari dalam hutan sana.”

Bella menyipit. Apa benar ulah binatang buas?

“Kalau begitu, roti gandum dan air hangat saja.”

Sang pemilik mengangguk dan berlalu ke dapur. Sementara itu, Bella menyandarkan punggungnya dan mulai memindai seisi ruangan. Tak lama lonceng kembali berbunyi, seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan bucket hat hitam dan kaos pendek-

Tunggu, orang waras mana yang akan memakai kaos pendek dengan cuaca seperti ini?

Dan, benar saja!

Bella mencium aroma yang sejak tadi menjadi kecurigaannya. Ia semakin menyipitkan matanya, menajamkan inderanya lalu menunduk sedikit sambil mengintip dari balik rambut panjangnya. Langkah pria itu terdengar. Ia berdiri perlahan, bergerak santai seperti pelanggan biasa.

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang