Bag 16. Don't make the same hurt, please!

2.1K 200 22
                                        

Setelah Bella menerobos masuk ke dalam apartemennya tanpa menghiraukan sosok pria yang berdiri tepat di pintu masuk, kini ia sibuk mencari beberapa berkas di sebuah laci.

Sekali lagi, Bella tak menghiraukan sosok pria yang kini tengah memerhatikan setiap gerak-geriknya!

“Kembalilah ke kastil bella,” ujarnya, namun Bella tak menjawab, ia masih sibuk dengan urusannya.

“Bella, please!”

Bella terdiam sesaat, hanya beberapa detik. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan, setelah itu ia kembali merapihkan beberapa kertas dan memasukkannya ke dalam tote bag berwarna coklat.

“Bella, tolong dengarkan aku—”

“Berkali-kali kukatakan aku tidak mau!” jawabnya cepat dan kini ia menoleh sempurna ke arah pria itu yang ternyata sudah di duduk di sebuah sofa. “Aku tak ingin berada di tempat yang membuatku merasa asing, aku tak ingin menjadi bagian dari kalian dan satu lagi, aku bukan lagi seorang putri!” jelasnya.

“Bella—”

“Apa Alaric memaksamu untuk bertindak sejauh ini?” wajahnya terlihat sangat kesal.

“Bukan begitu,”

“Kalau begitu jangan paksa aku!”

Bella meraih beberapa lembar kertas dari dalam tote bagnya, lalu melemparnya asal ke atas meja di hadapan sofa itu. “Thats my new identity. Sekarang aku manusia, bukan lagi werewolf!” bella berdecih, “bahkan seharusnya aku tak pantas menjadi sosok werewolf,” mengingat ia tak pernah merasakan kehadiran sisi serigalanya itu. Dan lagi, ia tak akan bisa berubah menjadi serigala seperti werewolf pada umumnya.

Mereka berdua saling terdiam untuk beberapa detik, hingga ucapan Nich selanjutnya membuat bella menatap penuh ke arah pria itu.

I know its my fault,” ujar Nich dengan tatapan yang masih tertuju pada lembaran kertas itu. “Im sorry...” ucapnya lagi.

What are you talking ab-

“Seharusnya aku tahu jika kau terluka, sangat terluka. Dan seharusnya aku tak menambah luka lain di hatimu,”

“Berhenti bicara omong kosong, lebih baik kau kembali!” sungguh, Bella tak ingin membahas masalah ini.

Nich beralih menatap lurus ke arah sepasang iris biru itu. “Aku ingin mengobati lukamu itu, Bella. Beri aku kesempatan untuk melakukannya. Tolong jangan seperti ini, aku merindukan sosokmu yang dulu, Bella yang periang dan sangat ceria. Tolong terimalah permintaan maafku, aku tak bisa berpikir jernih saat kembali mengingat apa yang pernah kulakukan padamu dulu.”

Mulut bella sedikit terbuka, ia ingin membalas perkataan pria itu, tapi entah kenapa lidahnya terasa kelu.

“Aku tak bermaksud mempermainkan perasaanmu bella, aku bersumpah!”

“Kau terlalu banyak memberiku harapan Nich, harapan yang tak mungkin jadi kenyataan!” balasnya dengan nada bergetar, bahkan Nich bisa melihat jelas mata gadis itu yang mulai berkaca-kaca.

Sejahat itu kah dirinya? Hingga membuat Bella terlihat sehancur ini.

Nich menghela napasnya sesaat sebelum kembali berucap. “Aku akan melakukan apapun agar kau kembali ke kastil, bahkan jika harus mewujudkan harapanmu itu,” mohonnya.

“Nich, kau sudah kelewat batas!”

“Aku tahu, dan aku serius!” bella menatap tak percaya ke arah pria itu. Rasa sakit di hatinya yang selama ini ia rasakan sudah cukup! Jangan ditambah lagi, Bella tak akan sanggup jika harus mengulang rasa itu lagi.

“Kita tak saling terikat satu sama lain Nich!” ucap Bella penuh penekanan.

“Dan bukan berarti kita tak bisa bersatu,”

“NICH STOP!” akhirnya bulir air mata yang terkumpul di pelupuk matanya jatuh juga membasahi pipinya. “kau menyiksaku dengan semua ini.”

Pria itu langsung mendekat ke arahnya. Nich bangkit dari duduknya, tangannya terulur mengusap pipi Bella yang basah karena air mata. “Jangan menangis karenaku,” Bella masih tertunduk tak ingin menatap manik hazel itu.

“Maaf Bella, aku tak tahu apa yang harus kuperbuat agar kau memaafkanku. Aku juga tak tahu bagaimana cara menyembuhkan luka di hatimu itu. Pukul saja aku! Jika itu bisa menggantikan rasa sakitmu.”

Buliran air mata itu semakin membasahi pipi Bella, dan hal berikutnya membuat Nich terkejut saat Bella tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat.

Perasaannya berkecamuk, bohong jika dirinya tak merindukan sosok yang pernah memperlakukannya sebaik itu. Di sisi lain, Bella juga tak bisa melupakan bagaimana pria itu mengecewakannya, menghancurkan harapannya dan membunuh perasaannya.

Di saat hatinya perlahan terobati, saat itu juga Nich membuat luka di tempat yang sama, menambah rasa sakit di hatinya.
_____________

Setelah melewati drama yang cukup memakan waktu, kini Bella berada di dalam mobilnya dengan sosok pria yang memaksa mengantarnya kembali ke kediaman Ben.

Siapa lagi kalau bukan Nich. Pria itu tengah fokus mengemudikan mobil sambil sesekali melirik ke arahnya. Sedangkan Bella, gadis itu hanya terdiam sejak tadi.

“Sepertinya kau sangat mengenal keluarga ainsley,” Bella tak tahu apa ucapan Nich itu sebuah pertanyaan atau lebih ke pernyataan, jadi ia memilih tak menjawab. “Benar begitu Bella?” kali ini Nich bertanya.

“Ya,” singkatnya.

Nich mengangguk paham. “Apa Alaric tak keberatan jika kau bersama mereka?”

Bella mendengus geli, “seharusnya kau lebih tahu.” Lagi-lagi Nich mengangguk seraya tersenyum.

Mereka pun sampai di depan rumah Ben. Dengan luwesnya Nich memutar setir mobil, memarkirkan mobil milik Bella di halaman rumah.

“Apa—” ucapan Nich terpotong karena Bella lebih dulu keluar dari mobil. Gadis itu berjalan ke arah pintu masuk, namun Nich segera mengejarnya dan meraih lengannya.

“Apa kau ada waktu luang?” Bella tahu arah pertanyaan Nich, pria itu pasti akan kembali menemuinya.

Dengan penuh pertimbangan, akhirnya Bella menjawab, “aku sibuk kuliah.” Setelahnya ia melepaskan tangan pria itu di lengannya dan melangkah masuk ke dalam rumah, tanpa mengucap sepatah kata lagi.

“Mungkin lain kali…” Lirih Nich.

Di dalam rumah, Victoria mengerutkan dahinya saat melihat mata sembab milik Bella. “Kenapa deng—”

“Aku lelah Vi! Kau bisa bertanya esok pagi.” Setelahnya Bella segera berjalan ke arah kamarnya dan mengunci pintu.

Bella menyandarkan tubuhnya pada pintu kamarnya itu, ia membiarkan tubuhnya merosot ke bawah dan menyentuh lantai yang dingin. Bella menatap kosong ke depan, buliran air mata kembali terkumpul di pelupuk matanya dan pada akhirnya jatuh membasahi pipinya.

‘Setelah kau membuatku cacat dan tak berdaya seperti ini, apa kau juga mengujiku dengan menyakiti perasaanku?’

Bella meringkuk sambil memeluk lututnya, menangis tanpa suara. Entahlah, apa moon goddes sejahat itu padanya hingga membuatnya sehancur ini?
















Seperti biasa mari ramaikan Vote & Komennya
Pencet bintang = lanjut
:)

( 16-07-23 )

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang