Bag 47. Hope, Regret, and Death

824 87 67
                                        

"... kita bertukar bagian."

"Aku yang akan melawannya!"

"Hanya dengan cara ini, lalu kau bisa membawa Alaric menjauh dengan cepat Eliz."

"Kumohon ... aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku."

Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya. Eliz terus mengelak, itu bukan salahnya! Jelas-jelas Bella yang meminta sendiri, dan Eliz tak pernah berniat membawa gadis itu menuju gerbang kematian. Meski ada sedikit rasa tak suka pada putri Arthur itu, tapi Eliz berani bersumpah ia tak punya niat untuk membiarkannya mati terbunuh.

Langkah Eliz bergema di sepanjang lorong, matanya terus menatap gelisah pada sebuah pintu di ujung lorong. Lucius—pria itu langsung masuk ke dalam ruangan milik Lylia, sesaat setelah Eliz membawanya kembali ke kastil.

Eliz menghampiri pintu itu, terdiam di sana cukup lama, menebak-nebak apa yang kiranya Lucius lakukan di dalam sana. Eliz cemas, apalagi saat tahu jika Bella adalah mate tuannya, ia tak pernah menyangka akan hal ini. Sebuah fakta yang membuat Eliz semakin frustasi.

Bagaimana jika saat ini Lucius sedang menggunakan sihir hitamnya?

Apalagi saat ini ia sedang kacau, bisa saja Lucius kembali menggunakan sihir terlarang itu untuk melampiaskan emosinya. Saat tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu, Lucius lebih dulu membukanya. Pria itu menatapnya tajam, seolah meminta penjelasan.

"Satu hal yang membuatku kecewa padamu,"

Eliz menatap takut ke arah tuannya.

"... apa yang kau berikan pada Bella, hingga aku tak bisa merasakan kehadirannya?"

Eliz melupakan satu hal, Lucius belum tahu soal liontin itu. Haruskah ia katakan yang sebenarnya?

"Kuberi kau kesempatan untuk tetap hidup, Eliz."
________________

Udara di kastil Pack Darker terasa pekat, sorot kesedihan tampak jelas tergambar pada wajah penghuni kastil ini. Terutama Azura, wanita itu terus menangisi Bella yang terbaring lemah di atas ranjangnya.

Meski jantungnya masih berdetak dengan irama pelan, tapi tetap saja racun di tubuhnya terus menyebar hampir ke seluruh pembuluh darah. Tak ada yang tau racun jenis apa yang Lucius gunakan pada belati itu, tak ada yang bisa memberikan penawarnya.

Bahkan Alaric, meski hanya tergores oleh belati itu, namun penyembuhannya cukup lama. Sebelah kakinya mati rasa dan tak bisa digerakkan, begitupun dengan sebelah tangannya yang terkena goresan belati itu.

Langkah cepat terdengar mendekat ke arah ruang pengobatan, dari balik pintu, tampak pria dengan mantel hitamnya berjalan mendekat pada Alaric.

"Maaf, aku terlambat."

Itu Edward, selama ini Alaric menugaskan pria itu untuk fokus pada beberapa bisnis miliknya di Amerika.

"Aku tak bisa diam saja saat mendengar kabar ini. Bukannya aku melalaikan tugasmu, Alpha. Tapi keselamatanmu dan orang-orang di kastil ini menjadi tanggung jawab utamaku."

Alaric menggangguku pelan. Ia memaksakan tubuhnya untuk berdiri dari ranjang. Dengan sigap Edward memapah tubuh Alaric.

"Racun di tubuh Bella sudah menyebar hampir ke seluruh tubuh. Aku tak bisa diam saja melihatnya sekarat."

"Tapi tubuhmu perlu penyembuhan juga."

Alaric meraih pundak beta-nya, sebelah tangannya mencengkram erat bahu pria itu.

"Nyawa adikku sedang terancam Edward, kita harus bertindak cepat. Apapun itu, akan kulakukan demi menyelamatkannya." Ucap Alaric seolah menghiraukan kondisi tubuhnya.

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang