Perlahan sepasang mata itu terbuka, ia berkedip beberapa kali mencoba memperjelas pandangannya yang kabur. Tak lama setelahnya mata itu kembali terpejam, dahinya berkerut kala merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Sambil mengatur napasnya, Bella mencoba mengingat kembali kejadian sebelum tubuhnya terbaring lemah di ruangan ini dengan jarum infus yang menempel di tangannya. Hal pertama yang ia ingat adalah,
Sera!
Bagaimana keadaan gadis itu?!
Bella menggerakkan tubuhnya mencoba untuk bangkit, namun ia tak kuat! Sekujur tubuhnya terasa remuk, sakit sekali. Bella mendesah pasrah, bulir air mata turun mebasahi pipinya.
"Semoga dia baik-baik saja!"
Bella memaki dirinya sendiri yang terlihat lemah.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, seorang lelaki berjalan ke arahnya.
"Hey kau sudah sadar?"
"Sera! Dia- b-bagaimana? Baik-baik saja kan?" dengan suara seraknya, Bella balik bertanya.
"Dia baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir Bella."
Pintu kamar kembali terbuka.
"Bella," seorang wanita ikut mendekat ke arahnya. Ia memerhatikan kondisi tubuhnya saat ini.
"Ini cukup serius Bella!"
Bella menggeleng pelan, "sebentar lagi juga pulih, tenanglah."
Victoria mendengus kesal. Seandainya dia tau jika selama ini yang menyembuhkan luka-lukanya itu Lucius, bukan kekuatan alami dari tubuhnya sendiri!
"Kurasa kejadian kemarin sudah direncanakan oleh vampir itu, mereka mengincarku Ben."
"Bukan hanya mereka Bella,"
Bukan hanya dua vampir itu? Lalu berapa banyak? Dan kenapa yang lain ikut mengincarnya?
"Dengar Bella, semalam Nich-lah yang datang lebih dulu sebelum kau menyuruhku melacak keberadaanmu. Kalau saja dia tak datang tepat waktu, entahlah apa yang akan terjadi pada kalian berdua."
"N-nich?"
"Ya, dia melacakmu."
"Melacakku? How can-"
Ben menghela napas, "maaf Bella, itu semua demi keselamatanmu."
Bella tampak kecewa saat mengetahui Ben bekerjasama dengan Nich.
"Tolong mengertilah..." ucap Victoria memohon. "Kita tak mau mengambil resiko-"
"Ya," potong Bella. "Yang terpenting aku selamat, benar kan?"
Bella menghela napas panjang, ia mengalihkan wajahnya ke samping.
"Bella..."
"Aku ingin istirahat,"
Victoria mengangguk. "Kuharap luka-lukanya segera pulih."
Setelah itu Ben dan Victoria keluar dari kamar secara bersamaan.
______________
Lucius memandangi halaman kastilnya yang sudah lama ia tinggalkan. Tempat ini semakin kumuh karena tak terawat.
"Selamat datang kembali di tempat kelahiranmu son!" Lazarus berjalan ke arahnya dengan percaya diri.
"Apa rencanamu kali ini?" tampaknya Lucius tak ingin basa-basi.
"Kita tak cukup kuat untuk melawan pertahanan pack Darker. Penjagaan mereka sangat kuat."
Lucius mendengus sinis. "Yang benar saja! Kau bilang sudah mempersiapkan semuanya, lalu sekarang apa?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasia»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
