Musim dingin akhirnya berlalu, udara hangat musim semi perlahan menyelimuti kastil. Dari jendela kamarnya, ia memandang salju terakhir yang mencair di bawah sinar matahari. Bella berjalan keluar kamar, membawa beberapa kopernya. Di ambang pintu, Lexy berdiri–menatapnya dengan cemas.
"Kau yakin Bella?" tanyanya dengan gurat cemas di wajahnya. "Aku masih harus memantau kondisimu!"
Bella tersenyum. "Aku sudah lebih baik sekarang, tenanglah." Ia kembali menenangkannya.
"Baiklah. Jangan terlalu banyak beraktivitas, dan kau harus meminum obat yang sudah kuresepkan, ingat ya Bella, kalua ada apa-apa–"
"Aku tahu Lexy!"
Lexy menghela napas panjang, ia mendekat lalu memeluknya cukup lama. "Kau akan baik-baik saja!" ia berusaha meyakinkan dirinya.
Bella pun membalas pelukannya, ia menepuk pelan punggung Lexy. "Pastinya." ujarnya seraya tersenyum.
Tak lama Nich datang, ia membantu Bella untuk membawakan beberapa kopernya. Pria itu yang akan mengantarnya menuju perbatasan. Bella juga berpamitan dengan orang tuanya dan yang lain.
"Aku akan menyusulmu, tunggu saja!" ucap Jeanna. Bella hanya tersenyum geli mendengarnya.
Bella kembali melanjutkan langkahnya, namun begitu sampai di depan gerbang kastil, gadis itu berhenti. Tatapannya menelisik ke arah hutan, sisa-sisa salju masih sedikit menyelimuti pepohonan. Entah kenapa dadanya terasa sesak saat ia harus meninggalkan tempat ini.
"Bella, apa yang kau tunggu?" tanya Nich lembut.
Bella segera tersadar. Ia menggeleng pelan seraya tersenyum tipis. "Ayo."
Seminggu berlalu sejak ia tiba di Indonesia. Udara tropis terasa lembab, tapi juga terasa segar. Di sudut kota kecil, aroma roti hangat memenuhi udara dari toko bakery milik Sera. Plang toko baru saja terpasang, pita merah besar di pintu masih menandakan peresmian beberapa hari lalu.
Bella Tengah sibuk dengan piring dan gelas-gelas yang baru saja dicuci. Dari jauh sera tampak memerhatikannya, ia mendekat ke arah Bella yang sedang mengelap satu persatu peralatan makan.
"Bella, istirahat ya! Dari tadi lo paling keliatan sibuk di sini, gue gak mau lo sampe kecapean terus tiba-tiba pingsan nanti siapa yang bopong coba?!"
Bella tersenyum. "Tenang aja, aku masih kuat."
Sera berdecak. "Istirahat bentar deh, sini biar gue yang ngelapin!"
"No! Ini bagianku!"
"Batu banget ni bocah! Gak kaka gak adek sama aja, genetik apa begimana sih?" cerocosnya.
Lagi-lagi Bella hanya menanggapinya dengan senyuman.
Terdengar bunyi lonceng pada pintu masuk, Bella kembali ke belakang pantry untuk membantu pelayan lain memanggang beberapa pastry.
"I'm so sorry sir ..."
Bella langsung menoleh saat salah satu pelayan terlihat kesusahan melayani pembeli yang berbahasa asing. Ia segera menghampiri pelayan itu sambil membawa seloyang pastry yang baru saja keluar dari oven.
"Excuse me, you want to order something?" tanya Bella pada sosok pria berambut hitam dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.
Bella mengerutkan dahinya, ia merasa tak asing, namun ia segera menyingkirkan perasaan anehnya itu.
"Aku mencari sesuatu, tapi sepertinya tidak dijual di sini ya. Baiklah ... aku permisi saja-"
"Mungkin aku bisa membuatkannya untukmu, kau mau apa?" cegah Bella saat sosok itu berbalik hendak meninggalkan tempat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasy»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
