Perlahan kelopak mata Bella terbuka, beberapa kali ia mengerjapkan matanya. Bella menatap ke arah sekitarnya, sebuah kamar bernuansa putih dan coklat. Tak lama setelahnya Victoria muncul dari balik pintu kamar tersebut.
"How's your feel?"
Bella memegang lehernya yang masih terasa nyeri. "Can i get some water?" Victoria mengangguk. Ia berjalan keluar kamar, lalu kembali lagi dengan segelas air putih. Bella meraih gelas tersebut, ia meneguk air tersebut hingga tandas.
"Perlahan Bella." Ujar Victoria saat melihat Bella meminum airnya dengan tergesa-gesa. Ia menatap wajah Bella yang terlihat sedikit gelisah. "Untuk hari ini lebih baik kau tak masuk kuliah dulu, istirahatlah di sini." Pintanya.
Bella terdiam, ia mencoba mengingat kembali tentang kejadian semalam. Lalu tak lama pintu kamar itu kembali terbuka, Ben datang bersama Olivia dan Stefen. Kenapa jadi ramai begini?
"Bagaimana keadaanmu Bella?"
Bukannya menjawab, Bella malah balik bertanya pada pria itu "Semalam... apa kau melihat siapa yang menyerangku?"
Ben menggeleng. "Aku hanya menemukanmu tergeletak tak sadarkan diri. Tapi yang jelas, itu ulah vampir."
Bella beralih menatap Victoria, "can you-" ujarnya terpotong sambil mengulurkan tangan kanannya. Victoria yang mengerti pun segara mendekat pada Bella. "Kau akan tahu apa yang membuatku segelisah ini, Vi." Lanjut Bella.
Dengan kemampuan melihat kilasan lalu, Victoria mencoba memfokuskan dirinya. Untuk melihat kejadian semalam. "That guy-" Victoria menggeleng tak percaya, "itu tidak mungkin, Bella!"
"Ada apa Vi?" Olivia berjalan mendekat ke arah saudaranya itu.
"Lucius!" ujar Victoria yang kini beralih menatap Ben. "Dia yang menyerang Bella semalam." Bukan hanya Ben, Olivia dan Stefen pun tak percaya akan apa yang diucapkan Victoria barusan.
___________
Eliz menatap sosok pria yang tengah berdiri menghadap ke sebuah jendela besar, ia pun mendekat ke arahnya. "Apa kita tak akan ketahuan oleh manusia jika menetap di sini?"
Eliz menatap ke sekeliling ruangan. Sebuah ruangan dengan luas 30m² yang terletak di lantai paling atas gedung ini. Ruangan yang didominasi warna hitam dan abu, juga minim pencahayaan."Kau tak ingin membeli beberapa barang untuk mengisi tempat ini?" tanya Eliz menyadari ruangan ini hanya memiliki beberapa perabotan.
"Pertanyaanmu seakan menyuruhku untuk tinggal lebih lama di sini," Lucius beralih menatap ke arah Eliz. "Jangan bilang kau lupa soal tujuan kita berada di sini. Lagi pula kita tak membutuhkan itu semua." Ketusnya.
"Bukan begitu, aku hanya-" Eliz tak lagi melanjutkan ucapannya saat tahu jika Lucius tak ingin mendengar penjelasannya. "Aku sudah tahu di mana Ben tinggal saat ini." Lapornya.
Lucius tersenyum miring, ia kembali mengingat kejadian semalam. Karena bisa saja semalam ia menangkap Ben dan membawanya kemari, namun entah kenapa Lucius menginginkan sesuatu yang lain. Sepertinya ia akan sedikit berlama-lama di sini.
"Lalu, apa rencanamu?" tanya Eliz lagu.
"Well..." Ia membalikkan tubuhnya ke arah Eliz, "kita datangi mereka, like a surprise for them." ujarnya dengan sebuah senyuman mengerikan.
___________
Bella menatap bekas lebam pada lehernya, ia kembali mengingat saat Lucius mencekiknya dengan tatapan membunuh. Tapi Bella merasa heran, jika Lucius memang ingin membunuhnya semalam, kenapa ia tidak langsung menghabisinya saja. Apa vampir itu sengaja karena tengah merencanakam sesuatu yang lain?
Sejak tadi Bella mencoba untuk melupakan kejadian semalam, tapi rasanya sangat sulit. Khawatir dan gelisah terus mengganggu pikirannya.
Alhasil ia memilih untuk keluar dari kamar, mencoba menenangkan pikirannya dengan melihat bunga-bunga yang tertanam rapih di halaman depan rumah Ben. Ia pun duduk di kursi kayu panjang yang berada di teras rumah Ben.
"Apa Stefen dan Olivia sudah pulang?" tanya Bella pada Ben yang berjalan ke arahnya.
"Baru saja," jawabnya. "Aku ingin berbicara serius denganmu Bella." Ben ikut terduduk di sampingnya. "Aku khawatir akan kejadian semalam Bella. Sejauh ini memang tak ada yang tahu siapa kau sebenarnya, tapi cepat atau lambat aku yakin dia akan tahu siapa kau. Kemampuan Lucius tak bisa dianggap remeh, dan lebih baik kau kembali ke kastil sekarang. Akan lebih aman untukmu jika kau berada di sana."
Bella menatap ke arah langit, ia menghela napasnya sesaat. "Kau salah Ben, justru aku merasa lebih aman di sini," jawab Bella membuat Ben mengernyit tak mengerti.
"My mind was tormented and my heart was broke. Mungkin kau tak tahu bagaimana rasanya dibebani sebuah ekspektasi tinggi oleh orang-orang di sekitarmu. Mereka berpikir seorang putri dari pack darker adalah sosok yang sempurna, tapi nyatanya tak seperti itu. Macam-macam gunjingan telah menjadi makanan sehari-hari selama aku berada di kastil. Dan juga, hatiku hancur saat mengetahui jika aku tak akan bisa merasakan kehadiran belahan jiwaku. Sebuah kejadian membuatku ragu untuk mencari siapa sosok mateku, aku takut untuk percaya jika dia adalah mateku yang sebenarnya. Dan sejak saat itu aku memutuskan untuk tak peduli akan hal itu, tak peduli tentang siapa sosok mateku dan mungkin aku akan menyendiri untuk selamanya."
Akhirnya Ben tahu apa yang membuat gadis ini enggan untuk kembali ke tempat asalnya, ia menatap Bella yang masih menatao ke arah langit, ia tahu gadis itu mencoba menyembunyikan kesedihannya. "Bisa dibilang itu semua luka masa kecilku. Jika mengingat semua itu, aku semakin benci untuk kembali ke tempat asalku. Hanya pada saat peperangan itu aku kembali, yah tentunya untuk memastikan semua yang berada di sana aman, hanya itu..."
Ben menghela napasnya panjang. "Baiklah, aku mengerti sekarang. Tapi aku tak bisa menjamin keselamatanmu di sini, Bella."
Bella melirik ke arah Ben sekilas. "Kau tenang saja. Kalau pun aku mati, itu bukan salahmu." Ucapnya seraya mengedikkan bahunya acuh.
"Ya, tapi saudaramu itu mungkin akan menghabisiku!" Ketusnya, Bella pun tersenyum geli mendengar ucapan Ben barusan.
____________
Setelah membeli beberapa makanan di minimarket, Bella segera kembali ke rumah Ben secepatnya. Pria itu berpesan padanya agar tak terlalu lama berada di luar saat malam hari, dan Bella mau tak mau harus menurutinya. Untungnya minimarket di sini tak terlalu jauh dari rumah Ben, hanya berkisar 200 meter. Setelah sampai di rumah Ben, Bella segera masuk dan mengunci pintu. Lalu menutup semua gorden dan melangkah ke kamarnya yang berada di paling belakang rumah ini.
"Apa kau tahu siapa sosok manusia yang tinggal bersama Ben?" Eliz menggeleng tak tahu. "Cari tahu tentangnya! Aku merasa jika ia bukan manusia, tapi sama seperti kita." Eliz pun mengangguk mengerti.
Setelah Lucius puas menatap rumah Ben, ia pun melesat pergi entah ke mana. Dan Eliz segera menyusul pria itu.
Mau fyi aja kalau next partnya bakal ada Mas Al sama Jeanna, jadi buat yg blm vote segera pencet bintangnya 😔 ayo segera!
{ 08-03-23 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasi»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
