Maapin ya guys agak lama up nya :(
Beberapa hari dihajar lembur mulu soalnya, badanku remuk semua inii😭😭 semoga kalian masih setia nungguin kelanjutan ceritanya yaa, wopp youuu🫶🏻
.
.
.
~selamat membaca
Tanpa aba-aba, Lucius menarik pergelangan tangannya dengan kasar—menyeret Bella untuk ikut bersamanya. Sepatu mereka tenggelam di salju yang makin menebal,suara desir angin menyapu daun-daun beku menjadi latar dari ketegangan di antara mereka.
“Lepaskan!” seru Bella. Ia menarik tangannya kuat-kuat dan berhasil melepaskan diri. Tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. "Aku datang bukan untuk menuruti maumu!"
Lucius perlahan berbalik menghadapnya. Salju tampak mengotori bahu dan rambutnya, tapi pria itu seolah tak terganggu sama sekali. Bella dapat melihat tatapan gelapnya, begitu mengintimidasinya.
Lalu tanpa peringatan, ia mendekat dengan langkah besar. Bella bersiap mundur, namun pria itu dengan cepat mencengram bahunya. Dan dalam satu gerakan kasar, Lucius menyambar ransel itu dan menariknya dari tubuh Bella.
“Jangan!” pekik Bella, berusaha meraihnya kembali.
Terlambat!
Dengan ayunan tangan penuh amarah, Lucius melempar ransel itu ke arah jurang.
Ransel itu terlempar, melayang sesaat di udara seperti bayangan burung mati, lalu menghilang di balik kabut dan salju, hanya menyisakan suara samar—entah mengenai batu atau pepohonan di bawah sana.
“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Bella menjerit marah, matanya membulat tak percaya. “Itu semua milikku!”
"Benda itu menyusahkan!" Ketusnya. "Dan kau tak membutuhkannya lagi setelah ini."
Tiba-tiba Lucius membungkuk dan menarik tubuh Bella, dengan sekali gerakan kini tubuh Bella sudah di bopong seperti karung beras.
"LUCIUS!" Teriakan Bella menggema di antara pepohonan. Suaranya melengking, tubuhnya terus menggeliat dan tangannya pun tak tinggal diam—terus memukul keras punggung Lucius.
"Bajingan! Turunkan aku!"
"Memangnya kau siapa berani melakukan ini padaku hah?!"
“Lepaskan aku, Lucius! Aku tidak main-main!”
Namun pria itu tak menggubrisnya sedikit pun. Rahangnya mengeras, mata merah darahnya menatap lurus ke depan. Ia membawa Bella melewati gerbang kastil tua itu, seakan tubuh gadis itu tak lebih dari sehelai kain ringan yang tak memberi beban.
Lucius terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam kastilnya, melewati beberapa anak tangga—lalu sampai di depan sebuah pintu. Lucius melangkah masuk dan tanpa peringatan, ia melemparkan tubuh Bella ke atas ranjang hitam yang membentang di tengah ruangan.
Bella terlonjak, matanya membelalak penuh amarah dan keterkejutan. Dengan napas memburu, ia bangkit berdiri di atas ranjang, lalu melangkah cepat menghampiri pria itu. Tanpa ragu, tangannya mencengkeram kerah baju Lucius dengan gemetar menahan emosi. Lucius hanya mendongak perlahan, menatap Bella dengan tatapan datar—karena kini gadis itu berdiri lebih tinggi darinya, tepat di atas ranjang tempat ia beristirahat.
"Kembalikan belatinya!"
Lucius hanya diam menatapnya. Karena kesal, Bella pun semakin mencengkram kuat kerah baju pria itu.
"Kau pikir bisa mengalahkan keluargaku?" Bella mendengus sinis. "Kau terlalu percaya diri!"
Lucius mengedipkan matanya lambat. Detik berikutnya ia menampakkan smirk andalannya, lalu tangannya terangkat—melepas cengkraman tangan Bella dengan perlahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasy»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
