“Kenapa tidak di makan?” tanyanya saat ia melihat sepiring daging yang masih utuh.
“Aku bosan jika terus makan daging rusa. Apa tidak ada makanan lain? Daging kelinci atau ayam hutan misalnya.” Ucap Bella yang kini tengah memainkan beberapa patung dan pajangan yang berada di kamar Lucius.
Lucius berdecak. “Makan saja apa yang ada,” ia pun berjongkok di depan gadis itu untuk mensejajarkan tingginya. “Kau ini sedang kuculik, apa kau sama sekali tak takut jika aku membunuhmu?”
“Lalu kenapa sampai sekarang kau tak juga membunuhku?” tanyanya dengan polos.
Lucius menyipitkan matanya, masih menatap lekat ke arah gadis kecil di hadapannya ini.
“Yah, sekarang aku percaya jika kau adik dari Alpha sialan itu. Terlihat dari kelakuanmu yang mirip dengannya, besar kepala, tidak sopan dan pandai berbicara. Kira-kira apa saja yang orang tuamu ajarkan padamu.”
Bella yang mendengar hal itu langsung cemberut, mukanya kini berubah menjadi murung.
“Kenapa dengan mukamu itu?”
“Apa tempat tinggalmu ini sangat jauh dari kastilku?”
“Memangnya kenapa?”
Bella memainkan kuku-kuku jarinya seraya tertunduk. “Apa mereka semua tak mencariku…” lirihnya.
Sudah hampir dua minggu lamanya Bella berada di kastil Lucius, apa keluarganya sama sekali tak mencari keberadaannya? Jika memikirkan hal itu Bella kembali teringat ucapan salah seorang temannya itu.
‘Apa kau tak berpikir jika kau itu beban kerajaan? Sama sekali tak bisa diharapkan!’
Jika benar begitu, apa artinya Bella sama sekali tak berharga? Apa mungkin keluarganya tak masalah jika dirinya hilang atau pun mati?
“Apa lagi sekarang?” tanya Lucius saat melihat gadis itu semakin menunduk. “Jangan bilang kau ingin pulang ke kastilmu itu?”
Bella menatap lurus ke arah Lucius. “Sepertinya mereka semua tak mengkhawatirkanku,” Lucius mengerutkan dahinya. “Jika mereka benar-benar mencariku, seharusnya aku sudah bertemu dengannya sejak awal kau membawaku ke sini.”
Akhirnya Lucius paham kenapa gadis itu tiba-tiba terlihat murung, ia menghela napasnya. “Mereka takkan mungkin menemukanmu secepat itu karena penjagaan di kastilku sangat ketat. Dan soal keluargamu itu, kupastikan mereka tengah mencarimu.”
“Kenapa kau seyakin itu?” tanya Bella.
Lucius menatap intens ke arahnya. “Karena tujuanku menculikmu, tak lain untuk memancing kehadiran mereka kemari.”
Dan rupanya ucapan Lucius itu terbukti, karena dua hari setelahnya pasukan dari pack darker datang ke kastilnya.
“Semua sudah kusiapkan seperti yang kau minta. Kenapa kau seyakin itu jika Arthur dan pasukannya pasti akan mengepung kastil kita? Memangnya apa yang sudah kau perbuat?”
“Seperti biasa, hanya mengacau di daerah perbatasan mereka.” Jawabnya dengan santai.
Lama menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. King Arthur dan pasukannya datang menyerbu kastil milik vampir dari clan dominic itu. Lucius menatap sengit ke arah Alaric, lawannya dalam peperangan kali ini adalah sosok Alpha itu. Sosok yang telah membunuh ibunya beberapa tahun yang lalu, ayahnya mengatakan jika Alaric lah yang sudah menghabisi nyawa ibunya.
“Kau siap?” tanya Lazarus.
Lucius merenggangkan otot-otonya. “Sudah sangat siap.” Ia pun melangkah maju mendekat pada pasukan serigala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasi»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
