Ucapan Lucius barusan tentunya membuat Bella terkejut, ia menatap tajam ke arah pria itu yang juga tengah menatapnya tanpa ekspresi.
Detik berikutnya Bella tersenyum sinis. “Kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu itu?” ujarnya disusul tawa mengejek. “Simpan omong kosongmu! Oh atau mungkin ini bagian dari rencanamu? Memanfaatkan kelemahanku dengan berpura-pura mengaku sebagai mateku. Jika benar begitu lupakan saja karena aku tak akan masuk perangkap licikmu itu!”
“Ya tentu kau tak akan percaya begitu saja, apalagi dengan keadaanmu saat ini. Kira-kira, apa yang membuatmu menjadi werewolf cacat seperti ini?” tanyanya dengan santai.
“Shut up! Beraninya kau bertanya seperti itu, kau pikir kau siapa huh?”
“Bukankah sudah kukatakan jika aku matemu, dan kita pernah bertemu sebelumnya. Kau melupakan semuanya, Bella. Apa perlu kuingatkan lagi?”
Bella tak menghiraukan ucapan Lucius, ia terus berusaha melepaskan diri dari rengkuhan vampir ini. “Lepas!” Bella menggeram kesal saat Lucius semakin mengeratkan lingkaran tangannya.
“Haruskah aku melakukan sesuatu seperti… menandaimu? Dan mungkin saja itu bisa menyembuhkanmu, kau tak ingin cacat selamanya bukan?” ujarnya asal.
Seketika mata Bella membulat. “Jangan berani melakukan itu padaku!” ia semakin terlihat panik saat sepasang netra merah itu menatap lekat ke arah lehernya. Bella terus berontak, mencoba mendorong dan memukul dada Lucius dengan tangannya.
“Aku selalu penasaran dengan rasa darahmu, sejak awal kita bertemu.”
Wajah Lucius yang semakin mendekat ke arahnya membuat Bella berpikir jika pria itu benar-benar akan melakukannya, ia pun memejamkan matanya rapat-rapat.
“Sial!”
Setelah pria itu mengumpat kasar, Bella tak lagi merasakan sebuah tangan yang melingkari tubuhnya. Ia pun tak lagi mendapati sosok Lucius saat membuka matanya. Bella mengedarkan pandangannya ke sana kemari mencari sosok vampir itu dengan raut kebingungannya.
“Kenapa tiba-tiba dia menghilang?” lirihnya.
_____________
Pagi ini Bella berangkat ke kampus seperti biasanya. Tentang kejadian semalam itu, Bella tak menceritakannya pada keluarga ainsley, sengaja ia lakukan karena tak ingin membuat mereka semakin khawatir akan dirinya.
Bella pun mencoba mengabaikan dan melupakan tentang perkataan Lucius malam itu.
“Mate?” Bella berdecih seraya terkekeh sinis, “apa lagi yang kau rencanakan kali ini.”
Bella yang semula tengah fokus pada buku pelajarannya, tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arah pintu kelas saat mendengar suara bising dari arah tersebut.
“…thanks udah ngundang gue ya bro, semalam asik banget sih gokil!”
Pria itu mengangguk dan tersenyum senang. Setelahnya mereka kembali membicarakan perihal acara party semalam. Hanya itu yang Bella dengar, ia hanya mengedikkan bahunya acuh dan kembali terfokus pada bukunya.
“Semalam lo pulang sama siapa Bel?”
Bella menoleh ke arah samping, “sendirian,” jawabnya singkat.
“Gak sama Dion?” tanyanya lagi sambil melirik ke arah sosok yang baru saja disebutnya.
Bella menggeleng dengan tatapan yang masih tertuju pada bukunya. Sedangkan sosok perempuan di sampingnya itu mengernyit bingung.
“Perasaan gue lihat lo gandengan sama Dion keluar dari bar, gue kira lo sama tu cowok Bel makannya gue balik duluan.”
Bella mematung, pikirannya kembali teringat akan semalam. Sekilas ingatan muncul di kepalanya.
.
.
.
“Bisa kau berikan aku satu botol? Dengan kadar alcohol paling tinggi.”
“… gue gak nyangka lo akan datang di acara ini,”
“You drunk Bella!”
“Don’t bother me!”Bella mengerang kesal saat ponselnya terus berbunyi.
“And you have incoming call on your phone…”
“… nikmati pestanya, aku akan kembali setelah ini.” sebelum berlalu, pria itu mengambil sebotol vodka di meja bar.
.
.
.
“Sial! Kenapa aku tak menyadarinya,” tiba-tiba Bella memaki, membuat seseorang di sampingnya ikut terkejut.
“Kenapa Bel?”
Ia baru sadar jika pria itu sengaja menukar minumannya dengan minuman yang sengaja diberi obat tidur. Pantas saja ia tak ingat apa-apa setelah keluar dari Bar itu!
Lagi-lagi Bella hanya menggeleng seraya tersenyum tipis ke arah Freya.
“Serius Bel?”
“Ya, don’t worry! I’m okey.”
Seketika tatapan Bella terarah pada sosok yang berjalan ke arah bangku di belakangnya. Ia menatap tajam ke arah pria itu, namun pria itu malah menaikkan sebelah alisnya, merasa heran ditatap seperti itu oleh Bella.
“Apa ada yang salah?”
“Bisa-bisanya kamu mengatakan itu setelah apa yang kamu lakukan semalam. Apa yang kamu inginkan sebenarnya, huh?”
“Wow tenang girl, lo gak salah orang kan? Gue aja baru kenal lo hari ini,” ujarnya. Seketika Bella mengerutkan dahinya, begitupun dengan Freya.
“You kidding me?”
“Y-ya gue serius,” ujarnya dengan wajah teramat serius. “Tapi kalau lo maksa mau kenalan sama gue, ya gue gak masalah sih,” ucapnya lagi seraya tersenyum manis ke arahnya.
“Kenalin, gue Dion!” ujarnya sambil mengulurkan sebelah tangannya.
“What the fuck is this?!”
______________
“Everythings oke?” Bella menoleh ke arah sosok yang berdiri tepat di sampingnya itu, ia mengangguk dan tersenyum tipis sebagai jawaban.
Pandangannya kembali beralih pada pohon mawar di hadapannya, tangannya bergerak membelai kelopak bunga berwarna merah itu.
“Tapi kurasa kau tidak baik-baik saja,” ujarnya lagi, namun Bella masih terdiam. “Apa ini karena Noah?” Victoria kembali bertanya.
Pasalnya sejak kedatangan Noah kemari, sikap Bella jadi berubah drastis. Gadis itu banyak terdiam dan hampir seharian ia mengurung dirinya di kamar.
“Aku tak tahu apa yang terjadi di antara kalian, juga… dia kemari karena—”
“Iya aku tahu Vi,” Bella kembali menatap Victoria dengan raut wajah yang terlihat gusar. “Bukankah Ben sudah mengatakannya berkali-kali?” Victoria tersenyum ke arahnya seraya mengangguk.
“Aku sendiri bingung dengan diriku, bagaimana aku harus bersikap dan apa yang harus aku lakukan saat tahu dia kemari karena aku,” Bella mendengus geli, “untuk melindungiku maksudnya,” nada bicaranya terdengar sedikit sinis.
Jujur Victoria sendiri bingung apa yang harus ia lakukan agar Bella bisa kembali ceria seperti sebelumnya. Karena sungguh ia tak tahu-menahu tentang masalah di antara mereka berdua. Tapi jika ia disuruh menebak, ada raut kekecewaan yang tersirat di wajah gadis itu.
Sepertinya itu menyangkut tentang perasaan, benar atu tidaknya Victoria tak bisa menjamin akan hal itu.
“Dia memilih tinggal di sebuah apartemen yang letaknya lumayan jauh dari sini,” ujarnya memberitahu. “Kalau kau butuh sesuatu katakan saja Bella. Misalnya saat kau merasa keberatan jika pria itu kembali lagi ke sini.”
“Memangnya apa yang akan kau lakukan?”
Victoria mengedikkan bahunya, “mengusirnya, mungkin…” mereka berdua malah terkekeh bersama.
Seperti biasa, mari ramaikan Vote & Komen-nya
Masih mau lanjut kan?
Ayolah pencet bintangnya, jangan jadi silent readers ya guys :(
( 09-07-23 )
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasy»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
