Sebelumnya aku mau ucapin Heppi new year buat readersku semuaa*\O/*
Semoga tahun ini bisa lebih baik dari tahun² sebelumnya. Dah ganti tahun lagi aja nih. Perasaan kek cepet banget, iya ga sih guyss???
Anw, maapkeun author updatenya lama😁
Tandain kalau ada typo!!!
.
.
.
.
.
Tak semua orang menyukai jam kuliah di pagi hari, termasuk Bella. Karena terburu-buru ia hanya membuat sarapan roti panggang dengan tambahan telur mata sapi.
“Bau gosong apa ini?” suara Victoria memecah lamunannya.
“Oh shit!” Bella segera mematikan kompor, mengambil telur dengan spatula lalu melihat bagian bawah telur itu yang gosong sempurna.
“Overcook right?” ujar Bella tersenyum menampilkan giginya.
Victoria mengambil alih posisinya, mengambil sebuah telur dan menyalakan kembali kompor tersebut. Sedangkan Bella hanya diam memerhatikannya dari meja makan.
“Apa mata kuliah sangat membebanimu Bella?”
“Tidak juga,” Victoria menoleh sekilas ke arahnya.
“Bukankah seharusnya liburanmu selama seminggu itu bisa mengurangi beban pikiran?”
Liburan? Hah yang benar saja!
Bella memaksakan senyumnya.“Liburanku terasa mencekam Vi, kalau saja kau tau yang sebenarnya–” lagi-lagi Bella menghela napasnya. “Lupakan saja!”
“Tak apa Bella ceritakan saja, terkadang beberapa hal tak sesuai ekspektasi kita ya contohnya liburanmu itu.”
“Apa yang telah bajingan itu lakukan padamu,” ucap Bella teramat pelan.
“Huh? Apa yang kau-”
“Oh Vi! Sepertinya temanku sudah menunggu sejak tadi,” ujarnya memotong perkataan Victoria. Bella mengambil eggtoast-nya lalu segera pergu meninggalkan Victoria.
“Aku berangkat yah!” suara
_________________
Suhu udara yang terus meningkat dan juga silau matahari yang semakin menyorot kulitnya membuat rona merah di pipi Bella semakin jelas. Semenjak tinggal di kota ini ia harus terbiasa dengan panasnya matahari terutama di siang hari.
Bella kembali mengerang sambil terus mengipasi wajahnya dengan kedua tangan.
“Harap dimaklumi yaa, kita ini tinggal di negara yang mataharinya ada banyak. Jadi kalau siang ya begini!” sama halnya dengan Bella, temannya ini pun ikut mengipasi wajahnya namun dengan sebuah kipas kecil di tangannya.
“Anjirr kipas gue aja ga ngaruh buat ngademin muka!” ujarnya lagi.
“Aku ingin makan es satu mangkuk penuh!”
“Enaknya mah berendem air es Bell!” ia melirik sekilas ke arah Bella. “Lagian lo juga udah bener tinggal di negara lo, malah ke sini. Noh liat kan badan lo aja ngerespon kalau lo ga cocok tinggal di sini.” tunjuknya ke arah wajah Bella yang memerah.
“Gue ga ngerti lo nyari apa dah di sini. Udah enak di sana cuaca adem, tempat tinggal nyaman, nyari kerja gampang, gaji gede, ga ada tawuran, orangnya cakep-cakep. Lah di sini, apa yang lo cari coba?”
Bella berdecak, “tinggal di sana dan di sini sama saja, sama-sama menyebalkan!”
Dengan sedotan yang masih menempel di bibirnya, Freya menggeleng cepat. “Sekesal-kesalnya tinggal di sana, lo bisa liat salju turun langsung dari langit kan Bell! Please pasti seru banget liat pohon-pohon besar yang di hujani salju!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasía»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
