Bag 31. Good to meet u again

912 86 25
                                        

"Bagaimana perkembangannya?"

"Semakin memukau!" Eliz tersenyum senang. "Kemampuan putramu semakin mirip dengan ibunya."

Dari kejauhan, dua orang itu masih setia memperhatikan Lucius yang tengah bermain anak panah sambil memakai penutup mata. "Dia berlatih sangat keras. Oh rasanya aku tak bisa berhenti mengagumi kehebatannya saat ini."

Lazarus mengangguk setuju. "Yah, kemampuan sehebat itu tak boleh disia-siakan." ia menoleh ke arah Eliz. "Kita serang Arthur secepatnya!"

Mereka berdua tersenyum licik.

Dari kejauhan Lucius bisa mendengar jelas percakapan antara ayahnya dan Eliz. Pria itu mengatupkan rahangnya. Ia menarik busur panah kuat-kuat, penutup di matanya tak menjadikannya penghalang untuk membidik tepat sasaran.

Lucius mengarahkan panahnya ke atas langit. Begitu terlepas, anak panah itu melesat mengenai seekor burung berukuran kecil. Lucius melepas penutup matanya, ia menatap ke arah burung tersebut.

"Poor little bird."

Sepertinya Lucius mulai memperlihatkan sifat aslinya. Wajah datar dan dingin, tak ada rasa belas kasihan.

Pria itu tiba-tiba melesat menuju hutan. Ia mencari mangsa untuk menuntaskan rasa laparnya. Berharap darah rusa akan membuat suasana hatinya kembali membaik.

____________

"Gue seneng banget denger lo balikk!" Jeanna begitu excited sejak kedatangannya kembali ke kastil. "Betah banget ya di sana sampe harus digeret Nich."

Raut wajah Bella berubah datar. Sadar akan hal itu Jeanna mengganti topik pembicaraannya.

"Oh iya! Lo kan kuliah, berarti lo ambil cuti ya? Atau- gimana? Btw enak gak jadi mahasiswa? Makanan gimana makanan! Pasti enak-enak dong, gue jadi kangen seblak nihh!"

Bella tersenyum seraya mendengus. "Jadi, mana dulu yang harus kujawab?"

"Eh! Sorry gue terlalu semangat, ga sabar mau denger banyak cerita dari ade ipar hehe. Sebenarnya gue lagi kangen bangett sama suasana rumah, mama papa juga! Abang Stefen yang paling ganteng! Teruus Olivia, apalagi sama trio bestie gue! Teruss-"

"Kau tak merindukanku?"

"Iya lo juga! Gue kan belom selesai nyebutinnya." Jeanna mencebikkan bibirnya.

Lagi-lagi Bella mendengus geli. Seperti yang Alaric ucapkan, Jeanna semakin cerewet sekarang. Mungkin karena hormon ibu hamil.

"Mereka apa kabar ya Bel,"

"Semua baik-baik saja Je. Kau tak perlu khawatir." Bohongnya.

Jeanna mengerutkan bibirnya. "Pasti sih! Mereka pasti lagi senang-senang di sana! Lagi seru-serunya sama kegiatan kampus nih."

Dulu sebelum ia bertemu Alaric, Jeanna sempat punya mimpi untuk menjadi bagian dari tenaga medis. Sama seperti Sera yang sekarang mengambil jurusan kedokteran, Jeanna pun sempat punya keinginan untuk menjadi dokter.

Tapi takdir berkata lain, Alaric lebih dulu mempersuntingnya menjadi belahan jiwanya. Dan Jeanna sama sekali tak menyesalinya!

"Kau mau kuliah juga ya?"

"Pengenn banget banget bangett! Mau ngerasain jadi mahasiswa! Tapi yah, udah begini jalannya..."

"Sekarang tak menyesal kan Je?"

"Engga dong! Justru sekarang gue bersyukur banget ketemu abang lo!"

Mereka berdua saling tertawa sambil bertukar cerita.

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang