Sinar mentari pagi menyusup lembut melalui celah tirai, menari di udara sebelum akhirnya jatuh di atas wajah Bella. Kelopak matanya bergerak pelan, terganggu oleh cahaya hangat itu. Ia mengerjap beberapa kali hingga pandangannya mulai jelas.
Bella mengerang pelan karena tubuhnya terasa pegal, ia membenarkan selimut untuk menutupi tubuh atasnya yang polos. Namun sesuatu terasa menahan geraknya-sepasang lengan kekar melingkar erat di perut Bella. Ia juga merasakan napas hangat menyentuh tengkuknya, Bella tersenyum samar ketika sadar siapa pemilik pelukan itu.
Perlahan, ia memiringkan tubuhnya, cukup untuk bisa melihat wajah pria yang masih terlelap di belakangnya. Lucius. Wajah yang selama ini hanya bisa ia bayangkan setiap kali rindu, kini terbaring begitu dekat.
Bibir Bella melengkung tipis. Jari-jarinya yang lentik terulur, menyusuri rambut hitam pekat yang sedikit berantakan, lalu turun menyentuh alis tebalnya. Ia mengulum senyumnya saat jarinya berhenti di hidung mancung pria itu.
Sebelum tangannya sampai ke bibir Lucius, sepasang mata merah itu lebih dulu terbuka. Bella sontak menarik tangannya dan pura-pura menatap ke arah lain.
Lucius tersenyum, lalu dengan suara beratnya yang masih serak ia berbisik, "teruskan saja, aku suka saat tanganmu menyentuhku Bella."
Wajah Bella langsung memanas, otak cantiknya kembali mengingat kilasan kejadian semalam. Bella menggigit bibir bawahnya.
'Astaga, memalukan!'
Lucius terkekeh pelan, lalu ia menarik Bella lebih dekat hingga tubuh kecil itu hampir tenggelam di dada bidangnya.
"Lucius ..." gumam Bella berusaha protes.
Lucius malah menunduk dan mencium bibirnya pelan-lama, dalam, dan penuh kehangatan yang membuat jantung Bella kembali berdebar tak karuan. Saat akhirnya mereka melepaskan ciuman, hidung keduanya saling bersentuhan lembut. Bella menatapnya lama, lalu berusaha menjauh sedikit.
"Tetap seperti ini, Bella!" Pria itu kembali menarik tubuhnya.
"Aku tidak nyaman," ujar Bella gugup. Lucius malah mengelus punggung polosnya.
"Ceritakan padaku, aku ingin mendengar semuanya!" Bella mencoba mengalihkan rasa gugupnya.
"Apa yang ingin kau dengar, hmm?"
Bella menghela napasnya saat Lucius masih saja menggodanya. "Aku serius!"
Lucius menatapnya sejenak, lalu tertawa kecil. "Baiklah. Kau harus dengarkan ini baik-baik!" Bella kemudian mengangguk.
"Eliz mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan nyawaku,"
"Tunggu-apa? Eliz? Bagaimana bisa?"
"Aku belum selesai Bella!" Ia mencubit pelan ujung hidung Bella.
"Baiklah ... lanjutkan!"
"Eliz membawaku ke sebuah tempat terlarang yang ada di balik pegunungan dan lembah curam. Aku yakin kau pasti tau tempat terkutuk itu," suara Lucius terdengar serak, matanya menerawang jauh. "Aku sendiri tak menyangka Eliz akan senekat itu menemui pemilik kastil itu."
Bella menatapnya, napasnya tertahan. "Apa kau-membuat kesepakatan dengannya?
Lucius menggeleng pelan. "Bukan aku, tapi Eliz yang melakukannya. Raja iblis itu menyetujui permintaannya-Eliz mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku, kekuatan gelap yang ada di tubuhku ikut diambil untuk membayar harga itu."
Bella menunduk, tatapannya berubah sendu. "Jadi ... Eliz menukar hidupnya demi menyelamatkanmu?"
Lucius menatapnya, senyum pahit menyelinap di sudut bibirnya. "Dia masih hidup, hanya saja ... kuharap dia baik-baik saja di sana."
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasy»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
