Bag 4. The first plan

2.5K 210 4
                                        


Bella melirik sekilas ke samping, melihat sosok pria yang tengah fokus menyetir. "Kau tak keberatan kan?" tanyanya dengan hati-hati.

Yah, setelah memastikan mobilnya di derek dan dibawa ke bengkel, Bella menghubungi Ben dan meminta untuk menjemput dirinya.

Ben tersenyum namun pandangannya masih setia menatap jalanan di depannya. "Seharusnya saat itu kau ikut pulang bersama kedua orang tuamu, Bella." Ujarnya membuat raut wajah Bella tertekuk.

"Aku kembali ke kastil?" Bella berdecih seraya tertawa sumbang. "Yang benar saja..."

"Sebenarnya apa yang membuatmu menolak keras untuk kembali ke tempat asalmu itu?" tanya Ben.

Bella terdiam sejenak sambil memainkan dashboard mobil. "Kau kan tahu aku tak sama seperti mereka," jawabnya membuat Ben menaikkan satu alisnya. "Aku werewolf cacat, Ben!" ujarnya lagi.

"Apa itu menjadi masalah besar bagi keluargamu?"

"Bisakah kita tak membahas ini?" akhirnya Ben memilih diam saat Bella sedikit meninggikan suaranya. "Maaf...," ucap Bella saat menyadari ia kelewat batas.

"It's oke. Aku tak akan bertanya lagi jika itu membuat suasana hatimu memburuk."

Bella menghela napasnya. Sungguh, ia tak ingin membahas soal ini lagi. Sebenarnya ada hal lain yang membuat Bella memilih untuk tinggal di dunia manusia. Satu hal itu yang membuat Bella ragu dan akhirnya memutuskan untuk tak peduli soal siapa dan di mana keberadaan matenya.

____________

"Ben, dia adalah kunci dari semua ini," Lazarus menatap Eliz dengan lekat. "Kau harus mencari keberadaan sepupumu itu, Eliz."

"Tapi, bukankah dia sudah berkhianat, Yang mulia?"

Lazarus menggeram tertahan. "Lakukan saja apa yang kuperintah!" Eliz pun mengangguk, setelahnya ia pergi meninggalkan dua orang lelaki itu.

"Bagaimana keadaanmu?" ia beralih menatap putranya.

"Sama seperti sebelumnya. Kau bilang jika darah manusia yang lahir tepat saat bulan purnama merah akan menyembuhkan luka ini, tapi apa buktinya?!" ujarnya dengan kesal.

Lazarus menghela napasnya sesaat, ia mendekat ke arah anaknya itu. "Selama ini, aku hanya memberimu darah manusia biasa," Lucius menatap tak percaya ke arah ayahnya itu. "Karena tidak mudah untuk mencari manusia yang terlahir tepat saat bulan purnama merah, bisa dibilang itu sangat langka. Kau harus bersabar son!"

Senjata berbahan perak memang menjadi kelemahan makhluk immortal, karena secara tak langsung, perak dapat memperlambat proses penyembuhan luka. Yang lebih parah lagi jika itu tepat mengenai jantung, sudah pasti mereka akan mati! Namun di sisi lain, Lazarus mencoba peruntungan dengan melakukan ritual pembangkitan yang dilakukak tepat pada bulan purnama merah. Dengan menggunakan darah manusia yang lahir saat bulan purnama merah, ia yakin jika putranya akan kembali hidup.

Lazarus kembali mengingat saat peperangan itu, Alaric menghabisi hampir seluruh pasukannya dan untungnya ia berhasil melarikan diri. Dengan bantuan Eliz, Lucius pun di pindahkan ke tempat yang lebih aman. Lazarus terkejut saat mendapati belati yang berada di dada kiri putranya itu hilang. Semua rencananya gagal! Ia bahkan kehilangan gadis itu. Di saat ia merasa putus asa dan berpikir tak ada cara lagi untuk membangkitkan putranya, saat itu juga Lazarus melihat tangan Lucius bergerak.

Tentu saja hal itu membuat dirinya terkejut bukan main. Lazarus sendiri tak tahu kenapa itu bisa terjadi. Segala cara Lazarus lakukan untuk membuat putranya kembali bangun. Dengan kemampuannnya sendiri, ia mencoba menyembuhkan luka di dada pria itu. Ia masih tak percaya saat melihat Lucius perlahan membuka matanya. Dan mulai saat itu Lasarus kembali menyusun rencana balas dendamnya bersama sang anak.

Lucius membuang mukanya seraya mendengus kesal. "Bagaimana aku bisa membalaskan dendamku jika keadaanku saja masih seperti ini!" geramnya. Ia kembali menyentuh bekas lukanya saat merasakan nyeri pada dada kirinya itu.

"Lebih baik kau kembali istirahat. Kondisi tubuhmu masih sangat buruk, Lucius."

Lucius menggeleng. "Tugas yang kau berikan pada Eliz, serahkan padaku!"

"Jangan gila Lucius, tubuhmu masih sangat lemah!"

"Kalau begitu aku akan mencari darah manusia yang kau sebut langka itu! Biarkan aku mencarinya sendiri, Yang mulia." Setelah itu Lucius keluar dari ruangan ayahnya.

___________

Bella membuka pintu kamarnya, ia berjalan ke arah kulkas dan mengambil sebotol air mineral.

"Kau tidak berangkat kuliah?" Bella menggeleng dengan pipi yang menggembung.

"Kelasku siang, jadi aku bisa bersantai pagi ini." Ia kembali meneguk minumnya. "Di mana kekasihmu?"

"Dia pergi ke rumah Stefen." Jawabnya. "Apa kau mimpi buruk semalam?" Victoria balik bertanya.

Bella mengerutkan keningnya. "Aku mendengarmu merintih semalam, apa kau baik-baik saja?"

"Itu hanya mimpi buruk, mungkin karena aku tidur di tempat yang baru." Victoria berjalan mendekat ke arah Bella, ia hendak meraih tangan gadis itu namun Bella lebih dulu menepis tangannya.

"Aku tahu apa yang akan kau lakukan. Sungguh aku baik-baik saja!" Victoria dapat melihat kegelisahan di wajah Bella, ia hendak melihat apa yang ada di mimpi gadis itu. Namun ia juga tak dapat memaksa untuk melakukannya saat mendapat penolakan dari Bella.

"Kau tidak memasak?"

Victoria menaikkan sebelah alisnya. "Kau tak lupa siapa aku kan?"

Bella tersenyum menampilkan deretan giginya. "Kukira kalian juga butuh asupan karbohidrat, seperti aku." Bella berjalan ke arah meja makan dan duduk di kursi tersebut. "Jadi, apa hanya ada roti?"

"Kau masak sendiri saja, semua bahannya ada di dalam kulkas. Jangan memintaku untuk memasakkanmu makanan, karena aku bukan Olivia!" tak seperti saudaranya yang sangat pandai memasak, Victoria justru sebaliknya. Ia bahkan tak tahu cara menggunakan peralatan masak yang benar.

Bella mengerucutkan bibirnya. "Sepertinya aku akan membeli makanan di luar saja."

"Jangan bilang kau juga tidak bisa memasak?"

Bella menatap lekat Victoria. "Tentu saja aku bisa! Hanya saja, rasanya sedikit aneh."

"Itu sama saja."

Bella mengedikkan bahunya acuh, lalu ia berdiri. "Aku ingin keluar mencari makan. Apa kau ingin kubelikan sesuatu? Makanan ringan misalnya?"

"Baiklah, mungkin aku ingin sebotol minuman dengan rasa darah yang sangat manis. Bisa kau belikan?" Bella menatap tajam ke arah Victoria.













Seperti biasa mau ngingetin, jangan lupa Vote & Komen yang banyak!!!

{ 01-03-23 }

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang