Tubuh Bella didorong cukup keras hingga membentur lantai. Bella menatap ke arah sekitar, sebuah bangunan kosong yang sepertinya sudah lama tidak dihuni.
“Makanan sudah datang,” ujar pria yang tadi menarik tubuhnya hingga ke tempat ini. Bella kira ia hanya berurusan dengan satu vampir, sialnya ada tiga vampir sekaligus di tempat ini. Ketiga lelaki itu menatapnya dengan tatapan lapar.
Dan bisa dipastikan jika Bella tak dapat lolos!
“Jadi ini tempat persembunyian kalian huh?”
Salah satu vampir itu mendekat ke arahnya, “akhir-akhir ini kami sulit mendapatkan makanan karena kalian balik memburu kami,”
Bella tertawa sinis, “kalian memang pantas diburu! Ah tidak, lebih tepatnya dimusnahkan. Makhluk licik seperti kalian tak pantas hidup!”
Vampir itu berjongkok tepat di hadapan Bella, satu tangannya mencengkram kuat rahang Bella hingga ia mengerang sakit. “Dan kau, sudah sepantasnya kau menjadi makanan kami. Makhluk lemah!”
Seperti apa yang dipikirkannnya, vampir ini mengira jika dirinya adalah manusia.
“IM NOT HUMAN!” teriak Bella, ia mengambil sesuatu dari balik saku celananya.
“Akkh!” vampir itu mengerang kesakitan saat Bella menggoreskan sesuatu ke tangan vampir itu. “Sialan!” pria itu menatap tak percaya sekaligus heran saat Bella mengetahui kelemahannya.
Untung saja Bella selalu membawa benda ini, sebuah pemantik yang juga pisau lipat dan tentunya berbahan dasar perak. Bella sengaja menyuruh seseorang untuk membuatkan benda khusus seperti ini.
Pertama, ia bisa saja menusuk atau bahkan melukai vampir dengan pisau ini. Dan setelahnya, ia bisa membakar tubuh vampir itu dengan pemantik ini. Multifungsi bukan?
Bella menodongkan pisaunya ke arah ketiga vampir itu. “Kau mungkin memang tahu kelemahan kami, tapi sepertinya itu akan sia-sia.”
Bella bersiap melawan saat vampir lain mendekat ke arahnya, dengan kemampuan yang ia miliki selama ia berlatih bela diri dulu, Bella mencoba mengarahkan pisaunya mengenai titik kelemahan vampir itu.
Hingga ia berhasil melukai rahang vampir itu, Bella mengencangkan pegangan pisaunya dan mengarah tepat pada jantung vampir itu. Namun sepertinya kecepatan tangan Bella tak sebanding dengan kecepatan tangan vampir itu. Tubuh Bella lebih dulu didorong dengan kuat, ia terpental ke samping hingga menabrak kaca jendela.
Bella mengerang saat sekujur tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa. Untung saja kepalanya ia lindungi dengan tangan sehingga pecahan kaca itu lebih dulu mengenai tangannya. Pisau yang berada digenggamannya terlepas begitu saja dan hilang entah ke mana.
Ia menatap pakaiannya sendiri, kemeja kotak-kotak berwarna beige itu dipenuhi darahnya. Bella meringis, dengan tangan gemetar ia mencabut beberapa kaca yang menancap pada tubuh bagian kanannya. Ia pasrah saat vampir itu kembali mendekat ke arahnya.
Di luar dugaannya, suara benda yang terbanting dengan keras lebih dulu terdengar. Ia pun langsung menatap ke arah sumber suara, Bella menganga tak percaya saat melihat ketiga vampir itu sudah terbaring tak sadarkan diri di lantai dengan kondisi yang cukup mengenaskan!
Ia mendapati seseorang tengah berdiri dan menatapnya tajam, sudah pasti sosok itu yang melakukan ini semua! Sosok itu berjalan mendekat ke arahnya, dan tentunya itu membuat Bella kembali panik dan ketakutan.
Ia terus menyeret tubuhnya mundur, bahkan beberapa kali mencoba bangkit tapi tetap saja tidak bisa!
Bella memejamkan matanya saat sosok itu tepat berdiri di depannya, lalu berjongkok. Ia sudah siap akan apa yang terjadi setelahnya, namun sepertinya lagi-lagi dugaannya salah.
Bella merasakan sebuah tangan melingkar di antara punggung dan kedua kakinya. Lalu setelahnya tubuhnya terasa melayang, sosok itu membawa tubuh Bella keluar dari bangunan tua ini.
_____________
Lucius meletakkan tubuh Bella dengan sangat hati-hati di sofa, lalu ia berjongkok. Matanya menatap lengan Bella yang penuh darah lalu kembali menatap mata gadis itu yang berkaca-kaca. Ia berdiri dan berlalu untuk mengambil sesuatu, Bella menatap ke arah sekeliling, ruangan yang minim cahaya, juga tak banyak barang perabotan.
Tak lama pria itu kembali dengan sebuah kotak dan sebaskom air di tangannya, ia menyalakan saklar lampu agar ruangan lebih terang. Lucius kembali mendekat ke arah Bella, pria itu hendak membuka kancing kemejanya namun Bella lebih dulu menyilangkan tangannya.
“Apa kau gila?” Bella terlihat panik.
“Anggap saja begitu,” ujarnya santai, ia kembali melanjutkan aksinya dengan mencoba membuka kancing kemeja yang Bella kenakan.
“Lucius!” peringat Bella.
“Diamlah! Aku sudah menggila sejak tadi,” netra merah itu menatap nyalang ke arahnya. “Kau pikir mudah bagiku menahan diri untuk tidak menghisap habis darahmu itu, huh?!”
Bella terdiam, namun ia masih berusaha menghalangi Lucius. Bagaimana pun ia tak akan membiarkan Lucius melakukan itu!
“Kalau begitu biar aku sendiri yang mengobati lukaku,” Lucius tak menghiraukan, ia semakin mendekat ke arah Bella dan tentunya itu semakin membuat Bella panik.
“Fine!” Bella meraih gunting dari balik kotak P3K itu dan menggunting bagian lengannya, dan Lucius bisa melihat jelas luka pada lengan gadis itu. “Hanya lenganku yang terluka.”
Bella mengalihkan wajahnya ke samping saat Lucius meraih lengannya. Dengan telaten ia mengobati lengan Bella, mengambil beberapa serpihan kaca yang masih tertinggal, membersihkan darahnya, mengoleskan obat dan berakhir dengan perban.
“Sepertinya bukan hanya lenganmu yang terluka,” mata Bella mengikuti arah pandang Lucius pada pinggangnya.
“Aku akan mengobatinya sendiri,”
“Sekalian saja—”
“Aku bisa sendiri!” selanya. “Di mana toiletnya?” tanyanya buru-buru.
Lucius menengadahkan kepalanya ke sebuah pintu. Bella pun bergegas mengambil kotak P3K dan berjalan ke arah pintu itu dengan tertatih.
Bella segera masuk ke dalam toilet dan tak lupa mengunci pintu tersebut. “Sial! Situasi macam apa ini?!”
Ia berjalan ke arah wastafel, melihat pantulan dirinya yang terlihat berantakan dengan baju yang sudah robek dan kotor karena darah. Ia melepaskan kancing kemejenya satu persatu lalu menanggalkan pakaiannya, menyisakan tank top hitam yang melekat pada tubuhnya.
Bella menarik tank topnya hingga memperlihatkan pinggang bagian kanannya yang terluka akibat pecahan kaca, dan sepertinya bagian pinggul dan pahanya pun juga terluka.
Perlahan tangannya mulai bergerak menanggalkan celana bahannya untuk mengobati luka-lukanya itu. Bella mengobati setiap luka pada tubuhnya, sambil sesekali menatap was-was ke arah pintu kamar mandi. Ia hanya berharap semoga saja sosok di luar sana tak mendobrak pintu itu.
Lucius ini...
Modusnya ye bang 'sekalian saja'_-
Seperti biasa ramaikan Vote & Komennya
Author bakal up sesuai banyaknya Vote & Komen dari klean :)
( 22-07-23 )
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasia»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
