Hari ini Bella memutuskan untuk berangkat ke kampus setelah kemarin ia libur kuliah, untungnya bekas lebam di lehernya sudah memudar. Bella berdiri di hadapan cermin panjang yang berada di kamarnya.
“Setidaknya pakaian di sini jauh lebih nyaman dibandingkan dress yang berada di kastil,” ujarnya seraya memakai outer rajut warna cream. Setelah itu ia mengambil tas selempangnya lalu berjalan keluar kamarnya.
Bella melangkah ke arah sebuah kulkas dan mengambil dua butir telur dan memanggang dua lembar roti. Ia berniat membuat egg toast sandwich, sarapan yang simpel dan tentunya mudah untuk dibuat. Ia pun duduk di meja makan dan menyantap egg toast sandwichnya itu. Selesai dengan sarapannya, Bella menaruh peralatan makan yang ia gunakan di tempat cucian piring dan tak lupa untuk mencucinya. Lalu setelahnya ia berjalan keluar rumah.
“Apa kau sudah membaik?” tiba-tiba Ben menghadangnya tepat di depan pintu.
“Ya tentu saja, seperti yang kau lihat.”Bella sedikit merentangkan tangannya seakan memberitahu pria itu jika dirinya baik-baik saja.
“Untuk hari ini lebih baik kau libur lagi saja!” Ben mencegah Bella yang hendak keluar dari rumahnya.
“Ada apa denganmu?” Bella mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan sikap Ben pagi ini.
“Cause something wants to meet you.“ Bella semakin mengerutkan dahinya, tak mengerti akan ucapan pria itu. “Tunggu sebentar lagi!” Bella pun menurut, ia memilih duduk di sebuah sofa.
Bella menaruh asal tas selempangnya, ia pun menyenderkan tubuhnya pada belakang sofa. “How long?” tanyanya.
“Sebentar lagi.” Bella menghela napasnya, baiklah ia akan menunggu.
Selang beberapa menit, sebuah mobil mewah jenis sedan berwarna silver terparkir di depan rumah Ben. Bella bisa merasakannya, aura dominan yang pekat membuat Bella bangkit dari duduknya dan berlari ke luar rumah. Ia memperhatikan dengan seksama, sosok pria yang keluar dari balik mobil sedan itu.
“Alaric?” ucap Bella tak percaya.
___________
“Situasi di kawasanku sedang tidak aman. Mereka kembali berbuat ulah, bahkan beberapa kali hampir berhasil memasuki kastilku!”
“Apa Lazarus juga ikut melakukan penyerangan?”
Alaric menggeleng. “Vampir tua itu sama sekali tak terlihat. Benar-benar pengecut! Kenapa harus mengerahkan anak buahnya jika ia ingin membalaskan dendamnya itu. kali ini apa lagi yang sedang direncanakannya.”
Ben, Victoria dan Bella saling melempar pandangan. “Apa kau juga tahu soal-” Victoria menatap ke arah Bella. Gadis itu menggeleng agar Victoria tak memberitahu pasal kejadian malam itu, saat ia diserang oleh Lucius.
“Apa?” tanya Alaric seakan menyuruh Victoria untuk melanjutkannya.
“Emm bukan apa-apa. Aku hanya ingin memberitahumu jika Bella saat ini tengah kuliah di universitas ternama di sini.” Bohongnya.
“Apa itu penting untukku?” sarkasnya. Bella pun memutar bola matanya malas, ia sudah tahu apa yang akan keluar dari mulut kakaknya itu saat Victoria berkata demikian.
“Apa kau kemari seorang diri? Jeanna tak ikut?” tanya Bella.
“Dia ada di rumah orang tuanya. Mungkin saat ini sedang bersama teman-temannya.” Bella mengangguk paham. Ia pun bangkit dari duduknya dan mengambil kunci mobilnya.
“Kau mau ke mana?” tanya Ben saat Bella melangkah ke luar rumahnya.
“Tentu saja menemui kakak ipar…” jawabnya seraya melempar senyuman ke arah Ben. “Dan juga calon ponakan.” Lanjutnya, ia pun kembali melangkahkan kakinya.
____________
“Bagaimana keadaanmu selama berada di kastil Je? Everything is good?”
“Ya of course! Kenapa emangnya? lo meragukan gue sebagai seorang Luna dan Ratu baru di kastil, iya?” tanya Jeanna membuat Bella sedikit terkejut.
“Bukan itu yang kumaksud, Jeanna!”
Jeanna terkekeh. “I know. Gue cuma mau bikin suasana supaya gak terlalu tegang kok Bell. Btw lo udah lumayan lama di sini tapi masih aja ngomong formal, lo ajarin dia gak sih?” kali ini Jeanna beralih menatap sahabatnya itu, siapa lagi kalau bukan Sera.
“Tiap hari Je! Tapi ya emang lidahnya udah dari sononya begitu, susah!” balas Sera. Sedangkan Bella hanya bisa tersenyum menampilkan gigi.
Jeanna mengedikkan bahunya acuh. “Yaudah lah ya, mau gimana lagi. Yang penting dia gak berbuat yang aneh-aneh selama di sini.”
“What do you mean?” tanya Bella.
Jeanna menggeleng cepat, ia pun mencari topik pembahasan lain. “Gimana jadi anak kuliahan? Enak? Sayang banget gue gak bisa ngelanjutin pendidikan gue, padahal tadinya gue mau masuk jurusan itu juga!”
Jeanna terkejut saat mendengar Bella saat ini tengah kuliah dan mengambil jurusan ilmu gizi. Dan lagi, Bella berhasil lolos seleksi PTN dan menjadi mahasiswa di Universitas ternama di kota ini. Padahal itu kan cita-cita Jeanna dulu.
“Entahlah. Aku melakukan itu karena ingin terlihat layaknya manusia, seperti yang mereka lakukan di sini,” Bella menyenderkan kepalanya. “Siapa tahu dengan melakukan itu aku akan menjadi manusia seutuhnya, jadi aku tak perlu bingung dengan identitasku lagi.”
Ada nada kesedihan di balik ucapan Bella, dan itu membuat Jeanna dan Sera terdiam untuk beberapa saat.
“Salah topik lagi nih gue…” Lirih Jeanna yang tentunya masih bisa di dengar oleh Bella.
“Ngomong-ngomong apa kau baik-baik saja selama kehamilan?” akhirnya Bella mencoba memulai pembicaraan baru.
“Ya seperti ibu hamil pada umumnya. Tapi ini kayaknya agak beda,” Bella dan Sera kompak mengernyit tak mengerti. “I-iya gue ngerasa agak lain kalau lagi ngidam. Lo kan tau Ra! Gue gak suka sama daging kambing, tapi gak tau kenapa akhir-akhir ini gue pengen banget makan daging, apa lagi daging kambing. Makannya si upin-ipin gue suruh beli kambing guling noh sekarang.”
“Ya mungkin hormon bumil emang begitu kali Je, makanan yang gak disukain justru malah jadi favorit food lo sekarang.”
“Atau sepertinya gen Alaric banyak menurun pada anakmu Je. Karena dia sangat suka makan daging, yah tentunya kau tahu bukan dia siapa.”
Jeanna menganggukkan kepalanya. “Ya itu logic sih Bell. Kayaknya anak gue cowok deh.”
“Kenapa bisa gitu?” tanya Sera.
“Bandel banget Ra, kalau malam gak bisa diem! Nendangin perut gue mulu, mana tendangannya kenceng lagi. Tapi anehnya kalau Alaric ngusap perut gue sambil ngomelin ni bocah, langsung anteng dong.”
“Bisa gitu ya?”
“Kalau kata Nich mah, the power of daddy hands.”
“Nich?”
“Oh iya gue lupa Bell. Nich bilang gini ke gue…”
‘Sampaikan pada Bella, aku menunggunya untuk berlatih bela diri lagi, bersama-sama.’
“Nich berkata seperti itu padamu?” Jeanna mengangguk, ia melihat raut wajah Bella seakan menyiratkan rasa tak suka. “Apa kau sedekat itu dengan Nicholas?” tanya Bella lagi.
“Not really, hanya beberapa kali berbicara dengannya. Itu pun kalau Alaric gak ada, ya lo pasti tahu kan gimana Alaric kalau udah posessive.” Jeanna tediam sesaat. “Emang… kenapa gitu?” tanya Jeanna dengan hati-hati.
“Nothing.” Bella kembali memasang senyum pada wajahnya. “Aku bersyukur jika kau merasa nyaman dan baik-baik saja di sana Je.”
Ga ada yg kangen sama Jeanna&Alaric nih?
Jadi gimana? Lanjut gak nih? Ramein dulu dong, pencet bintangnya & komen sebanyaknya_- gak rame gak lanjut!
{ 21-03-23 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasía»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
