Terlihat dua orang yang berbeda jenis saling berpelukan di sebuah kamar hotel, kepala si pria menyelip di area leher sang wanita. Lalu tak lama suara pekikan dan ringisan terdengar dari mulut sang wanita, mulut wanita itu menganga, lalu setelah itu tubuhnya luruh ke lantai.
Sementara sosok pria itu masih berdiri santai, menatap datar ke arah wanita yang tergeletak di atas lantai dengan luka di lehernya. Ia menjilat sisa darah di ujung bibirnya dan mengelapnya dengan ibu jari, setelah itu ia berjalan santai ke arah pintu.
Lucius melangkahkan kakinya ke parkiran basemant, kakinya terus melangkah ke sebuah mobil sedan berwarna silver mengkilat. Setelah itu ia masuk dan menyalakan mesin mobil, lalu melajukan mobilnya meninggalkan hotel ini.
Lucius menatap pantulan dirinya sekilas di kaca mobil. “Sial! Padahal sudah tiga manusia berbeda, tapi kenapa tak ada perubahan?!” geramnya.
Karena kesal dan terbawa emosi, pria itu menaikkan kecepatan mobilnya di atas rata-rata. Ia bahkan tak memedulikan suara klakson kendaraan atau pun teriakan orang-orang yang mengatainya gila.
_____
“Apa? Golongan darah teman saya langka? Maksudnya gimana ya Mba?”
“Iya ini hasilnya–”
“Win!” belum selesai berbicara, gadis yang bernama Winda itu menoleh ke arah seseorang yang tiba-tiba memanggil namanya.
“Iya?”
“Dipanggil Bu Retno tuh!”
“Tolong bilangin ke Bu Retno dong Ra, ini gue lagi–”
“Dia butuh lo sekarang, bukan nanti. Ini biar gue yang urus, oke?”
Akhirnya Winda menuruti ucapan temannya itu, ia pun langsung pergi menemui sang dosen. Sementara Bella, raut wajahnya yang semula tegang kini terlihat lebih rileks dari sebelumnya.
“Oh damn it! Kenapa kau tak mengabariku jika ingin buat acara di tempat ini huh?!”
“Lah kenapa lo malah sewot ke gue si, minimal bilang makasih kek apa gitu… untung gue tepat waktu.” gadis itu menyelipkan kedua tangannya pada saku jas putih yang dikenakannya itu.
“Tadinya gue gak mau ikut jadi relawan, tapi karena kebetulan kurang orang jadi terpaksa deh,” jelasnya lagi. “Gue juga kaget waktu dosen bilang acara ini bakal diselenggarain di kampus lo, makannya dari tadi gue cari muka lo. Lo bayangin aja berapa banyak manusia di sini tapi fokus gue cuma buat nyari lo!”
Bella berdehem sesaat, ia jadi tak enak hati karena ucapannya barusan. “Terimakasih.”
“Gitu doang?”
“Maaf…”
Sera berdecak malas, dipikirannya Bella terlihat sangat kaku. “Gak kakaknya, gak adiknya, sama aja!” lirihnya. Detik berikutnya ia baru menyadari seseorang di samping Bella yang sejak tadi terdiam juga kebingungan.
“Eh sorry gue keasikan ngobrol, kenalin gue Sera temen mainnya Bella,” Sera mengulurkan tangan kanannya.
“Freya.” Ujarnya tersenyum sambil menjabat tangan Sera. “Lo mahasiswa kedokteran?” Sera mengangguk dan tersenyum.
“Gue boleh pinjam Bella sebentar gak? Mau ngobrol soal masalah pribadi soalnya,”
“Oh ya silahkan,” Freya mengalihkan pandangannya ke arah Bella. “Kalau gitu gue ke kelas duluan aja ya Bel.”
“Ga papa?” tanya Bella.
“Iya udah santai aja!” Freya pun pergi meninggalkan Bella dan juga temannya itu.
“Gue mau tanya sesuatu sama lo,” Bella kembali menatap Sera. “Ini soal kalian,” ujarnya lagi.
“Ada apa?” raut keduanya terlihat sangat serius.
“Kebetulan kemarin gue habis jaga di UGD RS Pertamina, dan tiba-tiba ruangan jadi penuh pasien, menurut keterangan beberapa dokter yang nanganin pasien itu, mereka ditemukan tergeletak pingsan di tempat sepi, dan semua pasien itu gejalanya kayak orang kurang darah atau anemia.” Sera menjeda ucapannya.
“Setelah sadar dan ditanya, mereka gak ingat apa-apa. Yang bikin gue dan orang-orang yang ada di situ merasa aneh, ada bekas luka di leher pasien itu. Gue jadi flashback kejadian di SMA deh.”
Bella memejamkan matanya sambil menghela napas panjang. “Kalau ini terus berlanjut, mereka pasti bakal sadar sama kehadiran kalian di sini, tentu itu akan jadi bahaya buat lo dan yang lain juga Bel.”
“Ya itu pasti,” dan tentunya itu akan jadi masalah besar di antara dua makhluk yang berbeda dunia itu!
____________
+62xxxxxxxxx calling…
Sebuah panggilan masuk kembali muncul di layar ponsel milik Bella, namun gadis itu tetap enggan untuk mengangkatnya. Bella menggeram kesal, ia pun memilih mematikan ponselnya itu.
“Cowok lo ya?” Bella menggeleng. “Gebetan?” lagi-lagi Bella menggeleng, “saudara? Kakak?”
“Teman,” jawab Bella mengklarifikasi.
“Pasti pernah ada sesuatu di antara kalian kan? Gue bisa tau dari muka lo Bel!” Bella hanya mengedikkan bahunya acuh.
“Kau yakin tak ingin ikut aku seperti biasanya?”
“Enggak Bella! Gapapa gue naik taxi online aja, sekalian mau mampir beli sesuatu juga,” ujar Freya saat Bella kembali menawarkan tumpangan padanya.
“Udah sana pulang, nanti keburu makin gelap,” Freya mengalihkan pandangannya sekilas ke arah langit. “Tuh mataharinya makin turun! Waktunya teletubbies pulang kerumah!”
“What?”
“What, what, what... balik sono! Gue gak mau lo kenapa-napa di jalan, cukup kejadian kemarin bikin gue panik attack setengah mati!” ujar Freya menggebu-gebu. “Lagian Bang Ben nyuruh lo langsung balik setelah kuliah selesai, gue gak mau kena marah abang pucet lo itu ya Bel!”
“Yasudah, aku duluan ya.”
“Hmm.”
Bella pun masuk dan menyalakan mesin mobilnya, setelah melambaikan tangan ke arah Freya, Bella melajukan mobilnya meninggalkan kampus. Di sepanjang jalan, Bella kembali teringat akan ucapan Sera.
Masalah ini harus segera diselesaikan! Jika para vampir itu terus berulah, maka para manusia akan segera sadar, tentunya mereka tak akan tinggal diam. Bella tak ingin sesuatu yang besar terjadi lagi, cukup masalah antar makhluk immortal saja sudah cukup!
Saat lampu mulai berganti warna kuning, tiba-tiba gadis itu memutar stir mobilnya berbelok ke arah lain, ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah Ben. Padahal semalam dirinya sudah berjanji pada pria itu untuk segera kembali ke rumahnya sebelum malam tiba.
“I'm so sorry...”
Mobil milik Bella terus melaju ke sebuah jalanan yang sepi, ia meraih ponselnya dan menyalakannya kembali. Setibanya di tempat tujuan, Bella segera turun dari mobilnya, gadis itu terdiam sejenak, menarik napas dalam lalu ia hembuskan.
Kedua tangannya yang menggenggam tas ransel terkepal kuat, Bella kembali melihat layar ponselnya, selesai dengan ponselnya ia mulai melangkah menuju bangunan bertingkat itu. Bella mulai memasuki lift lalu menekan angka, lift pun bergerak naik ke lantai paling atas.
Saat pintu lift terbuka, Bella kembali melangkahkan kakinya ke sebuah pintu di ujung lorong. Bersamaan dengan tangannya yang terangkat hendak memencet Bell, ponsel Bella tiba-tiba berdering, sebuah panggilan masuk dari nomor yang berbeda. Kernyitan terpampang jelas di dahi gadis itu, saat Bella memutuskan untuk mengangkat panggilan itu, pintu di depannya tiba-tiba terbuka.
Hayoo tebak siapa...
Yang kangen author mana nih suaranya?
Ah ini mah kangennya sama Bella&Lucius yee kan _-
Kalau masih pengen tau kisah mereka jangan lupa ramaikan ceritanya!!!
›Vote & Komen sebanyak-banyaknya, gak rame fix author ngambek 😶
{ 04-10-23 }
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasía»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
