"Wanna see my lips doing magic ma Belle?"
Bella masih mematung di tempatnya. Namun saat wajah Lucius semakin mendekat ia sudah ancang-ancang untuk,
Dugh!
"Argh!" Lucius meringis, tulang hidungnya serasa patah karena hantaman dahi Bella.
Sama halnya dengan Bella yang ikut mengernyit merasakan nyeri di dahinya. Tapi sakitnya tak separah dirinya.
"Kau-" Bella lebih dulu pergi sebelum ia meluapkan amarahnya.
Gadis itu berjalan cepat kembali ke kastilnya. Dari kejauhan Lucius tersenyum miring sambil menatap punggung Bella yang terus menjauh. Ia pun bisa mendengar ocehan Bella yang memaki dirinya sendiri lantaran kesal dan malu karena ulahnya barusan.
Lucius mengelap sisa darah yang keluar dari hidungnya. Bukannya kesal, pria itu malah terkekeh geli kala mengingat kembali raut wajah Bella.
Setelah Bella benar-benar hilang dari pandangannya, ia pun pergi ke tempat lain untuk menemui seseorang. Sebuah rumah tua yang berada di dekat sungai menjadi tujuan Lucius.
Pria itu berjalan mengitari rumah tersebut dengan langkah pelan.
"Keluarlah! Aku tau kau ada di dalam."
Lucius mendengus sinis saat ucapannya dihiraukan. Ia semakin mendekat pada rumah tersebut.
"Bergabunglah denganku, kau dan yang lain akan aman jika bersamaku." ujarnya lagi saat ia berada tepat di depan pintu.
Sebelah tangannya terulur mendorong pintu tersebut. Tak ada siapapun di dalam, dahinya mngernyit dalam kala merasakan sesuatu yang janggal.
Tepat saat ia berbalik, sebuah panah menancap tepat di dada kirinya. Lucius menatap nyalang ke arah sosok yang membawa panah. Tak lama tubuhnya jatuh berlutut.
"Bahan perak yang dipadukan dengan racun tanaman yang sangat mematikan! Kau tak bisa berbuat apa-apa lagi setelah ini, matilah untuk selamanya!" ujar sosok itu.
Lucius menyentuh anak panah tersebut, wajahnya terlihat mengerang. Detik berikutnya ia tersenyum miring seraya terkekeh.
Sosok Lucius yang ada di depannya tiba-tiba menghilang sekejap mata. Dan yang lebih mengejutkannya, tiba-tiba vampir itu sudah berdiri di belakangnya dengan belati perak yang sudah siap menancap di lehernya.
"I-illusion?"
"Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak?" Lucius menggores ujung belati itu pada lehernya. "Kau lupa siapa yang melahirkanku?"
Healing fairy, sosok peri yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka dengan bantuan sihir dan koleksi tanaman obatnya. Dan sosok itulah yang tengah Lucius ancam saat ini.
"Son of a witch.." ujar peri itu.
"Don't play with me, cause i'm more faster than your move!" Lucius memperdalam goresan belatinya pada leher wanita itu.
"What u want?" tanyanya cepat.
"Seperti yang kukatakan tadi."
"Apa yang sedang kau rencanakan huh?"
Lucius menarik belatinya menjauh dari leher, lalu memperlihatkan benda itu pada sang peri.
"Kau tau dari mana ini berasal? Benda ini yang membuatku hampir lenyap dari dunia ini!"
Peri itu terdiam sesaat. Raut wajahnya sedikit syok, ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. Dan yah! Peperangan mungkin akan terjadi lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasy»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
