Bag 41. Another nightmare

720 78 72
                                        

"Bella aku serius!" Ucap Victoria saat Bella menganggap perkataannya hanya sebuah lelucon.

"Aku tau kau mencoba menghiburku. Tapi jangan gunakan lelucon itu Vi!"

Victoria menghela napasnya. "Lucius telah menandaimu Bella." Ujarnya pelan.

Bella membeku. Tawa yang baru saja lepas dari bibirnya seolah menguap begitu saja saat telinganya mendengar nama itu. Ia menatap Victoria yang masih menatapnya lurus, serius, bahkan tak sedikit pun berkedip.

"Hari itu-saat kau tak ada di rumah selama beberapa hari, aku tau kau bersamanya."

Raut wajah Bella berubah panik. Ia menoleh ke arah pintu rumah beberapa kali. "Aku tak mau ada yang mendengar soal ini!" Lirih Bella. Ia menggeleng cepat. "Dan aku tak bisa percaya ucapanmu. Itu tidak masuk akal Vi!" Lanjutnya.

Victoria menggenggam tangan Bella semakin erat. "Kalau begitu kau bisa lihat sendiri."

Bella merasakan sesuatu yang aneh, kilasan balik dan suara yang memenuhi kepalanya.

Bayangan dirinya yang tak sadarkan diri di pelukan pria.

Darah yang mengotori lehernya.

Dan juga ... mata merah pekat yang menatapnya dalam dan penuh hasrat akan dirinya.

"Apa yang kau lakukan padanya?"

Itu, suara Ben. Terdengar marah, panik dan bingung bersamaan.

Yang terjadi selanjutnya adalah Lucius membuat tubuh Ben dan Victoria mematung di tempat. Tangannya mencengkram leher Victoria-namun tatapan matanya mengancam ke arah Ben.

"Kalau kau sampai memisahkanku dengannya ... akan kulakukan hal yang sama padamu, Ben!"

Bella menghempaskan tangan Victoria. Semua bukti itu masih belum membuatnya percaya. Ucapan Lucius hanya omong kosong baginya!

"Kau tau dia itu licik! Itu semua bohong Vi, dia hanya mempermainkanmu!"

Victoria menggeleng. "Darahmu menjadi penyembuh lukanya, Bella. Sekaligus ... sumber kekuatannya."

"Tapi bukan berarti aku mate-nya!"

"Dan itu bisa menjadi kemungkinan kalau kau adalah mate-nya!"

"Baiklah. Jika itu benar, kenapa aku tak bisa merasakannya juga?"

Victoria pun bingung soal ini. Sepertinya ada hal lain yang tak ia ketahui.

"Dia hanya memanfaatkanku Vi! Hanya itu!" Telaknya.

"Tidak mungkin! Jika dia hanya memanfaatkanmu, mungkin kau akan disingkirkan setelah dia mendapatkan apa yang diinginkannya."

"Bisa saja ada sesuatu yang lain—yang belum dia dapatkan." Bella mengerang frustasi. "Tidak mungkin dia mate-ku!" Lirihnya. Gadis itu menggeleng pelan.

Victoria menghela panjang. "Hanya kau yang bisa membuktikannya. Kau harus mencari tandanya. Jika tubuhmu tak bisa merasakannya, pasti ada hal lain yang bisa menjadi jawabannya."

"Tanyakan pada hatimu, Bella."
______________

Udara dingin menyelinap lewat celah jendela, menyentuh kulit Bella yang hanya berselimut tipis. Lampu tidur menyala temaram, menciptakan bayangan panjang di dinding kamar. Matanya terbuka lebar. Sudah lewat tengah malam, tapi ia belum juga bisa memejamkan mata. Ucapan Victoria kembali terngiang di kepalanya.

Bella menyentuh lehernya sendiri. Malam itu, pertama kalinya Lucius menancapkan taring di tubuhnya. Dan saat itu pula—Lucius menandainya, memberi dua gigitan sekaligus di leher dan pundaknya.

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang