Bag 44. Lost control

915 86 38
                                        

Minta maap baru sempat up🥲
Semoga gak bosen² nunggu kelanjutan cerita ini
Aku usahain up rutin kalo gak sibukk yah<⁠(⁠ ̄⁠︶⁠ ̄⁠)⁠>
Gimana nih???
Masih mau lanjuut?

.
.
.
.
.

Ruang bawah tanah itu terasa lebih dingin dari biasanya. Langkah kaki terdengar menuruni anak tangga batu. Eliz pun muncul di ambang pintu, mengenakan mantel gelap yang membalut tubuhnya. Ia menatap Lucius dengan sorot mata tajam.

"Apa yang akan kau lakukan dengan gadis itu?" Eliz menghentikan langkahnya. "Kali ini aku harus ikut campur urusanmu. Aku tak akan membiarkanmu melakukan hal bodoh lagi!"

Lucius menoleh perlahan ke arah Eliz. "Kau pasti tau, aku sangat membenci siapapun yang menghalangi jalanku. Jadi-" ia kembali memfokuskan matanya pada sasaran anak panahnya. "... jangan menjadi salah satu dari mereka, Eliz!"

"Tolong jangan mengulang kesalahan masa lalu, Lucius. Apa kau tak ingat yang terjadi setelahnya ... setelah kau menculik gadis itu?!"

Lucius terkekeh pelan. "Apa kau pikir Arthur akan membunuhku untuk kedua kalinya?"

"Lucius!"

Pria itu menghela napas kasar. Menghentikan tangannya yang sudah siap melepas anak panah. Lucius kembali menoleh ke arah perempuan yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Kenapa? Kau meremehkanku? Apa kau tak lihat perubahan ini. Semua yang kutunjukkan pada kalian-apa kau tak merasakannya huh?"

Eliz meringis saat Lucius tiba-tiba mendekat dan mencengkram bahunya erat.

"... kekuatanku meningkat berkali lipat, Eliz!" sorot matanya begitu menusuk. Lucius terlihat berambisi meluapkan dendamnya.

"Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku. Antara kau dan gadis itu-ada apa dengan kalian. Katakan yang sebenarnya, Lucius!"

Bukannya menjawab, Lucius kembali mengangkat busur di tangannya. Masih menghadap Eliz, tangannya terangkat sambil menarik tali busur. Lalu dengan cepat tubuhnya berputar, bersamaan dengan itu panah pun melesat. Mengenai tepat sasaran. Dan langsung membunuh sosok pria yang tergantung dengan kedua tangan dirantai.

Eliz terpejam sesaat, tangannya terkepal kuat-sedikit gemetar, kala melihat anak panah itu menancap tepat di bagian mata.

Dan tanpa mengatakan sepatah kata, Lucius berlalu meninggalkan ruangan pengap ini. Eliz menghela napasnya, menoleh ke arah punggung pria itu yang perlahan menjauh.

"Sial! Aku sudah muak melihat ini semua!" Eliz menatap malas ke arah mayat di depannya. Ia sudah tak tahan jika harus melihat para werewolf yang dibunuh secara sadis dan brutal oleh tuannya itu.

______________

Benda-benda antik dan beberapa lukisan tampak terpajang rapih di sudut-sudut ruangan. Rak besar menjulang di sisi dinding, penuh dengan buku-buku berdebu dan lusuh. Di tengah ruangan, dua sosok duduk berdampingan di sebuah sofa tua berwarna merah marun yang kainnya sudah mulai pudar.

Bella duduk dengan tubuh sedikit kaku, memegang sebuah buku tebal dengan sampul kulit yang usang. Ia terlihat fokus membaca, namun matanya beberapa kali melirik ke samping-ke arah sosok pria yang duduk tenang menemaninya.

Lucius. Pria itu duduk menyilangkan kaki, satu tangan menyangga dagu, matanya tak lepas dari wajah Bella.

Merasa ditatap terlalu lama, Bella berdecak malas.
"Apa kau tak ada pekerjaan lain, selain memerhatikanku?" gumamnya kesal, lalu mengangkat bukunya lebih tinggi, hampir menutupi wajah.

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang