Bag 46. The last gaze

1.1K 103 96
                                        

Bella terus mengejar Eliz yang berada jauh di depannya.

"Tunggu!" Teriak Bella.

"Eliz ... aku tak mengerti maksudmu."

Eliz memutar bola matanya, ia berbalik dan dengan terpaksa mendekat ke arah Bella. Gadis itu mengangkat tinggi liontin pemberiannya.

Eliz melepas kain yang menutupi sebagian wajahnya. "Pakai saja! Dengan begitu mereka tak akan tahu keberadaanmu!"

"Aku tau ini bukan liontin biasa. Kau memintanya dari seorang peri? Apa yang sebenarnya kau rencanakan Eliz?"

"Jika kau ingin menyelamatkan keluargamu, baiknya kau simpan pertanyaanmu itu! Kita harus bergegas sebelum semuanya terlambat."

"Kenapa kau malah-"

"Mencoba menghalanginya?" Tanya Eliz lebih dulu. "Jika itu bisa menyelamatkannya dari sihir hitam yang mungkin saja melenyapkannya, akan kulakukan!"

"Saat kekuatan itu hampir menguasai tubuhnya, Lucius semakin bertindak di luar kendali. Dan kekuatan itu berasal dari rasa haus akan dendamnya."

Bella semakin cemas. Ternyata sebesar itu dendam Lucius pada ayahnya.

"Lalu, apa rencanamu?"

Eliz terdiam cukup lama. "Aku akan mengalihkan perhatiannya."

"Dengan cara apa? Melawannya?"

Eliz mengangguk pelan. Sebenarnya ia tak yakin melakukan ini. Begitupun dengan Bella.

"Kau bisa berkelahi bukan? Untuk berjaga-jaga saja, tetap di belakangku." Eliz tampak meremehkannya.

Bella mengernyit tak suka. "Ingin duel denganku?"

_______________

Dari balik ranting tinggi yang diselimuti sisa salju, Lucius berdiri di sana. Tangannya begitu mahir memainkan busur-anak panah itu melesat cepat, menembus udara dingin, lalu menancap tepat pada kawanan werewolf. Hal itu berhasil memberi celah bagi Lucius untuk memasuki wilayah serigala itu.

Tanpa menunggu, ia melempar busurnya begitu saja lalu melesat, menerobos kawanan yang tersisa. Derap kakinya berbaur dengan lolongan binatang yang terluka. Beberapa pasukan Arthur sempat menghadangnya, namun satu per satu mereka tumbang di bawah serangan cepatnya.

Hingga akhirnya, ia sampai di perbatasan.
Di sana, Alaric sudah berdiri, tubuh tegapnya bersiap menyambut duel.

Lucius menyeringai. "Sudah lama aku menunggu saat-saat ini."

Keduanya langsung saling menerjang, mengerahkan seluruh kekuatan. Cakaran Alaric berhasil menggores lengan Lucius, namun luka itu menutup kembali dengan cepat berkat sihir hitam yang mengalir di tubuhnya.

"Kekuatan terlarang," desis Alaric, suaranya penuh benci.

Ilusi yang diciptakan dari sihir gelap itu berhasil merasuk ke dalam pikiran sang alpha, membuat Alaric terjebak dalam kegelapan yang semu.

Kemudian Lucius tersenyum mengejek. "Kau harus tau, kekuatan ini sangat mengesankan!"

"Tidak. Sihir terlarang itu hanya akan melenyapkanmu! Sama seperti Lylia saat itu!"

Satu sayatan berhasil menembus lengan sang alpha. Alaric menggeram kesakitan. Tampaknya amarah Lucius semakin terpancing saat Alaric menyebut nama wanita itu.

"Kau yang membunuhnya!"

"Dia hampir membunuh adikku!"

Lucius terdiam.

Ucapan Alaric seakan menghantamnya.

Apakah Lylia lebih dulu mengetahui takdirnya? Dan karena itu ia mencoba membunuh Bella saat berada di dalam kandungan Azura.

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang