Turbulensi kecil membuat tubuh Bella sedikit terguncang, tapi bukan itu yang membuatnya terlonjak. Napasnya tersengal. Tubuhnya ikut menegang. Bisikan itu masih terngiang di kepalanya. Terasa sangat dekat. Napas hangatnya pun itu masih terasa di tengkuk Bella.
Bella menoleh cepat ke sisi kanan, kiri, lalu ke lorong sempit kabin. Tak ada siapa pun yang terlihat mencurigakan. Lexy dan Jeanna masih tertidur pulas, kepala mereka bersandar lelah di sandaran kursi. Bella menggigit bibir bawahnya. Jika tadi itu hanya mimpi ... kenapa rasanya sangat nyata?
Bella memejamkan mata, mencoba menenangkan diri kembali. "Kau hanya kelelahan. Itu hanya mimpi! Yah, hanya mimpi."
___________
Bandara internasional Jakarta diselimuti kabut lembut pagi hari. Setelah melalui penerbangan yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di negara tujuan. Dari kejauhan, tampak seseorang melambai ke arah mereka—Sera, perempuan dengan jaket krem itu melompat kegirangan. Jeanna melangkah cepat sambil merentangkan tangan.
"Je ..."
"Ra ..."
Keduanya saling berpelukan, melepas rindu yang telah lama terpendam.
"Kangen banget!" Mata Jeanna berkaca-kaca, dengan bibir yang mengerut.
"Sama." Ucap Sera sambil mengelus pelan punggung Jeanna.
"Kevin—gimana Ra?"
Sera memaksakan senyumnya. Gadis itu mengangguk cepat. "Dia kuat. Dia pasti sembuh."
"Bel," ujar Sera saat Bella mendekat ke arahnya.
"Sesuai janjiku, Sera." Bella memeluk temannya itu. Sambil meyakinkannya jika Kevin akan segera pulih.
"Aku membawa seorang dokter. Dia yang terbaik." Bella melirik ke arah Lexy. "Lexy yang akan menangani Kevin, percayakan saja padanya."
Lexy mengulurkan sebelah tangannya ke arah Sera. Dengan senang hati Sera menggenggam tangan wanita itu—keduanya saling memperkenalkan diri.
"... aku juga sedang menempuh pendidikan dokter. Semoga suatu saat bisa sehebat dirimu." Ujar Sera.
"Jangan seperti aku!"
"M-maksudku ... yah, tentu. Kau pasti akan jadi dokter hebat!" Lexy melirik bergantian pada Bella dan Jeanna. "Hanya untuk manusia." Bisiknya.
Sera mendengus geli. Ia mengerti maksud ucapan Lexy.
"... jadi, apa aku bisa melihat pasienku?"
Rumah sakit modern dengan aroma disinfektan menyambut mereka. Bella mengerutkan dahinya saat seseorang tampak berjalan ke arahnya. Bukan, lebih tepatnya ke arah Lexy. Pria itu tersenyum ramah. Keduanya berjabat tangan. Lalu berbincang layaknya teman lama yang baru bertemu lagi.
Bella menarik lengan Lexy. Menghentikan langkah wanita itu di tengah lorong panjang bernuansa putih.
"Bagaimana bisa? Kau—direktur rumah sakit, kalian?" Bella pun bingung sendiri bagaimana menanyakannya.
Sedangkan Lexy, dia hanya tersenyum santai ke arah Bella.
"Kakakmu memang yang terbaik, Bella." Lexy mendesah, menatap ke arah langit-langit rumah sakit yang tinggi.
Lexy menganggukkan kepalanya. "Koneksi itu sangat penting. Kau harus banyak belajar darinya!" Kalau bukan karena Alaric, tak mungkin Lexy menadapat gelar dokter dan izin praktek di sini.
"Kita harus mengikuti kemajuan dunia manusia juga, kan?" Setelah mengatakan itu, Lexy kembali melangkahkan kakinya.
_______________
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasy»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
