Tandain kalau ada typo!
.
.
.
.
.
“Apa kau tahu seberapa besar dendamku untuk menghabisi keluargamu itu Bella?”
“...dendamku pada ayahmu yang berniat membunuhku, dan juga Alaric yang telah menghabisi nyawa ibuku!”
“Harusnya kau tahu mengapa dendamku begitu menggebu-gebu. Aku tak peduli dengan ambisi King Arthur, karena yang terpenting untukku hanyalah balas dendam!”
“...tapi sepertinya itu semua terhalang karena kehadiranmu, Bella!”
Ucapan Lucius beberapa menit yang lalu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Gadis itu menatap cukup lama ke arah jendela kamarnya, angin malam yang cukup kencang juga jendela yang terbuka membuat tirai tersebut berkibar ke sana kemari.
Tepat setelah mengatakan kalimat itu Lucius tiba-tiba pergi meninggalkan kamarnya melalui jendela. Padahal Bella kira pria itu akan menghabisi nyawanya setelah mengatakan hal tersebut.
“Memangnya kenapa dengan aku.”
“Tidak mungkin kan kalau alasannya–” Bella menggeleng cepat. “Tidak Bella! Kau bodoh jika percaya kata-kata vampir itu!”
Bella berjalan ke arah jendela, tangannya terulur menarik pintu jendela tersebut. Gadis itu kembali terdiam sambil memandang gelapnya langit.
Tiba-tiba saja gadis itu terkekeh sinis. “Kalau ucapannya benar, apa hidupku akan berakhir dengannya?” Bella berbalik, kini ia bersandar pada dinding kamar.
“Apa moon goddes sedang bercanda?” ujarnya seraya mendengus.
Bella memperhatikan kedua tangannya sambil bertanya-tanya, sebenarnya dia ini apa? Kalau memang dirinya werewolf lalu kenapa ia tak sama seperti yang lainnya?
Di mana kuku yang panjang itu?
Kenapa ia tak bisa berubah layaknya werewolf pada umumnya?
Dan kemana perginya sisi wolf-nya itu?
Apa sebutan werewolf masih pantas untuknya?
“Sepertinya aku lebih cocok jadi manusia ya?” gumamnya.
Bella berjalan ke arah ranjangnya, ia kembali merebahkan tubuhnya. Dering ponsel membuat kaki jenjang gadis itu bergerak mencoba meraih tasnya di ujung kasur.
“Iya hal-”
“Bella...”
“Tolongin gue Bel! Gue takut.”
“Please tolongin gue...”
“Sera? Hey what's wrong? Tenang Sera, coba ceritakan padaku ada apa?”
“Ke-vin, Bel tolongin!” tangis Sera terdengar semakin kencang.
Merasa ada yang tidak beres, Bella buru-buru mengikat rambutnya lalu mengambil jaket.
“Kau di mana Sera? Tolong kirim lokasinya!” Setelah mengatakan itu Bella mengambil kunci mobilnya dan bergegas meninggalkan rumah.
_______________
“Kalau begitu saya permisi dulu.” ujar seorang pria yang mengenakan jas putih dan stetoskop di tangannya.
Bella menahan lengan Sera, membawanya menuju kursi panjang di depan kamar rawat inap.
“G-gue kira dia jatuh dari motor, tapi ternyataa engga! Keadannya persis kaya kejadian dulu waktu pulang malam sama Jeanna.” Sera masih terisak. “Tapi... tapi gue ga nyangka kalau Kevin–”
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasy»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
