Bag 50. Confession

910 64 66
                                        

Eliz bersimpuh di depan tubuh Lucius yang tak berdaya. Darah yang keluar dari lukanya mulai mengering, ia menatap nanar ke arah sosok tuannya itu. Langkah kaki terdengar menggema, sosok dengan jubah dan tudung di kepalanya mendekat ke arahnya.

"Apa yang kau harapkan dari tubuh tak bernyawa itu?"

Suara berat itu terdengar tegas dan tajam, menusuk gendang telinganya. Eliz masih menunduk di tempatnya, hanya orang bodoh yang menyerahkan nyawanya secara sukarela untuk datang ke tempat ini. Dan orang bodoh itu adalah dirinya!

"Dia masih bernyawa," Eliz mengeluarkan kalimat pertamanya. "Dan aku ingin menukar jiwaku, dengan tubuh lemah ini." Lanjutnya.

"Memangnya apa yang bisa kau lakukan untukku?" Sosok itu mendengus meremehkan.

"Katakan, apa yang akan kudapatkan setelahnya?!" Tanyanya lagi dengan penuh penekanan.

Eliz terdiam, ia memejamkan matanya rapat-rapat. Darahnya berdesir hebat. Ia tak punya cukup nyali untuk menatap sosok penguasa kegelapan yang berdiri tepat di hadapannya.

"Pergilah, sebelum aku menjadikan kalian santapan peliharaanku." Setelah mengatakan itu, ia berbalik dan melangkah pergi.

"Lylia!"

"Kau pasti tak lupa-"

"Tentu saja aku tak melupakannya." Pria itu tiba-tiba saja menariknya hingga melayang ke udara. Eliz memberontak, mencoba melepas sebelah tangan yang mencekal kuat lehernya.

"Apa hubunganmu dengan penyihir sialan itu?!"

"Ak-ku b-bisa ... mengembalikannya!" Ujarnya terbata.

"Setelah berani menginjak kaki ke tempat ini, kau masih punya nyali untuk bermain-main denganku?"

Eliz mengulurkan sebelah tangannya, "you can see it!" Ujarnya lirih.

Sebelah tangannya terangkat menyentuh telapak tangan Eliz. Ia bisa melihat semuanya, Lylia-penyihir licik itu berhasil menurunkan kekuatannya pada anaknya. Tubuh Eliz dijatuhkan begitu saja hingga menghantam lantai kastil.

"Lylia sudah mati! Hanya dia yang tersisa."

"Apa jaminannya?" Eliz mengerutkan dahinya. Lalu pria itu tiba-tiba berjongkok. "Apa jaminannya jika penyihir itu sudah mati?"

"Aku melihat tubuhnya lenyap karena kekuatan itu!" Ujarnya yakin.

Ia menggertakkan giginya. "Kalian memang bodoh! Mengambil yang bukan miliknya, dan memaksakan sesuatu yang pada akhirnya akan menghancurkan kalian!" Matanya memindai tubuh lemah Lucius.

"Aku akan mengambil kembali milikku!" Ia pun menyentuh tubuh Lucius, dan mengambil kekuatan miliknya di tubuh vampir itu.

_______________

"Kenapa susah sekali menemukanmu, tuan putri ..."

Tubuh Bella menegang, ia segera menoleh. Bella reflek mundur selangkah saat pria itu tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya.

"Kau ... k-kau bilang apa?"

"Aku yakin kau mendengarnya dengan jelas." Ia melirik sekilas ke arah kaki Bella. "Apa yang kau lakukan tengah malam di bawah air hujan?"

"I thought you really died!"

"You really thought like that?"

Bella menggeleng lemah. "I thought you really gone, I thought it was just bullshit when you said i'm your mate-"

Bella tersentak kaget saat Lucius menariknya hingga tubuhnya menabrak dada pria itu.

"There you are!" Ucap Lucius. Matanya menatap tajam ke arah leher Bella. Ia menarik sebuah kalung yang melingkar indah di leher jenjang itu.

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang