Lucius menatap ke luar jendela kamarnya. Butiran salju mulai turun menyelimuti pepohonan, juga menutup tanah. Akhirnya musim dingin kembali datang setelah sekian lama. Tangannya bergerak memainkan sebuah belati berbahan perak. Benda itu dulunya pernah bersarang di dadanya.
Ya! Itu belati milik Arthur!
Lucius menunggu waktu dan saat yang tepat untuk mengembalikan benda ini.
Pria itu berjalan ke arah cermin panjang yang ada di kamarnya. Tangannya melepas satu persatu kancing kemejanya sampai di bagian perut. Luka di dadanya nyaris hilang. Lucius menyentuhnya pelan, lalu tersenyum miring. Darah putri Arthur bukan sekadar obat baginya.
“Kapan kau akan bergerak Lucius?”
Tahu jika Lucius tak suka siapapun masuk ke dalam kamarnya, Lazarus hanya berdiri di depan pintu kamar.
Lucius memicing singkat, tangannya kembali mengancingkan kemeja hitamnya dengan santai. Ia berbalik badan dan berjalan mendekat ke arah ayahnya.
“Kau salah!” ucap Lucius
“... dari pada membunuhnya, aku lebih membutuhkan darahnya untuk dijadikan sumber kekuatanku!”
Lazarus mengernyit, ia menatap Lucius dengan tatapan curiga.
“Apa dia–”
“Pemilik darah murni?” Lucius menampilkan smirknya. “Sebut saja begitu.”
Pria itu semakin mendekat pada sang ayah. “Ubah rencananya, kali ini tak boleh ada celah untuk gagal–atau kita semua akan jatuh bersama.”
Lazarus menatap dalam ke arah mata Lucius. Ia merasa ada sisi lain yang menguasai tubuh anaknya. Belakangan ini Lucius sering melatih kemampuan yang turunkan oleh ibunya. Apakah darah Lylia sudah mulai menguasai raga anak ini?
Seperti yang dilakukannya dulu pada Lylia, Lazarus harus bertarung dengan jiwa lain yang ada di tubuh perempuan itu. Ia harus bersiap saat Lylia mulai lepas kendali karena sihir hitamnya. Dan kali ini, ia merasakan hal yang sama pada anaknya.
Apakah Lucius akan sama seperti ibunya?
“Eliz menangkap seorang warrior dari pack darker, dia berhasil masuk ke perbatasan. Sepertinya ingin memata-matai kita.”
Lucius mendesah pelan. Ia mengangkat kedua tangannya. Urat-urat terlihat menonjol menghiasi lengan pria itu. “Ingin melihat kemampuan baruku?”
*****
“Dengar ya Bella! Aku tak akan melarangmu berhubungan dengan siapapun. Jadi–” Lexy semakin menggeser tubuhnya agar mendekat pada Bella. “Katakan! Siapa yang membuat cupang sebanyak itu dilehermu?!”
Lagi-lagi Bella menghela napasnya. “Dengar ya Lexy!”
“Kalau bukan Nich, lalu siapa?”
Bella mengerang kesal. Dua botol wine sudah ia habiskan, tapi tetap tak bisa menenangkannya.
“Aku tak bisa mengatakannya!”
“Kenapa?” geram Lexy. “Kau tau kan, aku sangat menjaga rahasia! Jadi cepat katakan selagi tak ada yang mendengar.” ia memelankan ucapannya di akhir.
“Kau akan pingsan jika aku mengatakannya!”
“Tidak akan!”
“Kalaupun itu terjadi, biarkan saja! Yang penting aku tau siapa lelaki itu!”
Bella berdecak, ia berdiri dan menjauh dari Lexy. “I can't!”
“C'MON BELLA!” Lexy sudah habis kesabaran sepertinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasy»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
