Bag 30. Say goodbye

932 94 17
                                        

Setelah berpikir panjang, akhirnya Bella memantapkan keputusannya untuk kembali ke kastil. Tujuannya adalah untuk memastikan keadaan di sana, ia merasa ada sesuatu dibalik mimpinya itu. Seperti sebuah petunjuk mungkin.

Bella memasukkan barang terakhirnya ke dalam koper besarnya.

“Sudah seminggu lebih tak muncul, dia ke mana ya.” Bella reflek menggeleng cepat saat tersadar jika ia baru saja memikirkan Lucius. “Apa yang kau pikirkan Arabella, sadarlah!”

“Tapi, kenapa semalam dia muncul di mimpi.” Bella menghela napasnya. “Cukup! Jangan biarkan vampir itu mengecoh pikiranmu! Dia itu sangat licik!”

“Tapi semalam dia–” Bella menyentuh dahinya, kecupan itu terasa sangat nyata.

“Hanya mimpi! Yah itu hanya bunga tidur!”

Bella menarik kopernya keluar kamar. Ia berjalan ke depan rumah, di sana sudah ada Nich yang menunggunya. Pria itu berdiri di samping mobil sedan silver dengan mengenakan kaos polo hitam.

“Soal kuliahmu Ben sudah mengurusnya.”

Bella mengangguk. “Trimakasih Vi, kita berangkat seka–”

“Sebentar!”

Bella mengerutkan dahi.

“Tunggu sebentar lagi!” ucap Victoria lagi.

“Ada apa?”

“Temanmu–”

Bunyi klakson motor mengalihkan perhatian Bella dan yang lain. “Bella! Jangan pergi dulu!” Teriak seseorang sambil berlari ke arah Bella.

“Itu dia.” Victoria melanjutkan ucapannyan

“Lu... bener-bener ya!” menjeda ucapannya untuk mengatur napas. ”Mau balik ga bilang-bilang, mana rumah lo beda benua! Kalau beda kota gue masih maklum ya! Ongkos kereta masih aman di kantong gue, tapi kalo pesawat beda cerita. Gue ga mampu nyusulin lo ya Bel!”

I'm sorry Freya. Aku tak bermaksud seperti itu.”

“Pokoknya gue mau ikut!”

Semua orang ikut terkejut mendengar perkataan Freya.

Really?” lirih Victoria.

No! You can't!”

“Kenapa? Gue ga boleh ikut nganter lo ke bandara hah?”

Bella mendesah lega. “Kupikir kau akan ikut aku pulang.”

“Mana mungkin lah! Ga bisa gue kalo harus ninggalin makanan-makanan enak yang cuma ada di negara ini.” Ujarnya dramatis. “Terus juga kan gue dah bilang, gue ga mampu buat beli tiket pesawat!” Freya mendengus antara kesal dan sedih.

“Udah buru nanti ketinggalan pesawat!”

Lah, kenapa jadi diburu-buru gini sih sama ni anak?

“Motor gue titip di sini gapapa kan Bel?”

“Terus kamu?”

“Bareng lo semobil.” Ucapnya seraya tersenyum lebar.

Freya menyatukan kedua telapak tangannya ke depan dada. “Please gue mau ikut lo, ya! Buat terakhir kali ini Bel. Eh bentar ga gitu maksudnya, ga terakhir kali juga. Amit-amit ih jangan sampe!”

“Ok,” Bella mengajak temannya untuk masuk ke dalam mobil.

Mereka duduk di belakang, sedangkan di bagian depan ada Nich dan seorang supir. Ben dan Victoria juga ikut mengantarnya ke bandara, mereka menaiki mobil yang berbeda.

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang