Bag 37. Fall into the trap

649 71 43
                                        

"Apa kau bilang? Dia ingin membunuhku?"

Bukannya menjawab pertanyaannya, Alaric malah berlalu meninggalkannya dan masuk ke dalam kastil dengan tergesa.

"Alaric!" Bella mengajar kakaknya.

"Alaric tunggu! Kita belum selesai bicara." gadis itu semakin mempercepat langkahnya.

"Alaric please!" Bella menghalanginya, Alaric pun berhenti.

Alaric menghela sesaat. "Kembalilah bersama Jeanna."

Kembali dengan Jeanna? Tidak mungkin!

Apa Alaric lupa soal temannya yang sedang sekarat itu? Jeanna tak boleh tahu soal ini!

"Apa kau bisa jamin keselamatannya di sana huh?"

"Lexy akan ikut dengan kalian."

"NO!"

"Kau ingin mengobati temanmu yang sekarat itu kan? Kalau begitu pergilah!"

"Tapi tidak dengan Jeanna! Dia tak boleh tau soal ini!"

"Kenapa aku tak boleh tau?"

Jeanna berdiri di ujung lorong. Gadis itu berjalan mendekat ke arahnya.

"Kenapa Bella? Apa yang kau sembunyikan dariku?"

"Kemari." Alaric menarik pelan tubuh Jeanna agar mendekat padanya.

"Ada apa Alaric? Kenapa aku tak boleh tau?"

Alaric tersenyum tipis. "Kau ingin tau apa yang terjadi?"

"Ya tentu saja!"

"Alaric!" peringat Bella.

"Kembalilah ke rumahmu. Kau pasti merindukan mereka bukan?"

"Ya tentu, tapi-" dahi Jeanna berkerut, rasanya ada sesuatu yang janggal. "Kenapa tiba-tiba begini? Katakan yang sebenarnya Alaric, jangan membuatku bingung!" ia menatap sepenuhnya ke arah suaminya.

Keadaan sedang genting, dan Jeanna harus segera menjauh dari tempat ini. Alaric tak ingin mengambil risiko, apalagi menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa menimpa belahan jiwanya. Lagi pula, cepat atau lambat Jeanna akan mengetahui segalanya. Jadi, tak ada salahnya kan jika ia mengatakan yang sebenarnya sekarang?

Kedua tangan Alaric membingkai wajah Jeanna. "Temanmu sedang sekarat."

Damn it!

Bella mengerang kesal.

"Alpha sialan!"

______________

"Kenapa lo gak cerita dari awal Bella? Gue kecewa!" sentaknya. Bukannya takut, Bella justru gemas dengan ibu hamil satu ini.

Jeanna kembali menangis, ia pun kembali mendekat untuk menenangkan wanita itu.

"Maaf Je, aku tak mau membuatmu seperti ini." ia melirik sekilas ke arah perut Jeanna. "Ibu hamil tak boleh banyak pikiran, kasihan keponakanku!"

"Terus gimana keadaan Kevin sekarang?" tanya Jeanna dengan terbata-bata.

Bella memaksa senyumannya. "Kupastikan dia akan pulih, Je."

"Gue, gue mau ketemu Kevin!" masih dengan isak tangisnya, Jeanna terus meminta pulang ke negaranya.

Bella menghela napas. Ia sudah sangat lelah dengan situasi ini.

"Aku harus menemui Lexy."

Jeanna sudah lebih tenang sekarang. Tangannya menghapus sisa air mata di pipinya.

Red ColdTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang