Gemerlap lampu kuning yang menghiasi pepohonan cemara membuat suasana pesta semakin hangat. Di sinilah Bella malam ini, di tempat yang tak seharusnya ia datangi.
Pesta ulang tahun temannya, Nancy.
Semua karena Jeanna yang memaksanya untuk ikut agar menemani gadis itu.
Bella bergerak tak nyaman saat tempat ini semakin ramai. Dari sekian banyak tamu yang berdatangan, tak satupun ia kenali.
"Wanna drink?" sambil menyodorkan segelas wine.
"Nope!"
Pria itu mengangguk pelan. "Kau tak lupa dengan temanmu itu kan?"
Bella berdecih sinis. "Teman ya?"
"Maaf. Aku tak bermaksud-"
Bella menghadap ke arah pria itu sepenuhnya. "Stop saying sorry to me!"
Nich menghela pelan. "Aku ingin kita berbaikan Bella. Bisakah kau maafkan kesalahanku? Bisa kita seperti dulu lagi? Atau-aku perlu melakukan sesuatu untukmu?"
Bella tampak acuh, ia sibuk mengamati para tamu. Mencoba menghiraukan sosok pria di sebelahnya.
"Bella-" mendadak lampu utama meredup.
Bella mengerang malas saat acaranya berubah menjadi slow dancing. Ia sudah tak sanggup berlama-lama di sini!
Apa ia pulang duluan saja?
"Sebagai permintaan maaf," Nich mengulurkan sebelah tangannya. "Apa kau keberatan jika aku mengajakmu berdansa?"
"Kau serius?"
Nich menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? I mean-just dancing like a friend Bella."
Bella menggeleng. "I can't dance! Apa kau lupa sebagai seorang teman?"
Nich tampak gelagapan. Ia seharusnya tau hal itu!
"Dan satu lagi, aku tak mau berteman dengan seseorang yang pernah mempermainkan perasaanku!"
Setelah mengatakan itu Bella berlalu pergi meninggalkan pesta.
Ladang bunga Daisy membuat fokus Bella teralihkan, ia mendekat ke sana. Kunang-kunang tampak beterbangan menghiasi gelapnya malam. Ia pun ikut bermain bersama serangga bercahaya itu.
"Bukankah itu tidak adil?"
Bella terkejut mendengar suara yang datang tiba-tiba. Ia segera menoleh ke arah tersebut.
"Tak adil jika seorang putri pack darker diacuhkan seperti itu!"
"Apa maksud ucapanmu?"
"Aku melihatnya, tuan putri."
"Berhenti memanggilku seperti itu!"
Jantung Bella kembali berdetak tidak normal!
"Dan kau terlihat seperti seorang penguntit sekarang! Apa kau memerhatikan kami sejak tadi huh? Mau apa sebenarnya?"
Lucius terkekeh singkat. Ia semakin maju mendekat ke arahnya. "Only you Bella, not them!"
"...my eyes only into you! You know why?" Bella menggeleng pelan. "Cause you look so beautiful with that dress. I swear!"
"You not joining to slow dancing?"
"Aku tak suka dansa!"
"You lie!"
Bella mendengus kesal.
Namun Lucius malah terkekeh gemas. "Seorang putri pack darker tak bisa berdansa huh?" gadis itu mendelik sinis ke arahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasía»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
