Kini Bella tengah duduk di salah satu sofa single, matanya masih setia menatap tajam ke arah sosok pria di depannya. Lucius berbaring santai di sofa panjang sesaat setelah ia beradu mulut dengan Bella. Kakinya yang panjang menjuntai di ujung sofa.
"Masuk ke kamar jika mengantuk!" Ujarnya tanpa menoleh dan masih dengan mata terpejam.
Bella mendengus kesal, ia menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan tangannya di dada. Menatap jam di tangan kirinya, sudah jam 2 malam seharusnya ia sudah tidur karena esok ada kelas pagi.
Namun karena kesal dengan ucapan Lucius, juga takut jika pria itu tiba-tiba merencanakan sesuatu dan mengurungnya di dalam apartemen ini alhasil Bella memilih untuk tetap terjaga sepanjang malam.
Gadis itu mengambil ponselnya, melihat-lihat akun sosial medianya yang kosong tanpa postingan. Bella baru sadar jika ia baru membuka akunnya lagi untuk sekian lamanya. Katakan saja jika dirinya kudet, ya itu benar! Sosial media bukan dunianya! Padahal beberapa temannya berkata jika bisa saja ia jadi selebgram atau artist karena tampang Bella yang kelewat cantik.
Jam menunjukkan pukul 3 namun Bella masih betah dengan ponselnya, beberapa kali ia menggosok matanya lalu kembali fokus menonton vidio mukbang. Selang beberapa menit Lucius membuka matanya, menoleh ke arah Bella yang masih setia menggenggam ponselnya. Ia bangkit dari tidurnya dan berjalan ke arah Bella.
Tangannya terulur meraih ponsel milik gadis itu, tak ada perlawanan artinya Bella benar-benar sudah tertidur lelap. Lucius berjongkok di hadapannya.
"Kau tak sama sepertiku Bella, jangan memaksakan diri untuk menyaingiku."
Berbeda dengan Bella yang sudah terpejam sambil mendengkur halus, Lucius sama sekali tak terlihat mengantuk. Tentu saja karena ia vampir! Vampir tak buruh tidur kecuali untuk pemulihan, hanya itu!
Lucius menyelipkan tangannya pada kaki dan punggung Bella. Membawa tubuh gadis itu ke sebuah kamar. Satu-satunya kamar yang ada di apartemennya! Perlahan ia merebahkan tubuh Bella di atas ranjang, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Jangan..,"
Lucius mengurungkan diri untuk beranjak dari kasur saat mendengar lirihan Bella. Ia semakin mendekat pada Bella, bahkan kini ikut berbaring di sebelahnya dengan kepala yang ia tahan dengan sebelah tangannya.
Dahi Bella terlihat berkerut serta napasnya tak beraturan. Lucius mendaratkan tangannya pada dahinya, mengusapnya pelan dengan ibu jarinya. Lalu turun ke pipinya, mengelusnya dengan sangat hati-hati.
"Semua akan baik-baik saja, tak kubiarkan kau merasa kesepian lagi Bella. I swear!" Setelah itu ia membawa tubuh Bella ke dalam dekapannya. Mereka berdua pun terlelap bersama.
Hingga pagi pun tiba dan keduanya masih terlelap bersama. Dengan mata yang masih terpejam Bella menggeser tubuhnya, mencoba meregangkan badan tapi tak bisa karena sebuah lengan besar yang melilit tubuhnya. Ia mengerang saat merasakan sesuatu yang hangat menggelitik lehernya.
Sebelah tangannya yang bebas mencoba menjauhi sesuatu yang amat dekat dengan lehernya. Ia meraba-raba sesuatu, saat tersadar itu sebuah rambut langsung saja ia membuka mata dan menoleh ke samping.
Bella mencoba menjauhkan kepala ini dengan satu tangannya sambil terus menyumpah serapahinya. Seluruh tubuhnya memberontak, bahkan kakinya ikut menendang sekuat tenaga.
"LEPAS SIALAN!"
"KAU KURANG AJAR!"
"Kita baru tidur sebentar." Gumam Lucius dengan suara seraknya.
"AKU TIDAK MAU TIDUR DENGANMU!"
"Jangan berisik Bella!" Ia semakin mengeratkan lengannya pada pinggang Bella. Kedua kakinya mengunci kaki Bella agar berhenti bergerak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Red Cold
Fantasia»Sequel of 'Switch Over' Sorot matanya yang tajam serta iris merahnya yang pekat mampu membuat siapa saja yang menatapnya akan terhipnotis olehnya. Tak hanya itu, auranya yang begitu dingin dan mencekam mampu membuat siapa pun yang berhadapan seketi...
