Chapter 56: The Blood Beneath Ravellion

12 0 0
                                        

"Pembohong!"

Suara Luca tak lagi bersahabat.

"Aku tahu kau menemui Louis dan Isabella!" tegasnya.

Perempuan dihadapan Luca hanya memiringkan kepalanya dengan santai, tertawa kecil ketika mendengar perkataan Luca.

"Tidak sopan kau menyebut mereka tanpa gelar," ucap perempuan itu.

"Jawab saja pertanyaanku, sebenarnya apa tujuanmu datang ke sini?" desis Luca.

Angin malam yang berhembus ringan di koridor itu membuat perempuan dihadapan Luca mengeratkan kain yang menutupi bahunya. Dengan diterangi cahaya obor dari dinding koridor, bayangan Luca terlihat lebih tinggi dari perempuan itu.

Menghela nafas ringan, perempuan itu akhirnya bersuara. "Perubahan," jawabnya.

Dahi Luca berkerut, tanda dia tidak mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh perempuan itu.

"Jawab aku, Luca. Apa kau sudah mengetahui siapa Isabella sebenarnya?"

Dari balik dinding, tubuh Matthias menegang. Matthias mendengar pembicaraan mereka, menguping dalam diam sampai lupa untuk pergi ke tempat yang harus ia tuju. Namun, pertanyaan yang dilontarkan oleh perempuan itu membuat otak Matthias ikut bekerja keras, memikirkan alasan kenapa perempuan itu harus bertanya demikian.

Sementara itu, kepalan tangan Luca di bawah sana semakin erat. Sorot matanya tajam memandang perempuan dihadapannya. Dia tidak suka dengan pertanyaan yang ditujukan untuknya.

Rasanya seperti menciptakan keraguan dan akan menimbulkan masalah baru.

Tidak, Luca tidak ingin perpecahan. Dia sangat menyayangi kakak-kakaknya. Meski memang benar, dia sempat menaruh curiga pada Isabella, tapi rasa sayangnya terus menolak untuk mencari tahu.

"Jangan memprovokasiku," ucap Luca.

"Aku tidak melakukannya, aku hanya bertanya karena ingin melihat perubahan."

"Perubahan apa yang kau bicarakan?"

"Rahasia. Tidak seru jika kusampaikan sekarang," jawab perempuan itu.

Tangan perempuan itu terangkat, melambaikan tangan dengan anggun pada Luca. "Sampai jumpa, pangeran tampan." Kemudian kakinya melangkah ringan melewati Luca.

Tepat ketika perempuan itu berdiri sejajar dengannya, Luca menggenggam erat lengan perempuan itu. Dia menariknya, membiarkan punggung perempuan itu menabrak dinding. Luca berdiri dihadapannya, mendekatkan wajahnya.

"Dengarkan aku baik-baik," Luca berbisik pelan, namun di setiap kata yang terucap penuh ketegasan mutlak. "Lakukan apa yang menjadi tugasmu. Tapi jika kau masih ingin hidup, maka jangan pernah kau menyentuh apa yang ada di dalam wilayah teritorialku," peringatnya.

Perempuan itu tak kenal takut, bahkan membalas tatapan Luca dengan sinis. "Kau bahkan tidak akan diangkat menjadi raja, dan sekarang merasa memiliki kuasa atas apa yang bukan milikmu?" balasnya.

"Tidak akan kuperingatkan untuk kedua kalinya, jadi kuharap kau punya telinga untuk mendengar."

Luca memberikan tatapan penuh ancaman sebelum memilih untuk melangkah mundur dengan perlahan, memberi sedikit ruang pada perempuan itu. Dia tidak berbicara, tidak juga pamit ketika kakinya kini mengambil langkah semakin menjauh dari perempuan itu.

Melihat kepergian Luca, membuat perempuan itu berdecak sebal. Dia merasa kalah dengan persaingan ini. Namun ketika dia hendak pergi dari tempat itu, dia dikejutkan dengan suara Matthias.

"Ternyata kau orangnya."

Perempuan itu menoleh dengan malas, dia tampak enggan untuk berurusan dengan kembaran Luca.

7 PRINCESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang