Malam itu turun dengan perlahan, menyelimuti asrama putri St. Britannia dalam keheningan yang terasa lebih berat dari biasanya. Langit di luar jendela berwarna biru gelap yang dalam, hampir menyerupai tinta yang tumpah tanpa batas. Cahaya bulan menembus celah awan tipis, jatuh lembut di permukaan taman yang kini kosong tanpa suara. Angin malam berembus pelan, membawa aroma dedaunan basah yang tersisa dari hujan sore tadi. Suasana terasa tenang, namun ketenangan itu justru menekan, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin diungkapkan.
Di dalam kamarnya, Isabella duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang sedikit condong ke depan. Gaun tidurnya yang berwarna putih gading jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya, kainnya tipis namun cukup untuk melindunginya dari dingin malam. Rambut pirangnya yang panjang terurai bebas, beberapa helai jatuh di bahu dan menutupi sebagian wajahnya. Cahaya lampu minyak di meja kecil di samping ranjang bergetar pelan, menciptakan bayangan yang bergerak halus di dinding kamar. Di tangannya, sebuah amplop masih ia genggam sejak sore tadi.
Ia belum membukanya.
Jari-jarinya menyentuh permukaan kertas itu dengan hati-hati, seolah takut bahwa sedikit tekanan saja bisa merusak sesuatu yang lebih dari sekadar benda. Tekstur amplop itu terasa biasa, namun entah mengapa, ada sesuatu yang membuatnya terasa berbeda. Dingin. Kaku. Tidak seperti surat yang seharusnya membawa kehangatan atau setidaknya kejelasan. Isabella menatapnya lama, seakan berharap jawaban bisa muncul hanya dari melihatnya.
Napasnya tertahan sejenak. Ia tahu ini tidak masuk akal. Namun perasaan itu tetap ada. Perlahan, ia membuka segel amplop tersebut.
Suara kertas yang terlepas terdengar jelas di dalam kamar yang sunyi, hampir seperti gema kecil yang memantul di dinding. Tangannya bergerak perlahan, menarik lembaran di dalamnya dengan gerakan yang terukur. Setiap detik terasa lebih panjang dari biasanya, seolah waktu sengaja diperlambat untuk memberinya kesempatan berpikir ulang. Namun ia tidak berhenti.
Surat itu kini terbuka di tangannya.
Tatapannya jatuh pada baris pertama.
Dan dalam sekejap, sesuatu dalam dirinya berubah.
Alisnya sedikit berkerut, hampir tidak terlihat, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ada yang tidak beres. Matanya bergerak cepat, membaca setiap kata dengan cermat, mencoba memahami isi yang tersusun di hadapannya. Namun semakin ia membaca, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang salah. Bukan hanya dari isi, tetapi dari cara kata-kata itu disusun.
Ini bukan tulisan Theodore.
Isabella berhenti sejenak.
Tangannya yang memegang surat itu sedikit menegang.
Ia menurunkan kertas itu perlahan, menatap kosong ke depan, seolah mencoba mencerna apa yang baru saja ia sadari. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena rasa takut, melainkan karena kebingungan yang datang tanpa peringatan. Ia mengenal cara Theodore menulis, bahkan jika itu hanya dari beberapa kali pertukaran kata. Ada ketegasan dalam setiap kalimatnya, ada ketelitian dalam pilihan katanya.
Namun ini...
terlalu berbeda.
Ia kembali mengangkat surat itu.
Membaca ulang dari awal.
Kali ini lebih lambat.
Lebih dalam.
Setiap kata terasa seperti mencoba menyusup ke pikirannya, memaksanya untuk menerima sesuatu yang tidak ingin ia akui. Isi surat itu tidak hanya asing, tetapi juga berani—terlalu berani untuk dianggap sebagai kesalahpahaman. Kalimat demi kalimat tersusun dengan tujuan yang jelas, seolah penulisnya tahu persis apa yang ingin ditanamkan di dalam pikirannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
Ficción históricaDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
