St. Britannia Academy
Taman belakang akademi selalu menjadi bagian yang paling banyak disukai oleh para murid. Entah di saat matahari terbit maupun ketika matahari sudah tenggelam. Taman itu sudah dipenuhi oleh berbagai cerita dari setiap murid akademi.
Begitu juga dengan Isabella. Sesuai janji, dia datang ke taman belakang untuk bertemu dengan Louis. Dia berharap jika Matthias telah menyampaikan pesannya pada Louis, karena ada begitu banyak yang ingin dia tanyakan.
"Selamat pagi, Putri Isabella."
Isabella terkesiap. Dia menoleh ke belakang, melihat Louis yang sudah datang. Louis terlihat rapi dan tampan. Padahal dia hanya mengenakan seragam akademi seperti biasanya, tetapi kenapa terasa berbeda? Apakah ini karena pikiran Isabella sekarang sedang dipengaruhi oleh surat itu?
Louis memandang Isabella bingung. Satu tangannya terangkat, mengayun lembut di depan wajah Isabella. "Putri Isabella?" panggilnya.
Mata Isabella mengerjap beberapa kali dengan cepat. Dia melangkah mundur, memohon maaf karena melamun. Tak lupa, dia juga segera membalas sapaan Louis sebelum terkesan tidak beretika.
"Apa yang hendak kau katakan sampai harus mendatangi asrama putra di pagi hari, Tuan Putri?"
Jemari Isabella menyentuh kain seragamnya, mencari ketenangan sebelum menjawab.
"Ada sesuatu yang sedang kucari tahu, dan aku sangat berterima kasih jika kak Louis—maksudku, Pangeran Louis bekerja sama denganku."
Louis mengulum senyum, dimatanya Isabella terlihat menggemaskan. Meski dia sudah sering melihat tingkah menggemaskan dari para putri yang ditemuinya, akan tetapi Isabella memiliki daya tarik yang sulit untuk dideskripsikan.
"Tentu." Satu tangan Louis terbuka di udara. "Tapi apa yang akan kudapatkan setelah itu?"
"Keinginanmu."
Isabella menatap Louis dengan penuh tekad, sebelum kembali bersuara. "Akan kupenuhi keinginanmu."
"Terdengar menarik," ucap Louis, tangannya jatuh ke bawah.
Louis sendiri tidak menduga jika Isabella akan berkata demikian. Hal ini justru menguntungkan bagi Louis. Dia tidak perlu meminta, tidak perlu memaksa. Isabella sendiri yang datang mencarinya dan membutuhkannya.
"Bagaimana jika keinginanku akan terdengar licik?" tanya Louis.
Kedua alis Isabella terangkat, merasa terkejut dengan pertanyaan Louis.
"Seperti apa?"
"Belum kupikirkan."
"Jangan mencari keuntungan, aku tidak datang untuk negosiasi."
Louis tertawa ringan. "Baiklah, mari dengarkan apa masalahmu sebelum aku memikirkan keinginanku."
Isabella menarik nafas panjang, inilah saatnya. Dia mengeluarkan surat yang dia terima atas nama Theodore. Surat itu diberikan kepada Louis.
"Bacalah," pintanya.
Louis menerima surat itu dengan raut wajah penuh kebingungan. Dia membaca surat itu dalam diam, tidak bersuara, tidak juga memberi reaksi berlebih di wajahnya.
Raut wajahnya sangat terkontrol, sehingga Isabella sulit untuk menebak isi pikiran Louis. Padahal, jika terbaca sedikit saja, Isabella bisa tahu apa yang harus dia lakukan. Mempercayai Louis atau menjauhi Louis.
Angin berhembus lembut disela diamnya mereka. Suara percakapan dari para murid yang berada di taman juga terdengar samar. Sejenak, Isabella mendongak, melihat langit biru yang cerah. Rasanya begitu damai.
KAMU SEDANG MEMBACA
7 PRINCES
Ficción históricaDi Tanah Aurion, perang telah mereda, tetapi bayang-bayangnya masih mengintai di setiap sudut istana. Dendam lama belum terkubur, dan rahasia yang telah lama disembunyikan mulai terungkap sedikit demi sedikit. Sebastian Whitmore dan Theodore Ashford...
