Kalian komennya kenapa cepet banget, emang gak pegel?😭😭
Sehat terus jari-jari para Jeder. Mwahh wuff u!
******
"Gue bakal inget muka lo selamanya, Jihan! Suatu saat gue bakal robek muka lo, dan hancurin kecantikan lo yang gak berguna itu!" -Mirza
*****
Rina gemetar, gadis itu terus memilin tangannya sejak tadi. Saat ini dia berdiri di depan rumah sakit, terlalu takut untuk masuk.
Rina yakin sekali dia menusuk Jihan begitu dalam, bahkan merahnya darah Jihan masih menempel pada telapak tangannya. Saat itu Rina tersadar lalu langsung menarik pisaunya, untung saja ada bantuan datang hingga Jihan bisa segera dibawa ke rumah sakit.
Sama halnya seperti Jihan yang diam-diam mengawasi Rina, Mallio juga melakukan hal yang sama. Katakanlah dia keterlaluan karena mengawasi cucunya sendiri selama 24 jam. Mallio bahkan menyewa banyak orang untuk bergantian mengawasi Jihan. Mallio terlalu menyayangi Jihan, dia tidak mau gadis itu dalam masalah kembali.
Namun ternyata tindakan diam-diam yang di lakukan Mallio begitu berguna, orang-orangnya bisa segera menolong Jihan serta mengamankan Mirza sebelum kejadian lebih parah terjadi.
"Rina," suara seseorang terdengar, tubuh Rina semakin dingin saat menyadari jika orang itu adalah Kakek Mallio. "Bukankah ada yang perlu kita bicarakan?"
Rina mengangguk kecil.
"S-saya minta maaf," cicitnya. "Saya melukai Jihan."
"Kamu harus minta maaf pada Jihan, bukan saya," balas Mallio dingin. "Karena bukan itu yang sebenarnya ingin saya bicarakan dengan kamu."
Rina mengangkat kepalanya, menatap lurus sosok gagah yang kini memancarkan aura intimidasi. Meski sudah tidak muda, namun Mallio masih berkharisma. Dan sialnya Rina kalah telak karena kini dia ketakutan di tatap sedemikian rupa seperti itu.
"Bagaimana kalau kamu kembali di rawat?" tawar Mallio. "Saya rasa kamu belum sembuh total untuk kembali ke sekolah. Masalah biaya dan hal lainnya biar menjadi urusan saya. Kamu tidak perlu khawatir."
Rina menegang. "Maksudnya saya harus kembali di tahan disana?" cewek itu tersenyum miris. "Saya tidak gila dan saya masih ingin bersekolah. Bertemu teman-teman dan---"
"Menyusahkan mereka," tandas Mallio tajam.
"Saya sudah memperhatikan gerak-gerik kamu, sejak awal kamu sudah membuat semua orang kesulitan. Namun kali ini kamu sudah melewati batas. Harusnya saya memberikan balasan mengerikan untuk tindakan kamu, sayangnya saya tidak mau cucu saya membenci saya," Mallio menatap tajam. "Saya akan beri kamu dua pilihan."
"Kembali ke rumah sakit jiwa dan hidup tenang, atau ... kembali bersekolah tapi dengan penderitaan."
"M-maksudnya?" tanya Rina.
"Cakra, Dion, Bara, bahkan Jihan. Saya bisa membuat semuanya membenci kamu. Terutama Cakra," ucap Mallio. "Kamu punya waktu tiga hari untuk memutuskan."
Setelah itu Mallio melangkah memasuki rumah sakit untuk melihat kondisi Jihan. Meninggalkan Rina yang meremas erat-erat tangannya ketakutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
JANGAN CUEK!
Jugendliteratur(SUDAH TERBIT, TERSEDIA DI GRAMEDIA) "Bisa gak sih kamu jangan cuek sama aku?!" "Ribet, mau putus?" Mengejar cinta pacarnya sendiri? Ini yang di alami Jihan Diana. Faegan Dirgantara bukanlah tipikal manusia dingin dan juga hemat bicara seperti di no...
