Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

44 - Pesan Saat Hujan

65.8K 6.8K 9.7K
                                        


ABSEN DULU YG KANGEN! BIAR AKU HAFAL!

Maaf lamaa, sedang heetic sekalii di dunia nyata😭💪🏻

****

"Aku suka hujan, karena menangis di bawahnya seolah membuat kesedihanku ikut mengalir bersama dengan rintikan airnya." -Jihan Diana

"Papa bilang, cari perempuan yang aku butuhkan, bukan yang aku mau. Jihan adalah orangnya. Jihan Diana, hanya dia." -Faegan Dirgantara

*****

Jihan merasa seperti orang asing di tengah-tengah orang-orang yang dulunya sudah dia anggap seperti keluarga. Gadis itu mengigit bibirnya kuat, mengetahui Randu telah tiada membuat air mata Jihan hampir tumpah. Bagaimana bisa tidak ada satu orang pun yang memberitahunya hal sepenting ini?

Jihan menunduk, dia masih berdiri di depan rumah Faegan tanpa berani melangkah masuk karena penampilannya yang tidak sesuai. Semua orang mengenakan pakaian berkabung, hanya Jihan yang memakai rok pendek beserta sweater biru tua. Jihan tersenyum miris, dia ingin melangkah pergi, tapi kakinya menghianati dengan tetap berdiri disini.

Jihan menantikan momen ini sejak lama, dia menantikan saat-saat dia kembali bertemu dengan Faegan dan keluarganya namun bukan disaat seperti ini. Jihan tidak mengerti semua ini, Faegan yang tiba-tiba pergi, Faegan yang tidak pernah memberinya kabar setelah mengatakan soal pertunangan. Lalu sekarang, laki-laki itu kembali dengan duka yang tidak Jihan ketahui.

Hujan tiba-tiba turun membasahi tanah, Jihan masih berdiri disana. Kehadirannya seolah tidak ada, tidak satupun yang menyadari ada seorang gadis yang berdiri di bawah hujan karena merasa malu untuk ikut bergabung bersama mereka.

Tidak ada yang tau jika di bawah hujan yang deras, air mata Jihan ikut mengalir sama derasnya. Menangis dalam diam tanpa diketahui.

Jihan suka hujan, karena menangis di bawahnya seolah membuat kesedihannya mengalir bersama dengan rintikan airnya. Lebih dari itu, Jihan menyukai hujan karena menutupi air mata memalukannya. Menyedihkan.

Tiba-tiba air yang mengenai kepala Jihan berhenti, Jihan menemukan sepasang sepatu di depannya. Saat mendongak, wajah datar Cakra menjadi pemandangan pertama Jihan. Jihan kembali menunduk, membiarkan Cakra memayungi dirinya.

"Kalian sebenci itu sama gue?" tanya Jihan. "Gue jahat, gue sadar. Tapi harus ya sampe kayak gini?" lirihnya. "Gue ... gue juga nunggu Faegan, sama kayak kalian."

Cakra menghela nafas pelan. "Sekarang keadaannya buruk, lebih baik lo pulang."

"Kedatangan gue pasti memperburuk, kan?"

Cakra menggeleng. "Faegan dan keluarganya lagi berduka, tolong ngertiin. Lo bisa datang lagi setelah semuanya membaik."

Jihan berdecih pelan. "Intinya, kalian mau gue gak nampakin wujud gue di sini," gumamnya. "Ucapan lo sama Alexa beda, tapi maknanya sama. Kalian ngusir gue."

"Bukan itu, Jihan. Semuanya sulit, gak ada waktu untuk ngurusin hal kayak gini sekarang. Gue bakal kasih tau lo.kalau keadaannya udah membaik. Ya?" bisik Cakra membujuk.

"Gak perlu pake bahasa halus, cukup usir gue kayak si Alexa," ucap Jihan lalu mendongak, menatap Cakra yang kini menatapnya rumit. "Padahal, kalian orang terdekat gue. Gue bener-bener gak nyangka kalian bisa kayak gini ke gue."

"Maksud lo apa?" tanya Cakra.

"Faegan pulang, Om Randu sakit, Faegan ada di USA. Semua orang tau, cuma gue yang gak tau apapun!" ujar Jihan. "Gue tau kalian marah sama gue, tapi gue juga harus tau hal sepenting itu! Gue kecewa sama kalian."

JANGAN CUEK! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang