(SUDAH TERBIT, TERSEDIA DI GRAMEDIA)
"Bisa gak sih kamu jangan cuek sama aku?!"
"Ribet, mau putus?"
Mengejar cinta pacarnya sendiri? Ini yang di alami Jihan Diana.
Faegan Dirgantara bukanlah tipikal manusia dingin dan juga hemat bicara seperti di no...
Maaf gess ada kesalahan penulisan di bab sebelumnya. Harusnya 'Vani' tapi aku ketik 'Fani. Aku lagi nulis dua cerita dan namanya mirip-mirip jadi ketukerr, bab kemarin udah aku perbaiki. Silahkan di refresh untuk bacanya^^
****
Cast tambahan:
Lili Denada
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*****
"Gue jatuh cinta ke lo? Mimpi yang panjang, Jihan, terus bermimpi!"
-Faegan-
•••••
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Apa?" Faegan mengangkat alis, menatap Jihan yang terang-terangan melihatnya dengan tatapan marah. "Mama memang gak ada di rumah. Malem dia pulang, lo tunggu aja."
Ucapan santai itu membuat Jihan semakin naik darah.
"Jadi lo bohongin gue?!"
"Enggak sepenuhnya, Mama emang mau ketemu lo," jawab Faegan. "Tapi gue gak tau kalau hari ini dia pulang telat. Gak usah banyak protes, biasanya juga seneng main dirumah gue."
"Bentar lagi Feyla balik kerja kelompok, gue mau mandi dulu," ucap Faegan lalu meninggalkan Jihan sendirian di ruang tamu.
Jihan menghela nafas panjang. Tidak biasanya Dissa keluar rumah, setiap hari Dissa selalu berada dirumah, dia adalah ibu rumah tangga yang sangat mencintai rumahnya sendiri. Selain itu, suaminya juga melarang Dissa bekerja atau melakukan hal berat lain, Dissa hanya boleh bersantai dirumah dengan anak-anaknya. Jihan hampir iri melihat betapa harmonisnya keluarga Faegan.
"Kak Jihan!" dua detik setelah seruan penuh semangat itu terdengar, tubuh Jihan dihantam sebuah pelukan erat dari gadis berseragam SMP didepannya. "Fey kangen banget!" kata Feyla hampir menangis.