03.

1.1K 67 0
                                        

~Selamat membaca~

Abi salut dan bangga dengan kedua anaknya ini, ia mersa berhasil mendidik anaknya di zaman dimana orang di luar sana jarang, bahkan hampir tidak ada yang mempunyai sikap dan sifat seperti putrinya ini.

Menjunjung harga diri, mempunyai rasa malu yang besar.

"Kenapa adek malah ingin menutupi nya? orang-orang diluar sana banyak yang menginginkan kelebihan fisik. Tapi kenapa adek yang di beri kelebihan fisik malah ingin menutupinya seolah-olah aib? Orang-orang Kalo punya kelebihan fisik yang cantik mereka berusaha menunjukan nya pada dunia. Kenapa Adek memilih untuk menutupinya?" tanya Abi. Ia sengaja ingin mengetes putrinya dengan beberapa pertanyaan.

"Ayla juga bangga dan bersyukur... Banget tau bah, sama apa yang Allah kasi ke Ayla, justru Ayla ingin menjaganya, karna Ayla tau secantik-cantiknya wanita adalah mereka yang pandai menyembunyikan kecantikannya, Ayla malu bah, di tatap sama banyak pasang mata terutama para ajnabi mereka tidak halal bagi Ayla, Ayla ingin menjaga diri Ayla untuk nanti yang punya hak, suami Ayla contonya baah heheh" Ayla tersenyum.

Mereka tersenyum mendengarkan penjelasan Ayla.

"Abah mau tanya lagi sama Adek, menurut Adek, penting atau tidak seorang wanita mempunyai rasa malu?" tanya Abi.

"Penting bangeet dong baah, salah satu penjaga bagi wanita yaitu rasa malunya, rasa malu itu bagaikan mahkota nya seorang wanita, karna rasa malulah wanita menutup aurat, karna rasamalulah wanita membatasi pergaulan, karna rasamalulah wanita menjaga pandangannya, dan semua wanita sholehah yang pernah Adek baca sejarahnya di dalam al-qur'an, mereka semua mempunyai rasa malu yang besar, jaadii... Rasa malu bagi mereka itu mahkota semakin besar rasa malunya semakin bersar juga mahkotanya, sehingga mereka menjadi ratu yang terhormat" jelas Ayla dengan lantang.

Abi tersenyum senag mendegarkan penjelasan putrinya, ia sangat puas dengan jawaban putrinya "Betul sekali naak, rasa malu itu penting sekali bagi seorang wanita, asal kamu tau, semakin tinggi akhalak mu wahai anak perempuan ku... Ketika kamu di lihat atau di pandang oleh laki-laki yang belum halal bagimu, kamu merasa tidak senag dan merasa risih, tidak nyaman, itu iman di dalam hatimu, itu juga suatu kemuliaan, wanita seperti itu yang bisa di bilang wanita mulia, faham naak" nasehat Abi lembut.

Ayla tersenyum lalu mengangguk-anggukan kepalanya "faham bah"

"maasya Allah putriku sudah besar dan sangat pintar sekali yah...Kenapa gak pake cadar aja sekalian nak?" Abi yang menawarkan anak gadisnya untuk bercadar seperti sang Uma.

Ayla sangat senag dengan respon abahnya malah mendukung dirinya.

Ayla yang mendengarkan penawaran dari sang Abah ia seketika berfikir.
Dirinya memang ada keinginan untuk memakai cadar seperti sang uma tapi disisi lain, Ayla Masi belum siap karna merasa belum pantas menggunakan selembar kain suci itu.

"Eemm, Ayla juga pengen baah, tapi Ayla rasa belum pantas dan Ayla blum punya banyak ilmu untuk menggunakannya" lirih Ayla.

Aisyah tersenyum ketika mendengarkan alasan anak gadisnya. "Gini sayang... hukum cadar itu tidak wajib, dan memakai cadar itu kita tidak harus jadi ustazah, hafidz, faham ilmu tajwid, ya memang.. sebelum memakai cadar kita juga harus tau fungsinya cadar itu apa, Adek tau fungsi cadar itu apa?" tanya Aisyah kepada Ayla yang menyimaknya dengan baik.

"Tau dong uma, cadar itu fungsinya untuk menutup diri atau menjaga diri kita dari fitnah laki-laki di luar sana, karna sebaik-baiknya wanita sholihah yaitu mereka yang tidak melihat dan tidak mau dilihat" jelas Ayla.

"Pinternyaa anak uma... makadari itu berbekal dengan ilmu sebelum mengamalkannya sayang... supaya nanti benar-benar faham hakikat dari cadar tersebut, kita sebagai muslim permpuan maupun laki-laki diwajib kan untuk menuntut ilmu, jadi simpelnya mau bercadar ataupun belum bercadar tetap harus menuntut ilmu, karna itu adalah kewajiban kita, sebenarnya gak berat sayang bercadar itu, kalo kita selalu merasa kekurangan atau haus soal ilmu malah bagus, jadikan sebagi bahan motifasi bagi diri kita supaya ndak males untuk menuntut ilmu, faham sayang..." nasehat sang umma.

"Kalo adek bener-bener sudah siap, dan sudah mantap, pakailah jangan menunggu untuk sempurna karna Islam itu tidak memberatkan umat-nya untuk melakukan kewajiban atau Sunnah-nya, memakai sambil memperbaiki jauh lebih baik," timpal sang Abah.

"Siap Ayla faham bah uma. Eumm tapi Adek pertimbangkan lagi deh, yah Bah, Uma" mohon-nya.

"Iya sayang... gak papa kok, bahkan Abah sama Uma nggak memaksa kamu untuk memakainya sayang... itu sudah menjadi hak Adek, kalo mau pake Abah sama Uma pasti ngedukung Ayla, kalo Ayla gak mau juga nggak papa... asalkan Ayla harus pandai menjaga diri faham sayang?" ujar Uma.

"Siap faham Uma, brarti boleh kan Ayla kesekolah pake masker?" tanyanya.

"Boleh sayang," jawab Abi dan Aisyah berbarengan.

Ayla tersenyum sumringah "Makasi Uma Abah"

"Sama-sama sayang" jawab Aisyah.

"Uma-uma, adek mau tannya boleh?" tanya Ayla sambil cengengesan.

"Boleh dong sayang apasi yang nggak boleh buat anak cantik ini," jawab sang Aisyah sambil mengelus kepala Ayla.

"Apakah wanita yang nantinya berbaris di belakang sayyidah Fatimah az-azahra di syurga kelak wanita yang menggunakan cadar saja uma?"

"Dengerin ya naak... tidak semua wanita-wanita yang bercadar itu menjamin dirinya untuk menjadi golongan sayyidah Fatimah az-zahra, bahkan mungkin mereka yang tidak bercadar atau memakai pakaian yang biasa saja yang penting menutup aurat sesuai dengan syari'at islam bisa menjadi golongan sayyidah Fatimah Az-Zahra. Di karenakan memiliki rasa malu yang besar, karna untuk menjadi golongan sayyidah Fatimah Az-Zahra itu tidak terkhusus kan bagi mereka yang bercadar saja.
Tapi wanita-wanita yang memiliki rasa malu yang besar, jika bercadar tapi tidak memiliki rasa malu atau bahkan tidak menetapkan rasa malu, ya tidak menjamin dirinya untuk menjadi pengikut sayyidah Fatimah. Adek harus tau kalo sayyidah Fatimah menggunakan cadar itu untuk menutup kecantikannya, untuk melindungi dirinya dari fitnah para lelaki. Bukan untuk memamerkannya faham?" Jelas sang Uma.

"Sangat faham Uma, makasi Uma ilmunya," ujar Ayla.

"Sama-sama sayang, yasudah yuk siap-siap sebentar lagi masuk waktu magrib," ujar Aisyah.

Mereka pergi ke kamarnya masing- masing dan bersiap-siap untuk menunaikan ibadah sholat magrib.

Sisi Lain dari GusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang