"Kenapa kau tidak ikut saja bersama Sasuke?"
Pria bersurai merah yang tengah duduk disofa itu membuka suara saat Sakura keluar dari kamarnya. Entah apa yang dilakukan wanita itu dikamarnya selama satu jam.
Sasori tersenyum, pasti Sakura sedang merapikan kamarnya yang berantakan setelah pergulatan yang dia dan Sasuke lakukan tadi pagi, pikir Sasori.
"Aku tidak bisa meninggalkan rumah ku dengan kau yang berada disini sendirian, bisa-bisa kau membawa jalang dan akhirnya rumahku menjadi tempat maksiat"
Sasori mendengus mendengar penuturan wanita yang berusia satu tahun dibawahnya ini, "Hey! Kau tidak sadar diri? Tadi pagi kau juga bermaksiat disini." Cibir Sasori.
"Kenapa memilih tinggal disini? Kau punya banyak uang, kenapa tidak tinggal di hotel berbintang lima saja." Tanya Sakura kemudian merebahkan dirinya di atas sofa yang berhadapan dengan Sasori.
"Aku kan sudah bilang tadi, aku tinggal disini sekalian menjenguk adik sepupuku ini. Kau tidak ingin aku tinggal disini?" Kesal Sasori.
Laki-laki bersurai merah itu memutar bola matanya malas, entah sudah berapa kali Sakura mengajukan pertanyaan yang sama dari satu jam yang lalu.
"Bukan seperti itu. Hanya saja jika ayah dan ibumu tahu kau tinggal ditempatku, mereka pasti akan memarahimu."
Sasori berdecih, "Persetan dengan amukan dua orang tua itu."
"Hey! Mereka adalah orang tuamu." Bentak Sakura.
"Aku bahkan tidak menganggap mereka orang tua sejak enam tahun lalu."
Mendengar perkataan Sasori, membuat Sakura menatap laki-laki itu dengan tatapan sendu, "Maaf, ini pasti karena kau membantuku dulu, hubunganmu dengan paman dan bibi jadi merenggang."
Sasori menghela napasnya kasar, "Hey, kau tidak perlu minta maaf, itu bukan salahmu. Harusnya aku yang minta maaf atas ayah dan ibuku yang tidak mau menampungmu saat itu. Maafkan kesalahan ayah dan ibuku dimasa lalu Sakura, dan maaf karena baru menjengukmu sekarang."
Sakura tersenyum, "Tidak masalah. Aku sudah memaafkan keduanya. Aku senang Si merah ini masih mengingatku."
Laki-laki itu ikut tersenyum. " Hey dunia ini ternyata sangat sempit. Aku tidak menyangka jika kekasihmu adalah rival ku saat di Universitas."
Ucapan Sasori sukses membuat Sakura kembali merotasi bola matanya malas dan berdecih kesal ke arah Sasori, "Sudah berapa kali kubilang. Dia bukan kekasihku."
"Hey kau pikir aku bodoh. Aku tahu kau bukan perempuan gampangan apalagi jika sampai melakukan hal seperti tadi bersama laki-laki tanpa adanya ikatan."
"Kau salah menilaiku, Sasori." Ungkap Sakura dalam hati.
"Huh, terserah padamu yang pasti Sasuke bukan kekasihku dan aku bukan kekasihnya. Kami hanyalah atasan dan bawahan dan yang kau lihat tadi pagi itu karena kami hanya- mungkin terbawa nafsu dan suasana." Ucap Sakura.
Kening Sasori terangkat bersamaan dengan senyum meledek terbit diwajahnya, "Benarkah? Aku tetap tidak percaya jika hubungan kalian seperti itu. Kalin sudah melakukannya sampai di tahap mana?"
"Apa maksudmu?" Tanya Sakura.
"Hey. Tidak usah pura-pura polos, aku tahu kau pasti tahu maksudku."
"Huh, terserah padamu." Sakura benar-benar kesal dengan sepupunya ini.
"Hey, Sakura. Rumahmu hanya punya satu kamar? Lalu aku akan tidur dimana?"
"Disitu." Sakura menunjuk kearah sofa panjang yang tengah di duduki Sasori.
Sasori melongo, "Hey! Kau tega membiarkan tamu tidur disofa selama seminggu? Bisa-bisa badanku pegal-pegal setiap hari."
"Lalu kau mau tidur dimana? Kau ingin tidur dikamar bersamaku? Ini rumahku dan aku yang berhak menentukan kau tidur dimana dan juga kau bukan tamuku, kau hanya menumpang disini. Jika tidak suka kau bisa angkat kaki dan tinggal di hotel yang nyaman."
Sasori hanya mendengus kesal mendengar omelan Sakura yang sungguh panjang lebar itu. Pria merah itu sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Sakura.
"Sakura."
"Hmm"
"Selama enam tahun ini kau belum pernah mengunjungi rumahmu?" Tanya Sasori.
"Bukannya aku sedang berada dirumahku sekarang?" Jawab Sakura.
Jawaban itu membuat Sasori menghela napasnya berusaha sabar, "maksudku mengunjung rumah keluargamu."
Sakura menatap Sasori dengan malas, "Aku tidak punya keluarga jika kau lupa."
Sasori menghela kesal, "ya ya terserah kau saja. Kau sangat keras kepala. Itu sebabnya jidatmu sangat lebar dan keras." Laki-laki itu kemudian berdiri berniat pergi ke dapur setelah meledek dahi Sakura. Namun, suara Sakura lebih dulu menginterupsinya. Sasori melihat wajah kesal wanita gulali itu.
"Menyebalkan. Namun, sebenarnya aku pernah tidak sengaja bertemu dengan Karin beberapa hari yang lalu."
Sasori kembali duduk disofa, matanya kini fokus pada Sakura yang masih dengan posisi yang sama. Tidur terlentang di atas sofa.
Sakura tersenyum, "Dia tumbuh menjadi wanita karir yang cantik dan elegan. Ah, aku dengar dia menjabat sebagai CEO Haruno Group sekarang." Ujarnya.
"Kau tidak apa-apa? Maksudku apa kau tidak marah karena posisi itu seharusnya menjadi milikmu dan kini di rebut oleh Karin." Tanya Sasori dengan pandangan yang tidak lepas dari Sakura.
Sakura membalas tatapan Sasori. Wanita itu kemudian tertawa dengan penuturan Sasori, "Hey bodoh! Untuk apa aku marah, malah aku senang karena Karin yang menduduki posisi itu sekarang. Dia wanita cerdas, kompeten dan sangat optimis jadi Haruno Group pasti akan sangat sukses jika dia yang memimpinnya."
"Sejak dulu aku memang tidak berniat untuk masuk kedunia bisnis apalagi meneruskan perusahaan kakek. Kau juga tahukan cita-citaku sejak dulu ingin menjadi dokter, tapi aku tidak bisa mewujudkannya karena ayah menentang itu." Lanjutnya.
Sasori mengangguk membenarkan. Dia sangat tahu bagaimana kehidupan Sakura dulu, Gadis cantik yang sangat ingin menjadi dokter tapi keinginannya itu ditentang keras oleh sang ayah.
"Apa yang kalian bicarakan saat bertemu waktu itu?"
Sakura menatap langit-langit berusaha mengingat apa yang ia bicarakan dengan adiknya tempo hari, "Kami tidak banyak berbincang, hanya sapaan pada umumnya untuk dua orang yang baru bertemu setelah enam tahun. Tapi-"
"Tapi?"
Sakura kembali menatapa Sasori, "Aku rasa selain penampilan ada juga yang berubah dari adik kecil ku yang manis itu."
"Apa?"
Sakura tersenyum, "Kau tahu kan bagaimana kekuasaan dan jabatan bisa merubah sifat seseorang."
<•••>
Terimakasih kepada readers besartan fans Sasusaku yang sudah mampir ke cerita ini. Dan terima kasih banyak atas Vote dan komentnya ^^
All support from ya'll makes me happy
To be continue
KAMU SEDANG MEMBACA
DISTANCE [SASUSAKU]
Romantik(21+ content) character by masashi Kishimoto Story of Sasusaku Haruno Sakura adalah seorang perempuan yang hidup biasa-biasa saja. Namun, siapa sangka perempuan gulali itu punya masa lalu yang kelam saat masih duduk di bangku kelas 12 SMA (6 tahun l...
![DISTANCE [SASUSAKU]](https://img.wattpad.com/cover/343839426-64-k304315.jpg)