⚠️BXB WARNING⚠️
⚠️OHMNANON⚠️
⚠️21+⚠️
Nanon yang tiba-tiba memutuskan liburan seorang diri bertemu dengan Ohm Pawat yang selalu jadi topik pembahasan anak-anak dikelasnya.
Ohm Pawat yang merindukan orang tuanya di desa, akan berkunjung liburan kali i...
Ohm yang berada di mematung diantara pintu dapur, pelan menatap Nanon. Tatapan sedih, mata yang berkaca. Nanon hanya diam, dia merasakan kesedihan teman barunya itu tapi tak tau cara mengibur.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ohm berjalan ke dalam kamar dan menutup pintunya. Nanon tau Ohm butuh sendiri untuk sekarang. Ia ke ruang tamu dan mendapati si kembar telah menunggu ibunya bersiap berangkat ke sekolah dengan seragamnya. Nanon duduk di depan mereka dengan diam. Ibu mereka masih berteriak di dalam kamar, Masih terdengar oleh kedua anak kembar yang tertunduk diam. Bapak juga pasti sedang menemani ibunya, dan mereka akan terlambat ke sekolah jika tidak segera pergi.
"Hmm kalau kakak yang antar ke sekolah, Aldo Alda mau gak?" Sulit untuk Nanon mengingat Nama si kembar karena walaupun sudah lama dia berada di sana si kembar selalu pergi ke sekolah atau di bawa ibu entah kemana.
"Mau,," jawab Aldo. Dia segera turun dari kursi dan menyiapkan sepatu dan kaus kakinya. Aldo terlihat mandiri walaupun kaus kaki yang ia pakai sepertinya tinggi sebelah. Sedangkan Alda bergerak pelan. Dia mungkin terbiasa dibantu ibu untuk memasang kaus kaki dan sepatu. Nanon mendekat.
"Kakak bantu ya," Nanon memasangkan kaus yang memiliki pita-pita lucu pada kaki mungil itu dan memakaikan sepatunya. "Sudah." Nanon tersenyum menampakkan cekungan indah di pipinya membuat Alda yang selalu diam, juga tersenyum menatapnya. "Ayok!" Mereka keluar ruumah dengan menutup pintu depan yang di dahului Aldo berlari kecil meninggalkan Nanon yang memegang tangan Alda.
Lima belas menit perjalanan mereka telah sampai. Jika dengan kendaraan, motor misalnya. hanya beberapa menit saja telah sampai. Tapi Nanon baru tau cara memakai roda dua itu kemarin sehingga ia jelas tidak berani membawa anak kecil bersamanya.
Nanon melambaikan tangannya ketika sudah mengantar sikembar dengan selamat di depan kelas. Bel berbunyi saat mereka telah sampai di gerbang dan anak yang lain sudah masuk dalam kelas mereka. Nanon kembali ke rumah bapak dan ibu Ohm agar mereka tau bahwa si kembar sudah berada di sekolah.
Tapi sekembalinya Nanon, Masih saja terdengar teriakan histeris ibu dari dalam kamarnya. Awalnya Nanon ingin menunggu saja di ruang tamu, tapi terbayang lagi wajah Ohm yang sedih sebelum dia menutup pintu kamar. Nanon mengetuk pintu kamar dan membukanya. Memang kamar itu tanpa kunci. Melihat Ohm yang menangis saat itu memandang ke arah jendela kamarnya, Nanon perlahan mendekat. Ohm menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
Nanon hanya diam di dekat Ohm. Tidak tau cara menghibur tapi ingin menemani teman nya yang saat ini sedang bersedih. Terdiam menatap bawah dan memainkan jari jemarinya seolah itu mainan paling seru karena lima belas menit tanpa terasa berlalu. Ketukan pintu kamar Ohm menyadarkan mereka dari lamunannya.
Bapak membuka pintu kamar dan menghampiri Ohm. Tak ada lagi terdengar teriakan histeris dari luar kamar itu yang berarti ibu sudah tidak mengamuk lagi. Nanon berdiri.
"Aldo Alda saya antar ke sekolah pak."
"Makasih ya Nanon nanti bapak aja yang jemput mereka. Hmm Non, Boleh bapak ngobrol berdua dengan Pawat dulu?" Nanon hanya mengangguk dan keluar kamar. Tidak lupa menutup pintunya meninggalkan mereka.
"Bapak mau cerita boleh?" Bapak duduk di dekat Ohm dan Ohm yang memutar duduknya menghadap pada orang tua yang selama ini jarang ia temui. Dia mengangguk dan menghapus air matanya yang seakan sudah kering tapi tetap saja mengalir.
"Ibu punya trauma masalalu. Bapak kasih tau kamu dulu, Ibu sama bapak itu sayang sekali sama kamu. Ibu selalu mengharap kedatanganmu. Tapi terakhir kali kamu datang, Ibu saat itu benar-benar kambuh. Dia rindu kamu tapi tidak bisa ketemu kamu." Bapak melihat raut wajah Ohm yang heran, bingung, kecewa, penasaran. Tapi dia diam dan bapak tetap melanjutkan.
"Ohm Pawat, bapak tau kamu sekarang sudah beranjak dewasa, bisa memilah mana yang baik dan buruk juga bisa mengerti keadaan orang sekitar. Jadi bapak mau jujur sekarang bahwa bapak bukan orang tua biologis kamu." Ohm memandang wajah bapaknya yang ia pikir kata-kata bapaknya hanya gurauan.Tapi hanya keseriusan yang terlihat.
"Dulu, ibu pernah diperkosa oleh seseorang, walaupun dia melawan, dia tetap kalah. Orang itu punya badan yang besar dan ibumu sangat kecil. Dan selanjutnya ibumu hamil. Traumanya ada selama bertahun-tahun. Sejak ibumu tau dia hamil, dia hampir mengakhiri hidupnya berkali-kali. Kakekmu memenjarakan orang itu namun orang di sekitar mereka kasihan dengan ibumu. Dan itu membuat dia tersiksa. Akhirnya ibu di jodohkan dengan bapak dan di bawa ke desa ini. kami menikah empat bulan sebelum kamu lahir."
"Kehidupan rumah tangga bapak sama ibumu dulu sangat hambar. Kami tidak tidur di kamar yang sama, bapak bahkan jarang bersentuhan dengan ibumu. Bapak bekerja dan dia mengurus rumah. Ibumu masih tahap penyembuhan saat itu sampai kamu lahir. Memang dia sedikit tidak terima kehadiranmu, tapi bapak tau dia sayang kamu sejak bayi. Kamu sekaligus penyembuh saat traumanya kambuh. Hanya dengan memelukmu dia tidak mengalami mimpi buruk dan berteriak. Tapi saat kamu dua tahun, mungkin tidak ingat. Trauma ibumu kambuh. Bapak yang melihat ibumu hampir mencelakaimu, bapak bawa kamu pergi jauh dari rumah berhari-hari. Sedangkan ibu bapak titipkan pada saudaranya yang saat itu memang lagi berkunjung.
"Hampir dua minggu kita di rumah yang terpisah dari ibumu sampai bapak dengar dia mencarimu. Itu tandanya traumanya sudah hilang. Bapak bawa kamu pulang, tapi ibumu tidak bisa menyentuh dan memelukmu lagi. Tubuh ibumu bergetar dan membuatnya menangis. Saat itu saudaranya berkata, jika seperti itu sebaiknya kamu tinggal dengan mereka."
"Saudara ibumu belum memiliki anak selama delapan tahun. Mereka sangat senang saat kami berdua dengan terpaksa dan berat hati menitipkanmu pada mereka. Kami sangat bersyukur papa dan bundamu sayang denganmu seperti anak sendiri."
"Ibumu pernah sangat-sangat rindu kamu. Saat itu ibumu sedang mengandung dan ingin bertemu. Ya, lima tahun yang lalu saat kamu pulang kesini. Kami kira ibumu sudah bisa dan biasa karena perlahan ibumu tidak pernah bermimpi buruk. Traumanya hilang satu tahun setelah kamu pergi. Tapi ternyata kami keliru, Ibumu pingsan setelah kamu bersalaman dengannya. Kamu ingat?" Ohm yang mendengar dengan tetesan air mata yang terus mengalir, mengangguk.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dia masih tidak bisa bertemu denganmu atau bersentuhan denganmu. Paw, bukan karena kami tidak sayang padamu. Bukan karena ibumu tidak rindu padamu. Dia ingin sekali memelukmu, bicara padamu. Tapi dia harus menghindar darimu sementara. Dia harus membiasakan kehadiranmu tapi saat bertemu kamu kemarin, ibumu ternyata belum bisa. Tidak ingin dilihat olehmu kondisinya yang seperti itu, tidak ingin menyakitimu, dia memilih menghindar sementara dan berharap terbiasa akan kehadiranmu. Paw, sementara bisakah kamu mengerti keadaan ibumu?"
Ohm pawat paham apa yang di ceritakan oleh bapaknya. Dia mengangguk menundukkan kepala. Bapaknya memeluknya erat. "Anak kuat bapak, maafkan ibumu ya. Kita sama-sama berharap semoga ibumu sembuh. Sabar ya!" Masih saja terdiam Ohm dalam dekapan bapaknya.