⚠️BXB WARNING⚠️
⚠️OHMNANON⚠️
⚠️21+⚠️
Nanon yang tiba-tiba memutuskan liburan seorang diri bertemu dengan Ohm Pawat yang selalu jadi topik pembahasan anak-anak dikelasnya.
Ohm Pawat yang merindukan orang tuanya di desa, akan berkunjung liburan kali i...
Racha yang kini sudah bersekolah kembali bersama Nanon dan kepindahan mereka diurus oleh ayahnya, kini menjalani hidup dengan tenang.
Hutang yang menjerat dirinya tak lagi mengganggu. Rasa syukur dan bahagia sebagai ganti rasa sakitnya sebelum bertemu ayah nanon. Racha menghormatinya.
Awalnya Nanon sangat tertutup padanya. Sering mengurung diri dalam kamar. Bicara seperlunya. Dan Racha juga seperti itu, setiap kali bertemu hanya senyum. Tahap kedekatan mereka sangat lambat. Bahkan jika nanon dan racha harus pergi ke sekolah bersamaan.
Racha ingat, ia harus membuat nanon menyukainya. Membuat nanon jatuh hati padanya. Tapi sudah dua bulan ia tinggal bersama dan nanon bersikap acuh. Racha bukan anak yang gampang bergaul, ia juga tertutup. Tak mudah baginya membuka hati untuk dekat dengan orang lain.
Selama dua bulan, mulai dari hanya tersenyum manis hingga berpakaian minim ia berusaha dekat dengan nanon. Tapi nanon tak sedikitpun melirik padanya. Racha diperlakukan masih seperti tamu. Nanon memasak, nanon mengajaknya sarapan, membekalkan nasi untuknya, tapi tidak banyak yang dibicarakan.
Terlalu nyaman dengan kehidupan yang ia terima, Racha pikir tidak apa jika tak bisa membuat nanon menyukainya. Ia tak ingin kehilangan hangatnya tinggal bersama keluarga ini. Jika ia dan nanon berpacaran dan putus, racha pikir ia harus meninggalkannya. Perlahan niat racha untuk menggoda nanon hilang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dengan menganggap nanon seorang teman, nanon dan racha akhirnya menjadi teman dekat. Bercanda bersama, jalan kesana sini, hingga nanon mulai terbuka padanya.
Alasan Nanon yang tertutup, alasan Nanon yang tak pernah melirik pada rayuannya, akhirnya Racha tau. Itu sebabnya ayah nanon ingin mereka bersama. Itu sebabnya syarat hutangnya lunas hanya dengan membuat nanon jatuh hati padanya. Yang awalnya mungkin terlihat mudah bagi racha, tapi mengetahui faktanya Racha tak tau lagi harus bagaimana bersikap. Niat untuk membuat Nanon jatuh padanya sudah lama pudar. Bahkan ia saat ini menyukai seseorang disekolah mereka.
Nanon tau racha menyukai anak kelas lain, dan ia mendukung. Kadang kedekatan mereka juga disalah artikan, beberapa mengira mereka berpacaran. Nanon mendatangi laki-laki yang disukai racha dan berkata ia dan racha hanya teman.
Racha kini punya pacar. Ia senang dan bercerita apapun dengan nanon. Nanon yang sekarang menjadi sahabatnya mendukung perasaan racha walau ia tak yakin pada pacar sahabatnya itu.
Enam bulan berlalu sejak Racha tinggal di rumah milik ayah nanon.
"Saya ingin bicara. Saya tunggu di ruang kerja saya!" Malam hari setelah mereka makan, Racha diminta bicara berdua. Nanon yang tau raut wajah ayahnya memperlihatkan amarah, diam-diam ia mengikuti mereka dan mendengar apa yang mereka bahas.
Ayah nanon melempar beberapa foto racha bersama pacarnya dimeja kerja setelah Racha berada didepannya.
"Jelaskan!" Racha terdiam. "Saya sekolahkan kamu, bayar hutang kamu yang harganya lebih dari lima ratus juta, begini balasan kamu?" Racha kaget. Lebih dari lima ratus juta? Seberapa besar hutang orang tuanya. Bagaimana ia membayarnya jika itu sepertinya diluar kemampuannya. Pikirnya jika hanya dua ratus jutaan ia akan mencicil, tapi jika dihitung biaya sekolah dan makan mungkin sudah banyak jasa keluarga ini padanya. Tapi ditanya seperti itu, dia diam.
"Saya hanya minta kamu buat bikin anak saya kembali normal. Saya pikir itu sudah terjadi sampai saya lihat foto-foto ini. Jika saya tidak mencari tau, saya tak tau kamu membohongi saya."
"Tidak pak, saya tidak berbohong."
"Lalu ini apa?" Menunjuk pada foto-foto mesra racha bersama kekasihnya. "Saya pikir kamu pacaran dengan nanon. Saya pikir kamu sudah bagian dari keluarga kami. Ternyata saya salah. Kamu pacaran dengan orang lain."
"Maaf," racha kini sudah menangis. Dibentak oleh ayah nanon, menyadarkan kesalahannya.
"Saya ingin kamu rayu anak saya gimanapun caranya. Saya membayar mahal kamu bukan untuk jadi pelacur orang lain!"
Brak
"AYAH" Nanon membuka pintu. Ayahnya mengusap wajah kasar. Tau kata-katanya sudah kelewatan.
"Saya tagih hutang kamu dengan kesepakatan lama. Sekarang kamu pergi dari ruangan saya!"
Racha masih dengan tangisannya keluar dari ruangan diikuti nanon. Nanon berusaha menghibur Racha, memeluknya hingga tangis racha reda.
"Maaf Nan." Tak perlu banyak bicara, nanon sudah sadar sejak awal. Tau niat ayahnya, tau tindakan racha yang berusaha mendekatinya. Tak ingin menyalahkan sang ayah karna ia tau, ayahnya berusaha membuatnya normal seperti laki-laki kebanyakan. Tak juga ingin menyalahkan Racha karna apa yang ia alami dimasa lalu sudah sangat menyakitkan.
Tangis nanon juga mengalir, ini semua kesalahannya. Tanpa kata nanon melepaskan racha dan bergegas kekamarnya. Racha yang mengira sahabatnya itu marah padanya, mengejar nanon. Tapi yang ia lihat, nanon mengambil bingkai foto disamping tempat tidur dan menangis sangat kencang. Ia memeluknya sangat erat.
Racha sudah tau siapa yang ada difoto itu. Nanon cerita semua padanya. Tangis Nanon membuat hatinya kembali sakit. Lebih dari kata-kata kasar ayahnya, ia lebih sakit melihat nanon seperti ini. Karena sama-sama dalam kesedihan, Racha menutup pintu dan kembali kekamarnya.
Seminggu setelahnya, Racha mencoba menghindari pacarnya walau tak ada kata putus karena Racha yang sangat menyayangi pacarnya. Ia memikirkan cara agar terlepas dari hutang. Nanon yang sudah tau semuanya, tak bisa diam-diam dirayu.
"Nan, sorry, gue.." kata-katanya terhenti. Mereka sekarang berada dikamar nanon. "Lo tau, gue sayang banget sama lo nan. Sebagai sahabat, mungkin sebagai keluarga gue sendiri. Tapi nan, lo tau apa kesepakatan gue hingga bisa sekolah dan hidup enak begini."
"Lo mau kan, kita coba? Anggap sebagai terapi."
"Gimana?"
"Gue tidur sama lo."
"Hah?"
"Kalau lo nantinya punya nafsu sama gue, lo jangan mikir macam-macam. Gue serahin diri sama lo."
"Tapi cha?"
"Gue hanya tidur samping lo. Pelan-pelan Nan."
Malam itu racha tidur dikamar nanon. Pagi datang, tidak ada perasaan apapun, tidak ada nafsu apapun, tidak ada tindakan apapun yang terjadi. Hanya tidur bersama.
Setelah beberapa kali tidur bersama dan tak terjadi apapun, ada saat dimana Racha memergoki nanon bermain sendiri sambil memeluk bingkai foto. Tangannya memainkan miliknya dan mendesah.
"Cha" nanon kaget segera menyembunyikan miliknya.
"Mau dibantu?"
"Nggak. Lo boleh keluar dulu?"
"Tapi gue punya cara. Nan, lo kalo bayangin gue sebagai ohm bisa ga?"
"Maksudnya?" Racha mendekat. Nanon mundur.
"Bayangin gue ohm." Racha mengalungkan tangannya pada nanon. Mata Racha sudah memerah. Merasa bersalah pada nanon. Racha menciumnya, nanon mengikuti arus. Tak ada detakan tak ada perasaan apapun. Hanya kesedihan, melihat racha memaksakan dan merasakan ia tak menyukai ini. Nanon mendorong pelan racha.
"Maaf. Gue ga ngerasain apa-apa cha. Dan lo jangan maksain. Tolong!" Saat racha menciumnya, miliknya yang tadinya tegang kini tertidur.
"Hm" dengan sedih racha melepas lengannya dari leher nanon. Bukan karna nanon menolak, tapi karna rasa bersalah yang kuat pada nanon juga pada pacarnya.