Bunda Tetaplah Bunda

1.2K 50 6
                                        

Sementara itu seorang anak laki-laki sudah siap dengan ransel besarnya, sepatu dan jaket yang terpasang di tubuhnya, bersiap meninggalkan rumah. Di temani wanita paruh baya dengan rambut terikat ekor kuda.
"Kamu yakin ga mau bunda anter ke terminal bus? Nanti ada apa-apa. Bunda takut."
"Yakin bunda. Ohm bisa sendiri kok.. Ohm udah gede gini. Lagian kan ada mang Dadang juga tuh yang antar ke terminal. Bunda di rumah aja ya."
"Kamu cepat pulang dong. Nanti bunda sendirian loh ga ada kamu."
"Iya bundaku yang cantik. Dah, Ohm berangkat dulu ya bunda. Tadi sudah pamit sama papa sebelum dia ke kantor. Hati-hati bunda di rumah." Anak laki-laki itu mencium tangan si bunda.
"Salam sama ibumu. Bilang bunda belum bisa ke sana."
"Iya bunda."
Begitulah perpisahan sementara anak laki-laki dengan seorang wanita yang disebutnya bunda.

Seminggu sudah dia berjanji pada ibunya akan datang mengunjunginya saat liburan sekolah. Ibunya yg berada di desa. Nyatanya anak laki-laki yang menyebut dirinya Ohm memiliki dua orang tua. Papa dan bundanya. Bapak dan ibunya. Walaupun jarang komunikasi dengan bapak dan ibunya serta adik-adiknya di rumah, Ohm ingin sekali berkunjung ke desa, menemui keluarganya. Terakhir lima tahun yang lalu hanya empat hari.

Dia tau sang bunda sulit jauh darinya. Bukan karena Ohm anak yang manja, tapi bundanya terlalu sayang dan memanjakan Ohm. Hanya karena Ohm sadar diri bahwa dirinya bukan anak kandung dari papa dan bundanya, Ohm tidak berlarut dengan kemanjaan yang di tawarkan orang tuanya ini. Dia masih ingat memiliki orang tua lain.

Satu tahun yang lalu Ohm juga ingin pulang ke desa menemui keluarga kandungnya. Tapi saat hari Ohm mau pergi, bunda menangis tak ingin di tinggal. Takut Ohm tak mau lagi kembali ke dalam rumah ini katanya saat Ohm tanya mengapa. Alasan lainnya. Mereka juga tak mendapat kabar dari ibu dan bapak Ohm. Tapi dua hari yang lalu Ohm mendapatkan izin dengan sedikit bumbu tangisan dari sang bunda.

Dua hari yang lalu.
"Ohm, boleh gak kamu jangan pergi?"
"Bunda, Ohm kan hanya sebentar. Hanya mau ketemu bapak ibu Ohm. Atau bunda mau ikut? Biar kita sama-sama."
"Bunda gak bisa ninggalin papamu. Dia gak bisa apa-apa sendiri."
"Ya udah, papa ikut juga." Ucap Ohm pada papanya yang hanya diam mendengar percakapan mereka sambil mendengar siaran televisi yang entah benar-benar di tontonnya atau tak diperdulikannya.
"Papa kerja Ohm. Minggu-minggu ini banyak sekali proyek yang harus papa bangun. Apa lagi bulan depan, jadi harus papa persiapkan."
"Jadi izinin Ohm pergi sendiri pa,bun"
"Ohm mau ninggalin bunda?" Ucap sang bunda dengan nada yang sedih dan hampir mengeluarkan air mata. Papa hanya menggelengkan kepalanya tanda drama bunda mulai lagi.
"Ya nggak lah bun. Kenapa sih harus mikir Ohm ninggalin bunda."
"Ohm kata orang-orang kalau anak yang kita angkat itu akan ninggalin kita kalau dia sudah dewasa."
"Ih.. bunda mikirnya jelek banget bun. Kenapa sih mikirnya jauh. Ohm gak ninggalin bunda"
"Tuh mau pergi. Nanti kamu gak mau pulang lagi ke sini. Ga mau jadi anak papa sama bunda lagi". Ohm memeluk bunda.
"Ohm anak bunda kok. Bunda tetap bunda. Ga bisa jadi orang lain di hidup Ohm. Gitu juga papa. Kalian orang tua Ohm. Ya nggak mungkin lah mau ninggalin kalian. Ohm sayang ini sama kalian." Papa yang hanya menatap televisi, sedikit tersenyum mendengarnya. Dan pura-pura hanya menonton berita artis yang tersandung kasus di layar televisinya.
Bundanya saat di peluk dan mendengar perkataan lembut dari sang anak angkat malah menangis sejadi-jadinya.
"Anggap aja Ohm cuma liburan sebentar. Nanti Ohm pulang."

Ya, pulang. Ucap Ohm dalam hatinya. Ibu dan bapak yang terbilang sangat jarang Ohm temui bukan tempat pulang yang sebenarnya. Ohm dari kecil sudah dengan sang bunda. Entah alasan apa bapak dan ibunya memberikan Ohm kepada kakak kandung dari ibunya. Wanita yang disebut bunda sudah sepuluh tahun tidak di karuniai seorang anak padahal ia nikah saat masih muda. Di umur dua puluh. Sedangkan sang adik yang menikah di umur hampir kepala tiga, sudah diberikan anak.

Yang Ohm tau, kekayaan bapak dan papa sangat besar perbedaannya. Mungkin karna ingin anaknya jadi keluarga orang kaya,pikir Ohm. Ohm tidak mempermasalahkan itu. Karna orangtuanya yang sekarang ataupun yang kandung, sama-sama orang yang baik. Hanya saja Ohm tidak pernah mengobrol banyak dengan bapak dan ibunyanya di desa. Ohm ingin lebih mengenal mereka.

Jam sembilan pagi Ohm di antar supir ke terminal bus. Harusnya Ohm juga bisa di antar mang Dadang sampai desa. Tapi Ohm mau coba pergi seorang diri dengan bus agar punya pengalaman. Sang bunda tentu saja awalnya tidak mengizinkan. Tapi bujuk dan rayu Ohm akhirnya bunda mengizinkannya.

Tapi saat di pembelian tiket bus, Ohm sadar bus yang akan di tumpanginya sudah akan berangkat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tapi saat di pembelian tiket bus, Ohm sadar bus yang akan di tumpanginya sudah akan berangkat. Mak ia buru-buru berharap si bus masih menunggunya. Dan benar saja bus sudah mau bergerak maju saat Ohm melihat buntut nomor bus yang akan di tumpanginya. Iya sempat mengejar berteriak tunggu di samping bus. Untunglah si sopir melihat spion dan memberhentikan bus besar itu.

Ohm naik dan bus lanjut perjalanan. Hampir penuh bus itu tapi ada satu kursi kosong di belakang. Ohm yang tadinya ingin di bagian depan tapi sudah penuh mau tidak mau duduk di tempat yang tersedia. Disampingnya ada seseorang yang menutup wajahnya dengan jaket. Rupanya tertidur, pikirnya dalam hati. Padahal bus baru saja berangkat. Orang ini mungkin tidak tidur semalaman. Semoga dia tidak terganggu dengan tumpukan besar tas ini. Harapnya dalam hati saat tas di selipkannya di antara kakinya. Sayang sekali kakinya juga menyentuh orang di sebelahnya dan membuat orang itu sadar karena suara berisik dari Ohm. Dia membuka jaket yang menutup kepalanya, dan melihat siapa yang menyebabkan suara berisik itu.
"Maaf" ucap Ohm singkat. Orang itu terlihat kaget dengan keberadaan Ohm. Bagaimana tidak, dia kenal dengan Ohm tapi Ohm tak tau siapa dia. Dia menegakkan badannya mengatur duduknya berharap Ohm benar tak mengenalinya.

Rainbow MistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang