Pantai

535 28 0
                                        

Lebih dari satu jam Nanon hanya duduk diruang tamu seorang diri. Akhirnya pintu kamar Ohm terbuka. Bapak keluar dan memberi senyum pada Nanon.

"Non, bapak mau minta tolong. Boleh gak kamu temenin Paw di rumah singgah dekat pantai? Sampai ibu sembuh." Nanon hanya mengangguk tak mungkin dia menolaknya. Saat ini dia menghawatirkan Ohm. "Bapak mau jemput Aldo-Alda dulu. Sebentar lagi ada Jaka yang antar kalian ke rumah singgah di dekat pantai. Maafin bapak ya Non ada kejadian gini saat kamu liburan."

"Gak apa pak, Nanon ngerti walaupun gak tau masalahnya apa. Nanon bisa nemenin Pawat, bapak tenang aja,"

"Makasih Non, Kamu siap-siap ya mungkin kalian lansung pergi nanti. Bapak pergi dulu Non."

"Iya pak."

Setelah bapak pergi, Nanon masuk kedalam kamar, melihat Ohm yang sudah menyiapkan beberapa pakaiannya didalam ransel kecilnya. Matanya yang bengkak sepertinya sudah kehabisan air mata untuk keluar. Ohm hanya diam tanpa mengucapkan apapun. Dia malu, marah, merasa bersalah dengan Nanon. Rasanya tak ingin kejadian ini dilihat teman barunya. Rasanya dia ingin bersembunyi karena baru kali ini ia menangis dan dilihat oleh orang lain.

Nanon sudah menyiapkan barangnya dalam tas, masih ragu apakah hp yang telah lama ia matikan juga akan di bawa, dan memutuskan akan membawanya. Ia memasukkan benda pipih itu disakunya. Ketukan pintu terdengar, Karena Ohm masih diam dengan segala pikirannya, Nanon keluar untuk melihat siapa yang datang. Bang Jaka ternyata datang dengan membawa pick up bapak.

"Paw, ayo kita pergi!"

Sepanjang perjalanan yang kurang lebih tiga jam, Ohm hanya terdiam. Tanpa bicara banyak hanya mengangguk dan mengikuti intruksi dari bang Jaka yang telah mengantar mereka pada satu rumah. Rumah biasa yang akan mereka tinggali entah berapa hari.

Bang Jaka mengajak berkeliling mengenalkan lokasi kamar, dapur dan tempat lainnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bang Jaka mengajak berkeliling mengenalkan lokasi kamar, dapur dan tempat lainnya. Tempat itu terlihat nyaman. Sepertinya sering di tempati. Kata bang Jaka rumah itu sering di jadikan penginapan sama orang yang sedang berkunjung atau mau liburan ke daerah ini.

Ohm meletakkan tas nya sembarang dan mulai merebahkan diri di kasur yang terlihat empuk. Sudah siang. Bang Jaka membelikan makanan untuk mereka siang ini. Sepanjang perjalanan tadi sepertinya banyak cafe atau toko yang buka, ia sempat berhenti di satu tempat makan dan membungkusnya. Setelah mereka melahap nasi lengkap dengan lauk pauk yang kebanyakan hasil dari nelayan setempat, Ohm dan Nanon memutuskan untuk tidur siang itu. Cukup lelah mereka dengan cerita pagi ini. Nanon bahkan tidak ingin bersuara, apalagi untuk bertanya apakah Ohm baik-baik saja, atau menghiburnya. Karena Nanon tau itu semua akan percuma. Biarkan saja saat ini Ohm dengan kesedihannya.

Bang Jaka sudah kembali setelah mereka makan siang, sekarang hanya tinggal mereka berdua di rumah itu.

Jam empat sore, Ohm membuka matanya. Angin segar dari laut dan suara ombak sudah terdengar jelas di telinganya. Berbeda dengan saat ia datang, kini ia tertarik melihat laut. Saat sudah berada di teras ia baru sadar kehadiran Nanon di sana. Gua yang ajak Nanon liburan kesini, tapi gua acuh sama dia. Tuan rumah yang payah. Ohm bermonolog dengan batinnya sendiri.

"Non," Nanon menoleh. Dan hanya tersenyum menjawab panggilan Ohm.
"Maaf ya harus liat situasi gue disini. Maaf kalau bikin liburan lu ga happy."
Nanon menggeleng tanda ia tak setuju ucapan Ohm.

"Jalan-jalan yuk. Sekalian beli cemilan."

"Sekalian makan gak sih nanti?"

"Oke. Yok!"

Rumah yang mereka tempati hanya beberapa meter dari pantai sehingga mereka sudah merasakan pasir lembut ditelapak kaki mereka. Ohm hanya mengikuti Nanon yang turun dari rumah tanpa memakai alas kaki.

Nanon merentangkan tangannya dan menikmati angin laut serta bau lautan. Menghirup udara alam dalam-dalam dan mulai tersenyum.

"Lu suka laut?"

"Gak tau. Ini pertama kalinya gua ke laut."

"Non, lu gak pernah liburan ke pantai gitu?" Nanon menggeleng masih dengan senyumannya yang terlihat menyedihkan menurut Ohm. Padahal Nanon menganggapnya biasa saja. Untuk apa liburan? Dengan siapa akan pergi? Dan segala macam hal yang dulu sempat ia tanyakan pada diri sendiri. Saat ini juga jika bukan keadaan yang tiba2 saja membuat ia memutuskan untuk liburan.

"Ayok!" Ohm menarik tangannya ke arah menuju laut.

"Kemana?" Awalnya Nanon mengira Ohm mengajaknya berenang di laut. Dia tidak ingin membasahi pakaiannya. Tapi ternyata hanya sebatas membasahi kaki mereka diantara ombak yang sedang bekerajan. Buih putih yang mengenai kaki mereka seakan menggelitik diantara bulu kaki. Bermain air, berjalan sepanjang pantai sambil tersenyum dan tertawa membuat mereka lupa masalah tadi pagi.

Hari sudah mulai gelap, sepertinya matahari sudah lelah menyinari hari ini dengan kehangatannya. Biarkan sang matahari beristirahat dan menjadi tontonan dua anak laki-laki. Melihat matahari itu akan pulang ke tempat peraduan. Hanya duduk diantara pasir halus bergelut dengan pikirannya masing-masing.

Pikiran Ohm sedang bergelut, harusnya ia tak datang kesini dan menyakiti ibunya. Ohm ingat saat ibunya bergetar ketika ia menyentuh. Aku yang ingin memeluk ibu, aku yang ingin bicara banyak hal dengan ibu, aku yang selalu rindu, aku yang mengira ibu akan merindukanku. Kenapa ibu sama sekali tak mengunjungiku. Harusnya aku bertanya dulu sebelum datang kesini seolah tau mereka sedang menungguku.

Nanon melihat sepintas wajah Ohm, walau hari sudah gelap Nanon yakin Ohm sedang meneteskan air mata. Iya mendekat dan merangkul pundak Ohm. Tanpa malu Ohm menangis dipelukan Nanon. Tampa ragu ia memeluk Nanon mengeluarkan kesedihannya. Tangisan dengan suara kencang. Tak perduli basah baju Nanon oleh airmatanya. Hati Nanon ikut menangis melihat Ohm seperti itu. Dan airmata juga turun dari matanya. Badan Ohm bergetar karena tangisannya yang lepas.

Diantara gelapnya malam ada dua anak yang sedang berpelukan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Diantara gelapnya malam ada dua anak yang sedang berpelukan. Diantara deburan ombak, ada suara tangis yang jadi nyanyian pilu.

Rainbow MistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang