Ohm sudah masuk di mobil papanya. Suasana diam disepanjang jalan. Cukup lama mereka terdiam. Kadang Ohm mencoba bicara tapi papanya diam tak memperdulikan. Hingga mereka sampai dirumah.
Papanya membuka pintu dan langsuung duduk, Ohm menutup pintu. Bundanya yang saat itu mengira hanya suaminya yang datang, bwrteriak senang karna Ohm yang masih berada dekat pintu depan.
"Ohm, anak bunda. Kok gak bilang mau pulang? Bunda kira belum selesai. Kamu sama papa pulangnya? Motor kamu gimana. Ehh bunda sampe lupa. Duduk nak, kamu pasti capek." Ohm mengikuti bundanya berhadapan dengan sang papa yang saat ini menunjukkan wajah kesalnya.
"Pah" Bundanya yang bingung karna wajah suaminya yang marah kemudian melihat Ohm yang matanya sedikit sembab ingin bertanya ada apa tapi suara suaminya lebih dulu terdengar.
"Papa masih berharap salah dengar Ohm."
"Pa, maaf."
"Kamu jangan gila Ohm," nada papanya kini menjadi tinggi dan membuat bundanya heran. Suaminya benar marah pada Ohm.
"Ada apa ini? Pa?" Tanya sang bunda.
"Bisa kamu kasih tau bundamu hah?"
"Paa" ohm mulai meneteskan air mata. Jika bundanya tau, betapa besar rasa kecewanya.
"Kamu sadar kalo kelakuanmu diluar sana bisa bikin kami kecewa? Papa sekolahkan kamu baik-baik bukan untuk bertingkah gila seperti ini."
"Jangan pernah lagi berhubungan dengan dia!"
"Paa tapi,, tapi Ohm sayang dia pa."
"Sayang? Jika sayang bisa kamu anggap dia teman. Bisa kamu anggap dia sebagai adik. Bukan PACAR."
"Pa, Ohm, maksudnya apa? Bunda ga paham."
"Anak yang kamu banggakan ini bun, anak yang kita anggap sebagai anak sendiri, ternyata seorang homo. Dia pacaran dengan laki-laki."
Bundanya yang mendengar ungkapan suaminya bicara dengan rasa marah, kini diam mencerna semuanya.
"Bun, Ohm bisa jelasin."
"Kamu mau jelasin apa? Kalau kamu pura-pura? Kalau aja papa gak kesana dan dengar sendiri apa yang kamu bilang, saya gak akan percaya bahwa kamu penyuka sesama jenis." Sang bunda yang tadinya diam kini tubuhnya lemas dan terduduk disofa.
"Bunda," ohm ingin membantunya tapi tangannya ditepis kasar oleh sang bunda. Bundanya diam tapi air mata menetes dan tak mau melihat Ohm.
Ohm sakit melihat kedua orang tuanya yang memalingkan wajah darinya. Mereka sama-sama diam beberapa saat sampai papanya berkata. "Jangan pernah hubungi dia lagi!"
"Papa. Ohm sangat cinta dia. Tolong izinkan Ohm pa," lututnya kini menyentuh lantai, menunduk dan berkata dengan lirih.
"Jika kamu ingin tetap berada di keluarga saya, enyahkan pikiranmu itu. Kekamar sekarang. Renungkan!"
"Paa, Ohm mohon,"
"Laki-laki kodratnya dengan perempuan Ohm. Bukan sesama laki-laki." Mendengarnya membuat Ohm membayangkan senyum Nanon. Tapi aku sangat dan sungguh mencintainya pa.
"Sini hapemu!"
"Tapi pa,"
"Sini! Pergi ke kamarmu sekarang. Kita bicara setelah kamu normal!" Papanya menarik hape milik Ohm yang tadi sempat diletakkannya diatas tas. Menyita dan meninggalkannya bersama bunda yang sedang diam menangis.
"Bunda, maaf."
"Salah bunda apa Ohm sampe bikin kamu gak normal,"
"Bukan salah bunda. Tapi Ohm,," belum selesai Ohm bicara, bundanya juga meninggalkan dia seorang diri. Ohm duduk dan mengingat raut wajah kedua orang tuanya yang sangat kecewa padanya. Tetes demi tetes air mata keluar hingga suara isakan tangis yang tak bisa diredam lagi. Sakit hatinya jika memang harus berpisah dengan Nanon. Tapi tak ingin ia meninggalkan papa dan bundanya yang sudah menyayanginya sejak kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rainbow Mist
Romansa⚠️BXB WARNING⚠️ ⚠️OHMNANON⚠️ ⚠️21+⚠️ Nanon yang tiba-tiba memutuskan liburan seorang diri bertemu dengan Ohm Pawat yang selalu jadi topik pembahasan anak-anak dikelasnya. Ohm Pawat yang merindukan orang tuanya di desa, akan berkunjung liburan kali i...
