⚠️BXB WARNING⚠️
⚠️OHMNANON⚠️
⚠️21+⚠️
Nanon yang tiba-tiba memutuskan liburan seorang diri bertemu dengan Ohm Pawat yang selalu jadi topik pembahasan anak-anak dikelasnya.
Ohm Pawat yang merindukan orang tuanya di desa, akan berkunjung liburan kali i...
Mereka telah sampai pada tempat yang memang ingin di tuju ibu. Daerah yang punya bukit dan air yang bening. Tiga jam jarak yang di tempuh berlawanan arah jika ingin ke pantai. Ibu bilang karena sudah lihat pantai didaerah ini, mereka akan piknik didaerah lain yang belum pernah Ohm Nanon kunjungi.
Air sebening kaca yang hanya sematakaki, bukit kecil, halaman yang luas tempat mereka membentangkan alas dan menyimpan makanan serta barang, langit yang biru. Sekarang sudah jam sepuluh. Matahari mungkin saja bisa menyengat tapi si kembar yang bermain di air yang mengalir tenang mengharuskan Ohm dan Nanon ikut membasahi kaki.
Tidak terasa teriknya matahari karna suasana yang sejuk di tengah hutan. Bukan hanya mereka yang berada di sana untuk menikmati suasana kekeluargaan. Beberapa orang berpasangan ataupun bersama keluarga terlihat menikmati alam yang ada disekitar mereka. Anak-anak bermain air dan berlarian. Yang tua-tua sedang menyiapkan santapan dan ada pula yang memasang tenda.
Beberapa orang mencari tempat yang redup di bawah pohon yang tinggi tak jauh dari sungai yang mengalir. Sedangkan beberapa orang duduk di tengah teriknya matahari sambil sedikit membasahi diri dengan air yang sebening kaca.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nanon sedikit letih bermain bersama si kembar, ia menghampiri ibu. "Pak, biar aku aja yang bantu ibu. Bapak boleh duduk-duduk kok." "Idih, calon mantu bapak udah pandai ambil hati camer." Nanon yang mendengar bapak bicara seperti itu membuatnya malu. Ternyata bapak juga tau tentang mereka. "Bapak mau ke anak-anak dulu." Tinggallah Nanon dan ibu yang sibuk menyiapkan makan siang mereka.
Ohm menghampiri Nanon yang sedang memegang handuk, yang memang ia siapkan untuk si kembar jika mereka sudah puas bermain air. Tapi melihat Ohm yang basah, Nanon sepertinya harus memberikan handuk itu padanya. "Sayaaang" Nanon membuka matanya lebar, kaget akan ucapan Ohm. Untung saja dia berdiri sedikit jauh dari orang-orang.
"Lu gila. Manggil gue kayak gitu di depan umum. Ada yang denger Paw"
"Liat-liat dong Paw." Mereka menemui ibu yang sudah siap dengan makan siangnya.
"Makan dulu ya kita. Nanti deh abis makan, kalian baru puas-puasin pacarannya"
"Hah?"
"Kenapa Paw?"
"Maksud ibu gimana ya bu?"
"Ya nanti baru pacarannya. Kita makan dulu"
"Pacaran? Ibu tau aku pacaran sama Nanon?"
"Tau laah. Emang ibu ga boleh tau ya kalau kalian pacaran?"
"Bukan gitu bu. Emang ibu ga masalah?"
"Nggak tuh. Ibu malah seneng" Ohm senyum mendengarnya. "Udah ahh panggil bapak sama adekmu ya Paw kita makan dulu."
"Oke" Ohm berlari memanggil bapak dan adiknya, kembali ke tempat mereka dan memulai makanan mereka.
Sore hari setelah istirahat dan bersantai, Ohm dan Nanon memisahkan diri dengan yang lainnya. Berjalan menghindari keramaian. Mereka duduk di atas batu menghadap air yang mengalir.
"Bapak sama ibu tau kita pacaran Non, dan mereka ga masalah."
"Iya. Ibu tau semalam kita ngapain, jadi ya udah gue jawab jujur kalau kita pacaran."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hah maksud lu? Ibu tau kita ngapain di kamar?" Nanon mengangguk. "Ihh malu banget gue." "Kenapa malu."
"Ya lu kalau ortu lu tau, lu ngewe malu ga?"
"Iya sih. Tapi untung aja mereka terima gitu ya. Kita kan cowok sama cowok."
"Kalau semua orang kayak gini gue mau terus-terusan sama lu Non. Haha, gue jadi pengen lu jodoh gue sih. Enak banget kalau gini ya. Nanti di sekolah kita bisa pegang tangan, bisa makan bareng di kantin, bisa pulang pergi ke sekolah bareng Non." Ohm yang bersemangat bicara membuat senyuman Nanon hilang perlahan.
"Paw, lu lupa perjanjiannya?"
"Perjanjian apa?"
"Hhh... Kita pacaran sampe gue pulang Paw." Ohm terdiam. Ia bahkan lupa akan perjanjian itu. Dia tak ingin. Dia mau tetap berstatus pacaran dengan Nanon. Dia sudah jatuh pada laki-laki manis yang ada disampingnya. "Dan sebenarnya Paw, gue harus pulang besok." Semakin sakit hatinya mendengar itu. Tak terasa setetes airmatanya jatuh.
"Hei.. lu nangis Paw. Jangan nangis." Nanon menghapus air yang tersisa dipipinya.
"Kenapa besok Non? Tiba-tiba?"
"Bokap gue nelpon pas hape aktif kemarin. Disuruh pulang cepet. Tapi mau sama lu lebih lama disini." Kembali lagi Nanon harus sedikit berbohong. Alasannya untuk tetap menemani Ohm sudah hilang dan jika ia terus bersama Ohm. Ia harus cepat pergi sebelum perasaan mereka kuat. Tapi Ohm tak ingat ia telah mematahkan kartunya jadi dua.
"Lu sih pake aktifin hape. Non, boleh ga kita tetep pacaran?" Nanon menggeleng sedih. Ohm menggenggam tangannya, mengarahkan pada kedua pipinya, dan mencium telapak tangan Nanon. "Gue ga mau. Non, gue kayaknya udah sayang banget sama lu. Ayok tetep sama-sama?" Sekali lagi Nanon menggeleng. Kali ini dengan air matanya karna saat Ohm mencium tangannya, ia tau perasaan Ohm seperti apa, dan harusnya tak seperti itu.
"Paw, tolong ya. Jangan bikin gue berat buat pisah sama lu. Gue sama lu cowok Ohm, kita gak bisa bertahan lama. Hidup harus realistis, ya sayang?" Tetesan air mata Ohm kembali mengalir. "Bisa kan? Gue mohon.."
Melihat wajah Nanon, Ohm menganggukkan kepalanya. Tapi pikirannya terus berkata, 'gue ga mau Non. Nanti pas sekolah bakal gue kejer lu'. Begitulah pikir Ohm. Ia menghapus air matanya. Karena memang perjanjian mereka hanya sampai saat mereka kembali, Ohm harus sabar. Nantinya setiap hari juga ia akan bertemu disekolah.
Setelah berjam-jam bicara berdua, mereka kembali. Ibu dan bapak sudah membereskan semuanya. Mereka siap untuk kembali ke rumah dan beristirahat.